Namanya Pak Pi’i, pria paruh baya berpenampilan sederhana ini sehari-harinya berjualan koran dan menjajakan mainan tradisional berupa pesawat-pesawatan dari kayu. Berjualan mulai pukul 6 pagi hingga pukul 2 siang. Lokasi jualannya terletak di traffic light jl. Sulawesi – jl. Sumatra atau sisi utara Taman Persahabatan. Pak Pi’i termasuk sosok yang sangat konsisten berjualan mainan tradisional tersebut, kami ketahui beliau berdagang disana sejak tahun 2008.

Harga satu buah pesawat kayu yang beliau tawarkan juga cukup murah hanya 10.000 rupiah, tidak sebanding dengan cara pembuatannya. Mainan jadul ini juga mempunyai kelebihan, yaitu sangat aman bagi anak-anak karena tidak mengandung merkuri, timbel dan sejenisnya, serta sangat edukatif bagi si kecil untuk memperkenalkan dunia dirgantara. Tidak hanya untuk mainan saja, dijadikan pajangan juga bagus, karena mainan ini mempunyai nilai seni.

Dari sekian banyak penjual mainan, Pak Pi’i bisa dianggap sebagai pelestari dolanan tradisional di kota Surabaya. Bisa saja beliau menjual mainan plastik buatan pabrik, namun tidak dilakukannya. Karena beliau ingin anak-anak Indonesia tumbuh dan berkembang layaknya anak seusianya.

Mampukah Pak Pi’i dan mainan tradisionalnya bertahan di tengah derasnya perkembangan teknologi ?

(wan/TS)