Demi Tuhan bila para pahlawan kita melihat kenyataan saat ini, pasti akan mengutuk atas hilangnya tempat-tempat bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan “Arek-arek Suroboyo”. Dengan berat hati kabar duka ini harus disampaikan pada masyarakat. Di ulang tahunnya yang ke 726 pada 31 Mei 2019, Kota Surabaya harus menerima kado pahit, yaitu lepasnya Benteng Kedung Cowek ke tangan swasta. Mau tidak mau, bisa tidak bisa masyarakat Surabaya yang masih mengalir darah pejuang harus menerima kenyataan ini. Dilansir oleh harian pagi SURYA dan media online TribunJatim.com pada Kamis bulan Mei (23/05) “Benteng & Bunker di Kaki Suramadu Jatuh ke Pihak Swasta” membuat hati ini teriris. Dosa apa kota Surabaya !

Benteng atau Batere Pertahanan Kedung Cowek merupakan sarana militer yang dibangun oleh Belanda pada awal abad 20, guna persiapan Perang Dunia 2 di Asia Timur Raya (Pasifik) untuk menghadapi militer Jepang. Memang dalam peta Surabaya tempo dulu benteng ini tidak tercantum, karena fungsinya sebagai obyek militer yang bersifat rahasia. Benteng Kedung Cowek juga mempunyai catatan sejarah Perang 10 Nopember 1945, yang merupakan cikal bakal berdirinya Batalyon Arhanudse 8. Benteng ini sempat diduduki “Laskar Sriwijaya” yang mahir menggunakan artileri pertahanan udara (bekas Heiho) untuk menangkis dan menyerang pertahanan Inggris yang berada di Tanjung Perak. Setelahnya benteng ini difungsikan sebagai gudang amunisi militer Indonesia dan ditutup kegunaannya pada akhir 90-an.

Harian Pagi SURYA

Apabila mengacu pada UU RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang tercantum pada Pasal 5 bahwa “Benda, bangunan atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria : Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan, dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa”. Jika merujuk pada Undang-undang tersebut, kita dapat menyimpulkan sendiri status apa yang tepat dan layak untuk Benteng Kedung Cowek, Benteng’e Arek-arek Suroboyo.

Menanggapi berpindah tangannya Benteng Kedung Cowek ke tangan swasta, para Pemerhati Sejarah Surabaya menyatakan kemungkinan buruk yang akan terjadi, yakni :

1. Setelah di Ruislag (tukar guling) kini Benteng Kedung Cowek dikuasai oleh perusahaan swasta berskala nasional. Statusnya yang belum ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya, memudahkan pihak swasta untuk membongkarnya.

2. Posisi Benteng Kedung Cowek sangat strategis, letaknya berada di selat Madura dan pesisir Surabaya. Tak jauh dari akses Jembatan Suramadu dan Tanjung Perak jika melewati perairan. Posisi Benteng Kedung Cowek jauh dari pemukiman warga, dalam kajian amdal sangat cocok didirikan pabrik, hotel, apartemen atau superblock.

3. Sebenarnya kabar Ruislag ini sudah lama tercium dan mengapa penanganannya terkesan lambat sehingga benteng bersejarah ini lepas begitu saja. Akhir-akhir ini sering dilakukan eksploitasi dan pembersihan di area Benteng Kedung Cowek, dimana kegiatan ini sangat menguntungkan pihak swasta (pemilik lahan) karena mendapat layanan kebersihan gratis. Apakah dalam pembersihan itu ada karyawan dari pihak swasta tersebut yang membaur menjadi kelompok-kelompok. Atau bersih-bersih itu ada yang mendanai agar mudah melipat Benteng Kedung Cowek.

Rancangan kawasan Suramadu yang akan datang

Semoga tiga poin diatas tidak benar-benar terjadi. Namun kita sebagai Arek Suroboyo merasa kecolongan, tiga tahun yang lalu disaat yang sama (seperti sekarang) Bangunan Cagar Budaya Rumah Siar “Radio Pemberontakan” Bung Tomo yang terletak di Jl. Mawar No. 10 juga dibongkar atas dalih bisnis. Kepahlawanan Kota Surabaya dikerdilkan, dan kelak akan menjadi catatan kelam sejarah Surabaya. Antara sedih, dongkol dan marah tatanan kota Surabaya dirusak oleh orang-orang yang tak paham sejarah. Generasi Suroboyo di masa datang disetting agar buta sejarah, agar tak tahu betapa heroiknya leluhur mereka dalam melawan penjajah. Peristiwa ini adalah lonceng kematian bagi sejarah kota Surabaya. (cs/ts)