Terlahir dengan nama Andalus Datoe Oloan Harahap tanggal 23 Mei 1943 di Surabaya. Orang-orang sering memanggilnya dengan Ucok Harahap, masih ada keturunan Batak dari sang Kakek. Anak dari pasangan Ismail Harahap dan Fransiena Frederika Mahieu. Meski berdarah Batak, Ucok dan keluarganya lebih senang dan bangga disebut Arek Suroboyo. Sang Ayah seorang apoteker ternama di Surabaya, ditahun 1960-an mendirikan Apotek Kaliasin yang sekarang berubah menjadi patung Karapan Sapi.

Meskipun Ucok kecil tinggal dirumah loji berasitektur Belanda di daerah WR. Supratman, namun masa kecilnya dihabiskan bermain dikampung belakang rumahnya, Kampung Kupang, Grudo dan Pandegiling. Ucok digadang-gadang sang Ayah menjadi penerus usaha Apotik Kaliasin dan ucok pun disekolahkan di Sekolah Asisten Apoteker (SAA) Semarang.

Lulus dari Sekolah Asisten Apoteker (SAA) di Semarang dengan nilai gemilang tahun 1965, tidak membuatnya pongah. Ucok kembali ditengah-tengah keluarga besar Ismail Harahap dan bekerja di Apotek Kaliasin membantu sang Ayah. Namun demikian obsesi dalam hati kecilnya dalam bermusik tidak terbendung lagi, sang Ayah membelikan seperangkat alat musik dari Koh Jun Sen yang membuka toko alat musik Dempo. Datangnya alat musik secara lengkap menjadikannya lupa diri dan lupa dengan kerja di Apotek. Melihat keseriusannya dalam bermusik, Sang Ayah membuat ruang khusus didalam Apotek Kaliasin sebagai studio mini.

 

Ucok AKA bersama Achmad Albar

Di Taman Hiburan Rakyat (THR), Ucok bertemu dengan Zainal Abidin (drummer), Haris (rhythem guitar), Peter Wass (Bass) dan Soenata Tanjung (gitar) dan tanggal 23 Mei 1967 grup band AKA terbentuk. AKA adalah singkatan dari Apotek Kaliasin. AKA mulai manggung disekolah-sekolah, kampung dan tempat-tempat umum dengan membawakan lagu milik grup luar negeri. Sayang formasi AKA tidak bertahan lama satu persatu personilnya hengkang, meskipun demikian Ucok tidak putus asa. Tahun 1969 merupakan tahun dimana AKA tampil dengan formasi baru, Ucok sebagai pemain organ merangkap vokalis, Sjech Abidin penggebuk drum, Soenata Tanjung lead guitar dan Arthur Kaunang pembetot bass. Istimewanya formasi baru AKA semua personilnya bisa menyanyi, dipanggung AKA membawakan lagu-lagu dari Led Zeppelin, Deep Purple, Scorpion atau Black Sabbath. Kenyang malang melintang di panggung, AKA memutuskan menerima tawaran rekaman dan di Studio mini di Apotek Kaliasin mereka mengotak-atik not dan menciptakan musik sekaligus menulis liriknya.

Album pertama Do What You Like tahun 1970 mengusung aliran musik rock mencuat di pelataran musik tanah air mampu mengalahkan dominasi pop dan keroncong yang mendominasi pada waktu itu. Sang Ayah, Ismail Harahap mulai sibuk sebagai manajer grup AKA mengurusi keperluan segala macam kebutuhan hingga mengatur jadwal show AKA. AKA pun sukses meluncurkan 12 album, Reflection (1971), Crazy Joe (1972), Sky Rider (1973), Cruel Side of Suez War (1974), Shake (1975), Mr. Bulldog (1976), Pucukku Mati (1977), Badai Bulan Desember (1978), AKA Pop Melayu, AKA Pop Jawa dan AKA Kasidah. Aksi Panggung Ucok yang atraktif hingga jumpalitan menjadi hiburan yang selalu dinanti setiap penampilan grup AKA ini.

Di posisi puncak-puncaknya grup AKA ini akhirnya bubar ditinggal Ucok yang hijrah ke Jakarta. di Jakarta, Ucok dipertemukan dengan Achmad Albar (Iyek) musisi berdarah Arab yang sama-sama arek Suroboyo. Tanggal 9 september 1977, Ucok dan Iyek diduetkan jadilah grup Duo Kribo dengan ciri khas rambut yang sama-sama kribo dengan album perdana berjudul Neraka Jahanam. Kesuksesan Duo Kribo dalam album Duo Kribo vol.II (1978), Duo Kribo III special (1978) dan Panggung Sandiwara (1978) diterima semua kalangan. Tak hanya album, film Duo Kribo juga meledak, film yang berkisah tentang perjalanan seniman musik berbeda kutub (kaya dan miskin) yang skenarionya ditulis Remy Sylado benar-benar menarik ditonton.

Bagi Ucok, God Bless bukanlah musuh. AKA lahir tahun 1967 dan God Bless di tahun 1977, saat God Bless muncul, AKA sudah mulai kutinggalkan. AKA yang lahir di Surabaya menggeluti jenis musik gado-gado sedangkan God Bless kental warna rock. Meski demikian, aku dan Iyek bisa bersatu. Kami menyatu karena disatukan keadaan. “gimana mau bermusuhan? Wong kami sama-sama Arek Suroboyo”

Diantara kesuksesannya tersebut, jatuh bangun dalam membangun biduk rumah tangga bagi Ucok Harahap merupakan sisi kelemahannya, Surabaya Historical tidak membahasnya di ulasan ini. Diusia senja, jiwa bermusik Ucok tidak pernah padam, bersama Pardy Artin eks gitaris The Gembell’s dan musisi dibawahnya membentuk grup bernama Ucok And His Gang berkelana dari hotel ke hotel di Surabaya dan kota-kota lain di Jawa.

Pusara sang rocker saat disambangi tim SHC & Teras Surabaya

Tanggal 3 Desember 2009, Ucok AKA Harahap menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Darmo karena menderita sakit kanker paru-paru dan Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Kebraon Tegal, Karangpilang, Surabaya.

“Memang masa-masa keemasan itu ingin kuraih, Tapi aku sadar, itu tidaklah mungkin. Aku sadar sesadar-sadarnya, usia dan waktu yang tidak mengizinkan. Masaku sudah habis, tapi bolehlah jika aku ingin terus bermusik hingga ajalku tiba ?”  (sur/shc)

Dirangkum dari berbagai sumber dan Buku “Ucok AKA Harahap Antara Rock, Wanita & Keruntuhan” (Siti Nasyi’ah). Foto source supermusic & dok pribadi. Penyusun Surabaya Historical