Membanjirnya modal asing ke kota Surabaya yang ditanam di sektor-sektor industri telah mendorong pemerintah kota untuk mengelola masalah ini dengan lebih serius. Artinya, pemerintah kemudian terlibat aktif mendorong proses industrialisasi di kota Surabaya. Keseriusan ini antara lain ditunjukkan dengan membentuk kawasan industri terpadu (industrial estate) di tanah bekas pabrik gula Ngagel, yang terletak di antara sungai Kalimas dan jalur kereta api. Kawasan ini merupakan kawasan industri terpadu pertama di Indonesia yang digagas oleh pemerintah. Tanah tersebut semula adalah perkebunan tebu dan kawasan pabrik gula yang dimiliki oleh pemilik tanah partikelir Tjoa Tjwan Khing. Kawasan tersebut dibeli oleh pihak Gemeente Surabaya pada tanggal 16 Oktober 1916 dengan akta pembelian tertanggal 20 Maret 1917. Pembelinya adalah Burgemeester (walikota) Surabaya, yang pada saat itu dijabat oleh Mr. A. Meyroos. Harga keseluruhan tanah tersebut adalah 850.000 gulden, yang dibayar kontan. Pihak gemeente kemudian mengkavling tanah tersebut dan menjualnya kepada para investor. Salah satu investor dalam bidang industri yang membeli tanah di Ngagel adalah NV. Machinefabriek Braat. Tanah yang dibeli oleh perusahaan pabrik mesin tersebut seluas 150.000 meter persegi seharga 150.000 gulden. Pada tahun 1920, NV. Machinefabriek Braat mulai membangun pabriknya di kawan ini. Setelah pabrik mesin Braat membangun pabriknya di Ngagel, berturut-turut di kawasan tersebut dibangun beberapa pabrik lain, yaitu N.V. Contsructiewerkplaats Noordijk, N.V. Contsructiewerkplaats Bakker, N.V. Smederij en Gieterij de Vulcaan, dan Constructie Werkplaats Eiffel.

Tidak semua tanah di Ngagel yang dibeli oleh gemeente dipergunakan untuk pabrik. Di bagian timur pabrik dibangun pula kawasan perumahan untuk pekerja industri Ngagel. Pada tanggal 30 Mei 1924 pihak gemeente memberikan sebagian tanah di kawasan ini kepada perusahaan kereta api secara cuma-cuma agar dipergunakan untuk keperluan industri perkeretaapian. Kawasan industri Ngagel kemudian berkembang menjadi kawasan industri terkemuka yang memantapkan posisi kota Surabaya sebagai kota industri. Pada tahun 1921 jumlah industri manufaktur di kota Surabaya sebanyak 293, yang menyerap tenaga kerja sebanyak 18.254 orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada awal abad ke-20, industrialisasi di kota Surabaya telah berhasil membentuk masyarakat industri, yaitu sekelompok orang yang hidupnya tergantung dengan sistem produksi yang berjalan di pabrik-pabrik. Sistem tersebut membentuk jaringan saling ketergantungan antar individu dan mampu menggerakkan dinamika kota. Terbukti, ketika terjadi krisis ekonomi tahun 1930, kota Surabaya mengalami kegoncangan karena terjadi gelombang pemutusan kerja di berbagai industri manufaktur di kota ini. Pemutusan kerja pada industri telah menciptakan efek domino pada sektor-sektor yang lain. Masyarakat Bumiputra adalah kelompok yang paling rentan terkena pemutusan kerja karena mayoritas adalah pekerja kelas bawah, atau lazim disebut buruh kasar.

