Perayaan tujuh lapan dalam tradisi Jawa disebut “Mudhun Lemah” atau Pitonan. Pitonan merupakan rangkaian upacara siklus hidup yang sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa termasuk di Surabaya. Tradisi Mudhun Lemah (turun tanah) biasanya dilakukan pada bayi yang berusia tujuh bulan. Tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk harapan agar kelak sang anak bisa menjadi orang yang berguna. Sebelum acara dimulai biasanya mengundang tamu orang-orang dewasa untuk memanjatkan doa bersama sebagai rasa syukur, atau secara sederhana dengan mengundang anak-anak sebayanya, berusia satu hingga lima tahun. Lalu tokoh masyarakat, Mudin dan orang tua diminta membacakan doa. Setelah doa bersama selesai, sang bayi dibiarkan mengambil barang-barang yang telah disediakan dihadapannya seperti buku, pulpen, sisir, tasbih, kitab suci (biasanya memakai turutan atau iqra) dan lain-lain. Prosesi ini dilakukan sebagai filosofi supaya kelak sang bayi menjadi anak yang rajin, pintar, sholeh, berguna bagi nusa dan bangsa.

Selanjutnya mempersiapkan kurungan ayam jago yang sudah dihias rancak. Lalu kemudian memasukkan si bayi yang Mudhun  Lemah kedalam kurungan tadi. Pada saat dikurung ada sesepuh yang menyebarkan beras kuning dan uang logam. Penyebaran uang logam inilah yang dinanti-nanti para undangan cilik untuk berebut koin yang disebar. Walau tak seberapa nilai nominalnya, tapi rasa senang ketika mendapat koin mempunyai kepuasan tersendiri. Upacara dilanjutkan dengan si balita yang dititah oleh kedua orang tuanyauntuk menapaki tujuh jadah (terbuat dari ketan) warna warni. Kemudian menuntun si balita menaiki tujuh anak tangga yang juga dipersiapkan khusus. Tangga tersebut terbuat dari tebu, yang dikiri dan kanannya terdapat hiasan bunga. Tiap-tiap anak tangga juga diberi potongan jadah warna warni. Tangga tebu yang dinaiki ini mempunyai makna semoga si balita yang berumur tujuh lapan ketika melampaui perjalanan hidupnya selalu diberi kemudahan dan kelancaran, serta dapat meraih cita-cita setinggi langit.

Tradisi Mudhun Lemah sudah dilaksana-kan secara turun temurun. Di Surabaya sendiri tradisi ini sudah sangat langka dan jarang ditemui. Seandainya ada hanya doa bersama tanpa menyertakan prosesi budayanya. Namun kemarin tim Tabloid Teras Surabaya menjumpai Tradisi Mudhun Lemah ini secara lengkap di Kampung Maspati, di kediaman Bapak Wahyu, Rabu (27/02). Di daerah lainnya prosesi Mudhun Lemah atau Pitonan mempunyai ciri khas masing-masing sesuai keluarga bayi berasal. Kemudian, bayi yang telah merayakan tradisi Mudhun Lemah sudah diperbolehkan menyentuh tanah serta bermain dengan anak-anak sepantarannya ditandai dengan makan bubur abang bersama. Yang unik dari prosesi ini ialah bayi yang sudah Mudhun Lemah diberi cambukan lembut menggunakan beberapa gelintir lidi pada betis kakinya, dengan harapan supaya sang anak tidak nakal dan patuh kepada orang tuanya. Pada perkembangannya prosesi yang sederhana dan syarat makna ini memang perlu dilestarikan menjadi salah satu perjalanan sejarah, adat dan tradisi sebagai bentuk kearifan lokal. Salam Budaya. (sur/TS)

 

 

NB :

1 lapan = 35 hari

Piton = Pitu, angka 7 (bahasa Jawa, red)