Di sebuah pedukuhan jabakota Surabaya sayup-sayup terdengar merdu kicau burung dan hembusan angin yang kencang, membuat suasana siang itu terasa damai. Hal ini sangat berbeda jauh dengan keadaan ditengah kota Surabaya. Sejak kedatangan Jepang penduduk menjadi ketakutan karena diperlakukan secara keji oleh tentara Jepang. Dari kejauhan tampak dua pemuda berusia belasan tahun sedang berdiri di tepi tambak yang airnya hampir mengering. Sambil membawa sengget mereka berlarian mengejar seekor burung gelatik yang berterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya.

Meski sang surya terus bergeser dan tepat berada diatas kepala, namun mereka masih melakukan aktivitasnya menangkap burung-burung kecil. “Wis Mul awak dewe ngaso nang kene ae..” ungkap Rejo membuka percakapan sambil melepas udeng yang menutupi kepalanya dan kemudian duduk bersandar dibawah pohon. “Ikiloh Jo ombeh’en mbok menowo awakmu ngelak..!” sahut Mulyono sambil menyodorkan air minum.

Mulyono dan Rejo merupakan dua pemuda yang bersahabat sejak lama. Mereka berdua adalah penduduk Pedukuhan Kepiting yang tak jauh dari pantai timur Surabaya. Berteduh dibawah pohon Mulyono banyak bercerita tentang keadaan bangsa pada Rejo, karibnya. Sambil melongo Rejo pun mendengarkan dengan seksama tiap cerita yang mengalir dari mulut sang sahabat. Disertai senda gurau, pembicaraan mereka sangat gayeng, dan hampir semua pertanyaan yang dilontarkan Rejo mampu dijawab oleh Mulyono dengan gamblang.

Sebelumnya, rasa penasaran terus menggelayut dalam benak Rejo tentang keadaan bangsanya saat mendengar kekejaman balatentara Jepang di bumi Indonesia. Tapi rasa penasaran itu lambat laun terkikis oleh penjelasan Mulyono yang lugas. Maklum, Mulyono mengetahui berbagai hal tentang keadaan tersebut karena ia mengenyam pendidikan di Surabaya, banyak informasi yang diperolehnya lalu ia ceritakan pada teman sebayanya di Pedukuhan Kepiting.

Berbeda dengan pemerintah Hindia Belanda, di masa pemerintahan Jepang pendidikan dibuka selebar-lebarnya. Sekolah yang tadinya hanya bisa dienyam oleh warga eropa, kaum ningrat dan keluarga saudagar, kini bisa dinikmati oleh bumiputera hingga duduk dibangku tingkat atas. Sebenarnya, pembukaan sekolah secara lebar adalah taktik pemerintah Jepang untuk mensiasati kekurangan tenaga militer. Sekolah sebagai ajang terselubung untuk merekrut anak-anak muda yang nantinya dipersiapkan membantu balatentara Dainippon jika kedudukannya terdesak di Hindia Belanda.

Kokok ayam jantan bersahutan, pagi itu suasana Pedukuhan Kepiting mulai ramai. Ibu-ibu tampak pergi ke pasar yang letaknya berada di sebelah barat dukuh. Meski saat itu air sedang surut para pria dewasa dengan membawa jala tetap pergi ke sungai atau blumbang yang berada di tepi pedukuhan. Karena air kali tinggal sedikit, biasanya mereka mencari ikan dibawah tumbuhan genjer, disana banyak ikan-ikan kecil yang bersembunyi. Hasilnya akan dibawah pulang dan sebagian lagi mereka jual.