Periode antara abad ke-19 sampai Perang Dunia Pertama dianggap sebagai fase pertama industrialisasi di kota Surabaya, yang ditandai dengan tumbuhnya industri manufaktur, yang sebagian besar ditujukan untuk melayani industri gula yang tersebar di kawasan hinterland. Fase kedua dimulai tahun 1920-an, yang ditandai dengan dilakukannya diversifikasi ke dalam industri barang-barang konsumsi (consumer goods). Sejak lama kota Surabaya sudah memiliki pabrik-pabrik barang konsumsi berskala kecil seperti pabrik roti, es, bir, rokok, dan lain-lain, yang rata-rata dimiliki oleh orang-orang Cina. Sejak tahun 1920-an, permintaan terhadap barang-barang konsumsi meningkat tajam sebagai dampak naiknya jumlah penduduk Eropa kaya di kota Surabaya. Kenaikan permintaan terhadap barang-barang konsumsi direspon oleh para pengusaha dengan mendirikan pabrik-pabrik untuk barang-barang yang dimaksud. Beberapa pabrik yang berdiri pada periode ini antara lain pabrik biskuit Lie Sin, pabrik rokok kretek Sampoerna di Kalisosok, pabrik rokok putih British-American Tobacco (BAT), dan pabrik bir N.V. Nederlandsch Indische Bierbrouwerijen di kawasan industri Ngagel. Pabrik rokok Sampoerna milik Liem Seng Tee berkembang pesat dan mampu bertahan sampai saat ini. Pabrik ini pada tahun 1939 mempekerjakan buruh sebanyak 3.250 orang. Pabrik lain yang berdiri pada periode ini adalah Pabrik sarung cap Dua Gelas, yang didirikan oleh keluarga turunan Arab dari marga Baswedan. Keluarga ini sudah sejak lama dikenal sebagai pedagang besar di kota Surabaya dan pernah menguasai tanah partikelir yang luas di kawasan Ngagel. Berdasarkan data yang ditemukan, tidak ada satupun pabrik berskala besar yang dimiliki oleh pengusaha Bumiputra pada periode ini dan sebelumnya. Persoalan modal dan kemampuan mengelola perusahaan besar kemungkinan menjadi kendala mengapa tidak muncul pengusaha Bumiputra yang menanamkan modalnya dalam sektor industri padat modal.

Melengkapi citra kota Surabaya sebagai kota industri dan perdagangan, yang bisa diterjemahkan melalui kawasan industri dan pabrik-pabrik yang telah sukses dibangun, Gemeente Surabaya bekerja sama dengan pemerintah pusat (Bestuur van Nederlandsch-Indie), dengan disponsori oleh Perkumpulan Bank kota Surabaya dan Perkumpulan Pabrik Gula (Algemeen syndicat van suikerfabrikanten in Nederlandsch-Indie) pada tahun 1920 menerbitkan buku alamat untuk kota Surabaya. Buku tersebut menghimpun alamat-alamat toko, bank-bank, pabrik dan kantornya, serta alamat orang-orang terkemuka setingkat pemilik toko dan direktur. Buku setebal 165 halaman tersebut disebar ke berbagai kota di Indonesia, dan kemungkinan besar juga ke kota-kota terkemuka di luar negeri, dengan tujuan untuk ”menjual” kota Surabaya. Melalui media buku itu pemerintah bermaksud mengkomunikasikan ke khalayak luas, bahwa Surabaya adalah kota dagang dan industri terkemuka di Indonesia. Melalui buku ini, kita bisa menelusuri lebih lanjut, bukan hanya situs-situs industri, tetapi juga situs perdagangan dan aktivitas lain yang pernah dilakukan oleh masyarakat kota ini pada masa lalu.

Empat belas tahun kemudian, yaitu tahun 1934, Gemeente Surabaya kembali menerbitkan sebuah buku promosi yang diberi judul Soerabaja en de Oosthoek. Buku yang penuh dengan berbagai gambar tentang kemajuan kota Surabaya tersebut dimaksudkan sebagai buku promosi perdagangan dan industri. Bagian awal buku ini mengulas perkembangan ekspor-impor yang dicatat melalui pelabuhan Surabaya, dilanjutkan dengan uraian mengenai kawasan industri yang terletak di Ngagel dan di sekitar pelabuhan (Jalan Gresik). Uraian tersebut dilengkapi dengan peta-peta kavling, lengkap dengan jalan-jalannya, serta foto udara (luchtfoto) yang memperlihatkan detail visual kawasan industri baru tersebut. Jika melihat foto udara tersebut, maka siapapun akan tercengang karena begitu luasnya kawasan industri yang dipersiapkan oleh pemerintah kota. Bagian selanjutnya mengulas tentang sarana transportasi yang melayani rute dari luar negeri menuju kota Surabaya, serta alat transportasi lokal yang akan membawa orang dari kota Surabaya menuju ke kota-kota lain. Buku itu juga dilengkapi dengan berbagai foto mengenai kegiatan pembangunan pabrik-pabrik yang tengah berlangsung. Pada bagian penutup dicantumkan beberapa nama dan alamat yang sewaktu-waktu bisa dihubungi jika membutuhkan informasi umum, informasi tanah, informasi transportasi, dan informasi energi. Buku ini merupakan promosi penanaman modal di kota Surabaya pascakrisis ekonomi tahun 1930. Citra kota perdagangan dan industri harus tetap dipertahankan pasca krisis ekonomi agar investasi tetap bertahan di kota ini.

