Tiga orang pria berbaju hitam-hitam tampak mengendap-endap, membawa barang di pundaknya. Ternyata, mereka sedang mengambil bahan makanan untuk dibagi-bagikan kepada rakyat, yang saat itu mengalami kesusahan akibat dijajah Jepang. Selanjutnya salah seorang diantara pria tersebut ditangkap oleh tentara Jepang, dituduh sebagai mata-mata dan menjalani siksaan.

17 Agustus 1945 berita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia menyebar hingga Surabaya dan disambut suka cita. Namun sekelompok orang-orang Belanda di Hotel Yamato Jalan Tunjungan mengibarkan benderanya dan berhasil digagalkan oleh Arek-arek Suroboyo. Setelah itu, pria tua yang bernama Matosin memimpin Arek-arek kampung untuk merebut senjata tentara Jepang di Don Bosco dan Gunungsari. Bahkan kejadian-kejadian lucu juga menghiasi pergerakan Matosin.

Bulan Oktober 1945 tentara sekutu menginjakkan kaki di Surabaya. Mendengar kabar itu Arek-arek Suroboyo tak terima dan melancarkan aksinya. Dentuman bom menggelegar, ribuan butir peluru dimuntahkan untuk menjebol pertahanan tentara Inggris. Pada pertempuran fase pertama ini, Matosin seorang pria tua yang buta huruf, memimpin pasukannya di medan laga demi menjaga kemerdekaan bangsanya. Korban dari kedua belah pihak pun berjatuhan dan tentara Inggris harus mengakui kekalahannya.

Pertempuran meletus kembali, 10 Nopember 1945 Arek-arek Suroboyo dibawah pimpinan Kompi Matosin juga turut menyabung nyawa. Pasukan yang berisikan para korak, berandal hingga bekas narapidana ini menggempur seluruh kekuatan tentara Inggris di berbagai penjuru kota Surabaya. Melalui penyergapan-penyergapan yang heroik mereka lumpuhkan kedudukan musuh. Saat para pejuang mundur keluar kota, Kompi Matosin masih berada didalam Kota Surabaya melakukan pencurian logistik maupun amunisi milik tentara Inggris. Dan pihak musuh pun dibuat kalang kabut atas ulahnya.

Rupanya kisah diatas yang mendebarkan dan heroik itu merupakan sebuah drama kolosal berjudul “Selongsong Yang Terserak” diangkat dari kisah nyata yang diperankan oleh anak-anak muda Kota Surabaya yang tergabung dalam “Front Kolosal Soerabaja” hari Minggu pagi tanggal 24 Februari 2019. Drama kolosal yang menyajikan kisah-kisah perang Surabaya tersebut ditampilkan tiap bulan oleh Museum 10 Nopember, di Komplek Tugu Pahlawan untuk menghibur pengunjungnya melalui pertunjukkan visual, supaya masyarakat ingat dengan peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di kotanya.

Vika Putri Mariana salah satu pengunjung Museum 10 Nopember, mahasiswi perguruan tinggi swasta di kota Surabaya, yang juga menyaksikan drama teatrikal berjudul Selongsong Yang Terserak mengatakan “Dramanya keren banget, aku merasa ada di dalamnya. Selain kisah perang juga ada cerita humornya, aku sama teman-temanku sampai ketawa. Seru sekali, pesan sejarah yang disampaikan melalui drama ini dibalut dengan hal-hal keseharian. Kami yang nonton jadi gak bosan mengikuti ceritanya” pungkas gadis berambut sebahu itu. (cw/TS)