Rejo yang ketika itu sedang ngarit tiba-tiba dikejutkan oleh suara Pak Carik dari kejauhan, yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka. Woro-woro tersebut disampaikan secara terus-menerus dan berulang. Sontak ia langsung menepuk bahu Mat Sirih dan Seger, kawannya yang sedang mencari rumput. “Hooe reek..!! koen gak krungu ta nek bongso Indonesia saiki wis merdeka.. Ikuloh rungokno weling’e wak carik”. Mat Sirih langsung menimpali “Wah sing temen koen Jo, ojok mbujuk.. nek pancen brita iki bener ayo di uwar-uwarno nang penduduk !”.

Secepat kilat ketiga pemuda tersebut langsung bergegas, dari Dukuh Kepiting Kidul menyeberang ke Dukuh Kepiting Lor, tempat itu hanya dibatasi oleh sungai yang membujur dari timur ke barat. Selanjutnya mereka pergi ke Pedukuhan Kalijudan, Kali Aluh, Kaliwaron dan Ngembong untuk mensiarkan kemerdekaan bangsa Indonesia. “Merdekaa.. Merdekaa !! Saiki awak dewe wis merdeka reekk !!” teriak Rejo penuh semangat saat keliling pedukuhan. Ia masih ingat perkataan sahabatnya, Mulyono “Hak setiap bangsa adalah kemerdekaan. Bangsa yang telah merdeka akan menentukan nasibnya sendiri agar rakyatnya sejahtera”.

Tak berselang setelah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan, tersiar kabar bahwa markas tentara Jepang yang berada di kota Surabaya mulai dilucuti senjatanya oleh para pemuda. Mendengar hal itu Mulyono segera mengumpulkan Arek-arek Pedukuhan Kepiting, ia paham betul jika hari itu adalah jadwal patroli tentara Jepang melintasi Ngembong. Dua kali dalam seminggu patroli itu melewati daerahnya. Karena Dukuh Kepiting tergolong daerah pinggiran yang tak begitu banyak penduduknya, maka tentara Jepang minim berpatroli di kawasan tersebut dan jadwal kedatangannya mudah diingat oleh Arek-arek.

Berbekal pelatihan semi militer yang pernah diajarkan semasa sekolah dulu, Mulyono langsung mengatur strategi. Ia arahkan kawan-kawannya yang saat itu membawa senjata seadanya. “Jo Rejo awakmu karo Mat Sirih lan konco-konco singiden’o onok sisih tengen.. Aku karo Seger onok sisih kiwo, ojok kesusu nyergap entenono aba-abaku !” ujar Mulyono sambil memberi komando, “Siaap..!!” jawab Rejo lantang. Setelah mengambil posisi dibalik pepohonan dan perengan kali, serta hampir dua jam menanti, patroli jalan kaki tentara Jepang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang menyusuri Ngembong.

Jalan bertanah dan sepatu tentara Jepang yang lentur membuat patroli tersebut tak dapat didengar derap kakinya. Namun Mulyono mempunyai naluri yang kuat. Ia rasakan daun-daun kering yang diinjak oleh patroli jalan kaki itu. Gemerisik dedaunan yang terinjak semakin lama semakin mendekat lalu menghilang, suasana Ngembong hening, mencekam campur geram. Hanya tarikan nafas mereka sendiri yang dapat mereka rasakan. Tiba-tiba suara prajurit Jepang yang sedang berbicara muncul di dekat Mulyono dan kawan-kawannya. Antara kaget dan bingung Mulyono segera berteriak “Serbuuu..!!! tanpa banyak bicara patroli tentara Jepang itu langsung mereka lumpuhkan. Dari penyergapan tersebut Mulyono dan kawan-kawannya berhasil mengambil alih beberapa pucuk senjata laras panjang berjenis Arisaka dan granat pukul milik tentara Jepang.

