Gelar Tradisi Budaya di Jantung Kota Surabaya

“Kepedulian warga dalam menjaga tradisi budaya patut diapresiasi, sebab kekuatan sebuah bangsa terletak pada masyarakat yang menjunjung tinggi adat budayanya melalui nilai-nilai sejarah dan toleransi terhadap sesama”

Tampak ratusan warga Kalibutuh Timur beserta belasan becak berhias merah putih berkerumun di Jalan Tidar, Kota Surabaya, Minggu pagi (15/07). Kerumunan yang menarik perhatian tersebut merupakan sekelompok masyarakat yang turut berpartisipasi dalam gelar tradisi sedekah bumi, yang rutin dilaksanakan tiap tahun di Pesarehan R.A Pandansari. Warga kota Surabaya sendiri banyak yang tak tahu keberadaan makam kuno ini lantaran letaknya yang tersembunyi. Pesarehan R.A Pandansari terletak dibalik himpitan gang Kalibutuh Timur, di belakang pengrajin knalpot Jalan Tidar No. 122 Kota Surabaya.

Sedekah bumi yang rutin dilaksanakan pada bulan Selo, hari Minggu Legi ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa membabad alas di wilayah itu. Dengan suka cita warga Kampung Kalibutuh Timur, Kelurahan Tembok Dukuh, Kota Surabaya bergotong royong membuat puluhan nasi tumpeng dan gunungan buah untuk disajikan pada sedekah bumi tersebut. Setelah pembacaan doa, tumpeng buatan warga dikirab keliling kampung dengan mengenakan busana tradisional.

Sedekah bumi ini semakin semarak dengan ditampilkannya kesenian tradisional berupa Reog dan Ludruk sebagai pusaka budaya Jawa Timur. Tak sedikit warga Surabaya yang melintas di Jalan Tidar dan Kalibutuh berhenti sejenak turut menyaksikan kemeriahan tersebut. Sesampai di Pesarehan R.A Pandansari gunungan buah yang telah menjalani kirab diperebutkan oleh warga. Pria wanita, tua muda sangat antusias mengikuti prosesi budaya ini, diantara mereka sangat bangga mendapatkan buah dari gunungan tadi. “Gunungan Buah” mempunyai filosofi yang bermakna sekecil apapun Pemberian-Nya harus kita syukuri dan jangan pernah lelah dalam berusaha meski penuh rintangan.

Kemudian acara ditutup dengan “Barikan”, santap tumpeng bersama. Tak lupa hadirin dari berbagai elemen juga memberikan sambutannya. Suasana guyub rukun kental terasa, ternyata Bhineka Tunggal Ika masih tersaji di tengah kota yang gemerlap ini. Kota yang dikenal sebagai metropolis terbesar kedua di Indonesia, dengan puluhan prestasi, yang masih memegang teguh kearifan lokalnya. Kepedulian warga dalam menjaga tradisi budaya ini patut diapresiasi, sebab kekuatan sebuah bangsa terletak pada masyarakat yang menjunjung tinggi adat budayanya melalui nilai-nilai sejarah dan tolerensi terhadap sesama. (wan/TS)