Sebelum dikuasai oleh Belanda melalui VOC (Verenigde Oost Indische Company) pada tahun 1746, sebenarnya orang-orang Belanda sudah masuk ke Surabaya pada awal abad 17. Strategi VOC dalam menduduki kota pelabuhan sepanjang Pantai Utara Jawa yaitu dengan mendirikan benteng yang berfungsi ganda sebagai gudang penyimpan hasil pertanian. Termasuk juga sebagai alat pertahanan untuk keamanan personilnya. Dua unsur yang menjadi peranan penting VOC mendirikan benteng di Kota Surabaya yaitu sungai dan pelabuhan. Sungai disamping sebagai sumber air minum juga sebagai jalur transportasi perdagangan yang menghubungkan ke penghasil komoditas pertanian. Sedangkan fungsi pelabuhan dipakai untuk melarikan diri ke arah laut jika situasi dirasa tidak aman dan membahayakan.

Benteng yang dibangun Belanda pada saat itu yaitu Benteng Belvedere atau juga disebut Benteng Providentia dan Benteng Prins Hendrik. Peta Surabaya tahun 1866 memperlihatkan keadaan Kota Surabaya dipagari dengan benteng untuk menahan serbuan pasukan Angkatan Laut Inggris, dan pada tahun 1870 benteng tersebut dibongkar karena sudah tidak sesuai lagi dengan strategi perang modern.

BENTENG BELVEDERE ATAU PROVIDENTIA

Benteng Belvedere dibangun oleh Gubernur Jenderal Cornelis Speelman tahun 1678. Seperti benteng pada umumnya, Benteng Belvedere juga dilengkapi dengan bastion di setiap sudutnya untuk menempatkan persenjataan artileri berupa meriam. Letak Benteng Belvedere ini berada ditepian Jembatan Merah. Setelah mendirikan benteng atau pos militer ini, Belanda mendirikan sebuah perkampungan eropa disebelah selatan benteng. Di akhir abad 18, VOC mengalami kemunduran dan pada akhirnya tahun 1799 perusahaan dagang Hindia Belanda ini mengalami kebangkrutan. Sejak kebangkrutan itu, pemerintah Hindia Belanda mulai ikut turun tangan dalam mengoptimalkan peran kota Surabaya demi kepentingan pemerintah pusat di Batavia. Adalah Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808-1811) yang kemudian banyak membawa perubahan, terutama melalui kebijakannya untuk merubah dan membangun sistem pertahanan di Jawa yang lebih modern.

Di mata Daendels, Kota Surabaya memegang peranan yang sangat penting dalam peta pertahanan di pulau Jawa. Karenanya ia perlu membangun sistem pertahanan yang lebih canggih dan modern untuk membantu keamanan Batavia. Untuk itu, ia akhirnya harus membongkar Benteng Belvedere dan merobohkan tembok kota. Sebagai gantinya ia mendirikan dua benteng pertahanan di luar wilayah kota Surabaya. Satu benteng yang bernama Benteng Lodewijk, dibangun di pulau Menari (sekarang bernama Mengare), Gresik. Satu benteng lainnya bernama Fort Kalimas, dibangun di muara sungai Kalimas.

BENTENG PRINS HENDRIK

Benteng Prins Hendrik atau Citadel Prins Hendrik adalah benteng terbesar di Kota Surabaya, benteng dengan area persegi ini terletak di kota bawah, tepatnya di Surabaya bagian utara, berada di sebelah timur jembatan Petekan, Kalimas.

Benteng Prins Hendrik yang besar ini dibangun pada tahun 1837 guna memenuhi kebutuhan pertahanan wilayah dan militer pemerintahan kolonial waktu itu. Disaat tahun 1895 benteng ini beralih fungsi sebagai penjara khusus wanita kemudian beralih fungsi lagi menjadi gudang amunisi tentara kerajaan Hindia Belanda. Karena perkembangan Kota Surabaya semakin pesat sebagai kota pelabuhan dan niaga, akhirnya pada awal tahun 1930 Benteng Prins Hendrik dibongkar oleh pemerintah kolonial dan tergerus oleh perkembangan kota, hilang musnah tak berbekas.

Jaman berubah saat Jepang mulai masuk, masa Kemerdekaan, masa Revolusi, hingga Orde Lama pada tahun 1960-an. Lahan diatas bekas Benteng Prins Hendrik mulai ramai ditempati warga Kota Surabaya dan para pendatang. Secara perlahan menjadi sebuah komunitas lalu kemudian terbentuk perkampungan serta pemukiman padat penduduk. Sejak saat itulah nama kampung tersebut dinamai menjadi Kampung Benteng. (surabaya historical)