Generasi millenial Surabaya jaman now mungkin mengenalnya sebagai nama gedung kesenian yang terletak di Jalan Gentengkali, Kota Surabaya. Namanya yang unik bahkan cenderung lucu itu dianggap oleh generasi muda Surabaya masa kini sebagai nama yang biasa. Mereka tak tahu siapa sosok dibalik nama tersebut. Sosok yang rela mati demi bangsanya, yang setengah hidupnya dihabiskan untuk berkesenian, yang kesehariannya dekat dengan wong-wong cilik. Bulan Agustus merupakan bulan yang sangat sakral bagi segenap masyarakat Indonesia, pada bulan ini diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Hari Minggu (05/08) redaksi Teras Surabaya bersama komunitas Surabaya Historical dan The Luntas melaksanakan Giat Bhakti Budaya dan Ziarah Kebangsaan di pusara Cak Durasim, sebagai peringatan atas jasa-jasanya yang bertepatan dengan bulan wafat sang pejuang budaya itu.

Terlahir pada tahun 1890-an dengan nama Gondo Durasim, di sebuah dusun kecil di daerah Jombang, Jawa Timur. Masyarakat lebih akrab menyapanya dengan panggilan Cak Durasim. Meski bukan dari kalangan priyayi yang berpendidikan tinggi, Cak Durasim merupakan sosok yang cakap. Ia mudah bergaul dengan siapa saja. Perjalanan hidupnya mudah diriwayatkan dengan beberapa kata “Ludruk, Wong Cilik, Eksperimental dan Rela Mati demi Bangsa”. Ia merupakan seniman yang terlahir dari hati rakyat. Pelaku seni drama tradisional Jawa, yang mengembara dari dusun ke dusun memberi penghiburan pada masyarakat di akar rumpun.

Ludruk merupakan tranformasi budaya yang mengerucut menjadi kesenian lokal. Kesenian rakyat yang bermula dari Bandan, Lerok, Besut hingga menjadi Ludruk itu sendiri. Tadinya ludruk hanya menampilkan kelucuan-kelucuan yang mengangkat realita kehidupan masyarakat kelas bawah. Sehingga dengan cepat kesenian ini mampu memikat dan disukai oleh semua kalangan. Namun pada tahun 1930-an, pagelaran ludruk mulai banyak mementaskan lakon-lakon serius berjudul kontroversial, yang tak sedikit menyinggung kebijakan penguasa di masa itu.

 

Kirim doa di makam Cak Durasim

Tahun 1930 Cak Durasim melalui “Loedroek Organizatie” yang dibentuknya menghimpun para seniman besut di wilayah Karesidenan Surabaya, yang saat itu jumlahnya sangat banyak. Dengan terbentuknya organisasi tersebut, ludruk mulai memantapkan isi. Ludruk bukan sekedar entertainment bagi wong cilik, melainkan sebagai wacana kesenian untuk melawan ketidak adilan penguasa. Dalam sebuah pertemuan akbar bersama para pemain besut & ludruk, pengrawit, tukang tembang dan penari tandhak, Cak Durasim mulai merumuskan pakem-pakem ludruk modern, agar kesenian ini lebih populer, kritis dan mendidik masyarakat tentang kesadaran berbangsa.

Buah pemikiran Cak Durasim bersama seniman tradisional besut dan ludruk dituangkan dalam susunan pentas ludruk gaya baru yang nyaris sempurna. Ludruk menemukan ruhnya. Ludruk yang dahulu hanya berisi lelucon-lelucon ala wong kampung dan terkadang diselipi mistik Jawa, kini lebih intelektual dan terstruktur. Ludruk dibuka dengan tarian Remo, kemudian Welud (akronim wedok’ane ludruk atau bedhayan), Kidungan (berisikan jula juli & parikan), Guyonan dan Sandiwara (cerita utama yang diselipi guyon) yang kesemuanya memiliki makna masing-masing. Ludruk memberikan pelajaran kepada masyarakat mengenai bagaimana menjalani kehidupan dengan sederhana, tidak neko-neko namun tetap kritis di tengah situasi.