Upaya membangun kembali perindustrian di kota Surabaya pasca krisis tahun 1930 cukup berhasil. Beberapa investor besar mulai menanamkan modal mereka di kota Surabaya dalam sektor industri. Beberapa pabrik besar dibangun, antara lain: pabrik lampu listrik (lightbulb) ”Annoer” dan pabrik sepeda ”Hima” (keduanya tahun 1936), pabrik glycerin ”Javasche Koolzuur en Zuurstoffabriek” (1937), perakitan mobil ”Dodge-N.V. Velodrome” dan pabrik coklat ”TerWolde” (keduanya tahun 1938), pabrik barang-barang dari logam milik Borsumij dan pabrik sandal karet (keduanya tahun 1939), pabrik minyak goreng dan sabun mandi ”Philippine Manufacturing Corp.” (1940), dan pabrik lampu listrik (lightbulb) ”Philips” (1940). Pendirian pabrik lampu ”Philips” di kota Surabaya merupakan dampak dari serangan Jerman atas negeri Belanda. Agar produksi dan pemasaran barang-barang yang diproduksi oleh Philips ke seluruh dunia tidak terganggu akibat serangan Jerman tersebut, maka pada tahun 1940 mereka memindah pabriknya ke kota Surabaya. Pasca pemindahan pabriknya, Philip memasang iklan besar-besaran di salah satu koran yang terbit di kota Surabaya pada akhir tahun 1940, yang berisi pemberitahuan bahwa pada saat itu Philip sudah memiliki pabrik di kota Surabaya.

Ketika kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih dan roda industri belum sepenuhnya normal kembali, Bala Tentara Jepang menyerbu kota Surabaya pada bulan Maret 1942. Pabrik-pabrik banyak yang tutup karena sebagian pemilik dan pekerjanya yang berkebangsaan Eropa menjadi tawanan Jepang. Bangunan gedungnya banyak yang dialihfungsikan sebagai barak militer dan keperluan lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan industri. Industri di kota Surabaya memasuki masa keruntuhan. Pemerintah penjajahan Jepang pernah beberapa kali mencoba menghidupkan industri di kota Surabaya, tetapi upaya mereka tidak berhasil. Pada tanggal 11 Agustus 1942, Marine Etablissement (kompleks industri Angkatan Laut) yang telah dikuasai oleh Jepang melakukan pemanggilan kembali para pegawai Bumiputra yang masih menganggur. Para pegawai yang mendaftar kembali diharuskan menjalani tes kesehatan yang amat ketat yang dilakukan oleh dokter tentara dari Nagamatsu Butai. Dengan sistem tersebut maka tidak semua pegawai yang berjumlah dua ribu lebih dapat bekerja kembali. Marine Etablissement pada masa kolonial Belanda adalah pangkalan Angkatan Laut Belanda, yang mengerjakan pembuatan kapal dari kayu, bertempat di tepi sungai Kali Mas. Usaha menghidupkan kembali usaha pembuatan kapal tersebut pada masa Jepang tidak berhasil dengan baik karena Jepang lebih banyak berurusan dengan perang. Situasi perang serta ketidakseriusan Jepang mengelola berbagai pabrik peninggalan kolonial Belanda, menyebabkan industrialisasi di kota Surabaya berhenti total.

Masa penjajahan Jepang ditandai dengan hancurnya berbagai industri besar di kota Surabaya, yang diakibatkan oleh peperangan dan salah urus. Hal tersebut tentu saja mendorong kelangkaan barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat. Situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang Cina untuk mendirikan industri rumah tangga berskala kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Sebuah dokumen yang berisi berbagai izin yang diajukan oleh masyarakat Cina di kota Surabaya pada tahun 1943 memperlihatkan hal tersebut. Izin usaha yang diajukan cukup beragam, mulai dari izin usaha pembuatan limun, pembuatan sabun mandi dan sabun cuci, pembuatan arang kayu, pembuatan abu gosok, pembuatan soda kue, pembuatan kue, pembuatan bir, dan lain-lain. Lahirnya industri rumah tangga berskala kecil tersebut telah menolong warga kota Surabaya, untuk memperoleh barang-barang kebutuhan sehari-hari, yang pada waktu itu sempat lenyap di pasaran. Hal tersebut menjadi bukti bahwa anggapan mengenai ketiadaan aktivitas industri non-perang pada masa Jepang, sebagaimana diungkap oleh beberapa historiografi yang membahas periode tersebut, kurang benar. (sur/shc)

Sumber :

Urbana Historia, Koster algemeen adressboek voor Soerabaja 1928, G.H. Von Faber (Nieuw Soerabaia), Gemeente Soerabaja – Soerabaja en de oosthoek, Pewarta Soerabaia – 4 Nopember 1940. Foto Troppen Museum. Penyusun Surabaya Historical