Banyak peristiwa telah terjadi, akhir Oktober 1945 keadaan kota Surabaya memanas. Pertempuran berlangsung di berbagai penjuru antara pihak Indonesia melawan tentara Inggris, hingga akhirnya menewaskan pimpinan mereka bernama Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby. Buntut dari insiden tersebut, pihak sekutu melancarkan serangan balasan yang meletus pada tanggal 10 Nopember 1945. Pimpinan BKR Kota Surabaya memberi perintah kepada seluruh pejuang dari berbagai barisan dan kelaskaran agar mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Tiga minggu lamanya perlawanan rakyat Surabaya terhadap tentara Inggris berlangsung, pihak musuh dibuat kuwalahan hingga jatuh korban.

Akhir bulan Nopember hampir seluruh pejuang mundur keluar Surabaya. Namun Mulyono, Rejo dan kawan-kawan masih bertahan di wilayahnya, di sektor timur Surabaya. Bagi mereka demi membela bangsa pantang mundur walau selangkah. Sore hari tanggal 27 Nopember 1945 iring-iringan patroli tentara Inggris berkekuatan satu peleton menyusuri Pedukuhan Kepiting untuk melakukan pembersihan. Semakin lama iring-iringan itu makin mendekat. Mengetahui pihak musuh memasuki wilayahnya, Mulyono dan Rejo berusaha melakukan blokade.

Meski pasukan Mulyono hanya segelintir tak sedikit pun rasa takut menyelinapi jiwa mereka, justru keberaniannya semakin berkobar. “Ayo Mul gak usah kesuwen, tumpesno ae tentara Inggris iku..!!” Bisik Rejo pada Mulyono. Tak berapa lama mijn milik Rejo diledakkan, tentara Inggris langsung kocar kacir. Kemudian Mulyono melepaskan tembakannya. Sekonyong-konyong senjata musuh mulai berbicara. Mulut senjata mesin tentara Inggris menyemburkan api tiada henti. Rejo pun membalas dorr dor !!! Jual beli tembakan memecah keadaan. Mendadak suasana menjadi sunyi, namun sekejap. Senjata mesin milik tentara Inggris menyalak lagi.

Makam pejuang muda Mulyono & Redjo di TMP Ngagel, Kota Surabaya, saat diziarahi komunitas Surabaya Historical

Mulyono tertembak di tempat, menoleh sambil berteriak “Merdekaa..!!” secepat kilat dua peluru menyambar tubuhnya, bersarang di perut dan kepala. Tubuhnya semakin lemas lalu rebah di tanah. Rejo melihat sahabatnya masih bergerak-gerak namun apalah daya pertempuran tak seimbang. Tentara Inggris berjumlah lebih banyak, bersenjata lengkap dan otomatis. Baku tembak terus terjadi. Dorr !! Rejo pun akhirnya tumbang, dadanya ditembus peluru. Jalannya terseok, tubuhnya lunglai, tersungkur menghantam bumi. Senja terakhir, kedua pejuang muda itu gugur bersimbah darah sebagai patriot proklamasi. “Tali dhuk tali layangan, nyowo sithuk ilang-ilangan”. Sahabat hingga akhir hayat, Mulyono dan Rejo kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Monumen juang Mulyono & Redjo

Sebagai pengingat jasa dan perjuangannya, oleh masyarakat setempat nama Mulyono dan Rejo diabadikan menjadi nama jalan dan kampung ditempat mereka pernah bertempur. Tempat tersebut bernama Mulyorejo yang terletak di timur Surabaya, serta dibuatkan tetenger berupa monumen (Patung) yang menggambarkan keberaniannya dalam menghadapi musuh. Kini kedua pusara pejuang muda asal Pedukuhan Kepiting itu berada di Taman Makam Pahlawan, Ngagel, kota Surabaya. Demikian kisah ini kami ceritakan agar dapat diambil hikmahnya. Supaya generasi muda mengerti bahwa Pertempuran 10 Nopember 1945 juga terjadi atas peran masyarakat dan tidak hanya dilakukan di jantung kota saja, melainkan juga meletus di pinggiran Surabaya. Jas Merah ! (wan/shc)

Ditulis oleh tim Surabaya Historical, Ilustrasi gambar Hendra