Kembali Ditemukan Pasak Kuno Di Jalan Karet

Setelah melakukan pembersihan dan pengecatan, Pemkot Surabaya konsisten benahi kawasan “Kota Tua Surabaya” di Jalan Karet dengan membangun trotoar berstandar internasional. Dibangunnya pedestrian ini supaya masyarakat dan turis yang akan berkunjung di kawasan kota tua merasa nyaman.

Tak ingin Surabaya hanya dijadikan transit oleh wisatawan mancanegara, Pemkot Surabaya terus berupaya melakukan pembenahan di beberapa sudutnya. Hal ini dilakukan tak lain supaya pendapatan daerah dari sektor pariwisata terus bertambah. Mengingat banyak sekali usaha kecil menengah binaan Pemkot yang harus memutar roda ekonominya.

Saat pembangunan trotoar Jalan Karet Rabu lalu (15/05) ditemukan lagi sebuah pasak besi kuno di kedalaman 30 cm dari permukaan tanah. Pasak itu dalam istilah asing disebut “Bollard”, bermakna tonggak vertikal yang digunakan untuk tambatan kapal, kapal derek dan sejenisnya. Temuan ini pun kemudian dimuat oleh harian Jawa Pos pada hari Kamis (16/05).

Hari Minggu siang (19/05) pegiat sejarah dari komunitas Surabaya Historical juga turun ke lokasi untuk meninjau. Awalnya benda kuno ini ditemukan secara tak sengaja oleh para pekerja saat menggali bakal saluran air (drainase), selanjutnya temuan itu dilaporkan kepada pelaksana proyek. Sang pelaksana melaporkan ke atasannya, kemudian sang atasan meneruskannya ke dinas terkait dan diturunkan tim ahli (Sejarawan) ke lokasi temuan pasak.

Tempat temuan pasak kuno yang kebetulan berada di bakal pembangunan saluran air

Karena ditemukan tepat dibawah bakal pembangunan saluran air dan pertimbangan prioritas, serta telah melalui kajian ahli, maka pasak besi kuno peninggalan abad 18 itu diputuskan untuk ditaruh di Museum Surabaya, Jalan Tunjungan No. 1, Kota Surabaya. Temuan kali ini cukup bagus karena sesuai prosedur yang jelas. Tak seperti temuan yang pertama (tahun lalu), terkesan ditutup-tutupi dan menyalahi aturan eskavasi dalam menangani benda sejarah.

Lagi-lagi ada kelompok yang cari panggung dalam penemuan pasak pertama, yang secara sadar atau tidak merusak jalannya sejarah kota ini. Bahkan untuk menutupi kesalahan, kelompok ini mencoba mengalihkan isu bahwa temuan pasak besi yang pertama bukanlah tambatan, melainkan pasak besi biasa. Nahasnya banyak orang dalam kelompok tersebut yang mengamininya tanpa menelusuri riwayat pasak tersebut. Padahal Adrian Perkasa, Dosen dan Sejarawan dari Universitas Airlangga Surabaya mengatakan pasak itu adalah pengikat sandaran kapal (tambatan) sungai Kalimas abad 18 dan data ini telah dikuatkan oleh Tim Ahli Cagar Budaya Pemprov Jatim melalui penelitian kawasan kota tua beberapa tahun yang lampau. (cs/shc)