Sebenarnya, pada tahun 1920-an ludruk telah mengalami persaingan global menghadapi masuknya seni-seni modern asal eropa, yang saat itu dibawa Belanda ke tanah Jawa. Kesenian tersebut antara lain Opera, Stamboel, Dardanella, Komidi, Film Bisu dan lain sebagainya. Meski berbeda ekspektasi, ludruk sebagai tuan dirumahnya sendiri harus tampil istimewa di mata rakyat. Cak Durasim sang pembaharu seni rakyat ini beranggapan bahwa ludruk adalah simbol kesetaraan, “Kelas boleh berbeda, tetapi mutu tak boleh kalah”. Baginya ludruk bukan sekedar tontonan, namun tuntunan untuk membangun mental rakyat. Rakyat berhak mendapat hiburan yang sama. Rakyat layak diberi hiburan yang murah meriah agar senantiasa hatinya riang.

Atas kepiawaiannya di bidang seni rakyat, Dr. Soetomo selaku founder Kebangkitan Nasional dan tokoh pergerakan GNI mengajak Cak Durasim dari Loedroek Organizatie dan kawan-kawannya bersinergi dalam membangun bangsa, merintis cita-cita merdeka. Pada masa ini ludruk berfungsi sebagai hiburan sekaligus alat penerangan kepada rakyat. Oleh para seniman, ludruk digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan Kemerdekaan yang berisikan semangat nasional. Berbicara tentang GNI (Gedung Nasional Indonesia) kurang lengkap tanpa mencantumkan nama Cak Durasim. Gedung GNI yang terletak di Jalan Bubutan, Kota Surabaya itu dibangun secara gotong royong dengan dana urunan warga Indonesia. Cak Durasim rela nobhong ludruk, keluar masuk kampung demi mendapat uang saweran, yang kemudian hasilnya disumbangkan untuk pembangunan Gedung GNI.

Secara swadaya komunitas SHC memperbaiki patung Cak Durasim yang telah usang

Puncak perjuangan Cak Durasim ketika jaman Jepang tiba. Saat dirinya nobhong ludruk di daerah-daerah, ia melihat kehidupan rakyat sangat memprihatinkan. Para pemuda ditangkapi oleh tentara Jepang untuk dijadikan romusha, sehingga mereka pergi meninggalkan desanya dan menjadi gelandangan di kota. Apa yang dirasakan rakyat, dirasakan pula oleh Cak Durasim. Hatinya terketuk, jiwanya terpanggil. Ia semakin gencar melawan pemerintahan Jepang, ludruk dijadikannya sebagai medan juang. Hingga pada sebuah pementasan, dengan berani Cak Durasim melantunkan parikannya “Bekupon omahe doro, melok nippon tambah soro” dan “Kentang karo gubis, Jepang menang wong Jowo ngemis”. Pemerintah Jepang yang mengetahui akan hal itu bagai minyak disulut api, Cak Durasim dianggap melakukan subversif dan seketika mencari keberadaannya.

Jadwal nobhong ludruk Cak Durasim yang begitu padat menyulitkan Jepang menangkap dirinya. Keberadaannya tak dapat dipastikan karena selalu berpindah-pindah tempat. Namun akhirnya ia dapat ditangkap di Dusun Mojorejo, Jombang setelah melakukan pentas ludruk. Cak Durasim dijebloskan di penjara Kempetai Surabaya melalui siksaan yang bertubi-tubi. Selepas dari penjara, Cak Durasim menderita sakit dan menghembuskan nafas terakhir-nya di usia 50 tahunan, pada Senin 7 Agustus tahun 1944, setahun menjelang Indonesia Merdeka. Ia di makamkan di Pemakaman Islam Tembok Gede, Surabaya. Diatas pusaranya dibangun patung setengah dada, sosoknya mengenakan udeng dan jas berwarna merah putih sebagai perlambang keberaniannya membela bangsa.

Sang pejuang budaya itu telah pergi untuk selama-lamanya, namanya diabadikan menjadi nama gedung kesenian dan nama kampung tempat ia pernah bermukim. Pak Machfud juru rawat makam di Pemakaman Islam Tembok Gede, Surabaya, menuturkan “Pada beberapa kesempatan Cak Kartolo juga pernah menyambangi makam Cak Durasim. Selain berkirim doa, Cak Kartolo juga menarikan remo tanpa musik di dekat pusara Cak Durasim sebagai penghormatan kepadanya”. Ojok ngaku Arek Suroboyo nek gak tau ndelok ludruk !! (wan/TS)