Makam Kristen Kembang Kuning merupakan komplek pemakaman terbesar yang membentang di kawasan perbukitan Pakis, Kembang Kuning, kota Surabaya. Komplek ini memiliki luas sekitar 15 hektar persegi dan telah berdiri sejak jaman Belanda. Selain komplek pemakaman, kawasan ini juga sebagai akses penting (jalan tembusan) yang menghubungkan Jl. Diponegoro ke kawasan Dukuh Kupang. Tiap pagi dan sore hari, akses tembusan komplek Kembang Kuning selalu ramai dipadati masyarakat yang rutin melewatinya.

Jika melintas di komplek pemakaman Kristen Kembang Kuning, perhatian kita tak akan luput dari tugu setinggi tiga meter yang berdiri tegak di tengah-tengahnya. Yang pada bagian atasnya terdapat patung malaikat mengepakkan sayap. Terkadang muncul pertanyaan dan rasa penasaran dalam hati, tugu apakah gerangan. Tak banyak yang tahu jika tugu tersebut adalah makam seorang pemimpin kota Surabaya pada jaman Belanda, bernama Gerrit Jan Dijkerman. Dibangunnya tugu di tengah komplek tersebut sebagai penanda bahwa terdapat makam orang penting disana.

Mengenai siapa sosok Gerrit Jan Dijkerman mari kita telusuri sepak terjangnya berikut ini. Gerrit Jan Dijkerman adalah seorang Insinyur kelahiran Utrecht, Belanda 22 Januari 1885. Pendidikan terakhirnya diselesaikan di Technische Hoogeschool te Delft, Belanda. Awal karirnya di negeri jajahan ini dimulai pada tahun 1914, ia mengabdikan diri sebagai pegawai dinas pekerjaan umum, yang pada waktu itu disebut Burgerlijk Openabaare Werken (BOW). Kemudian ia juga pernah bertugas sebagai kepala dinas pengairan Brantas di Kediri, dan pada tahun 1918 memegang jabatan sebagai kepala pelabuhan kota Surabaya.

Akhirnya pada tahun 1920 G.J. Dijkerman diangkat menjadi Wali Kota kedua Surabaya periode 1920 – 1929 menggantikan Mr. A. Meijroos. Melihat jabatan-jabatan sebelumnya dapat diketahui jika Dijkerman adalah orang yang cakap dengan segudang pengalaman, ia banyak dipercaya pada posisi-posisi penting. Dialah insinyur yang kemudian menyulap kota Surabaya menjadi lebih tertata. Merancang dan membangun sejumlah infrastruktur, yang peninggalannya masih bisa kita jumpai hingga sekarang. Ini yang kemudian atau mungkin menjadi inspirasi Walikota-walikota modern Surabaya dalam mengkonsep kota yang dikelolanya.
.
Semenjak Surabaya ditetapkan sebagai Gemeente berdasarkan Staatsblad Nomor 149 tanggal 1 April 1906, yang merupakan implementasi dari undang-undang desentralisasi. Status baru tersebut menetapkan kota Surabaya sebagai sebuah pemerintahan otonom yang tidak bergantung pada pemerintahan pusat. Dan pemerintah pusat terus meningkatkan status Surabaya dari Gemeente menjadi Stadsgemeente pada tahun 1926. Perubahan ini merupakan implikasi dari dikeluarkannya ordonansi pada 10 Oktober 1926, yang dimuat dalam Staatsblad No. 365 tahun 1926. Ordonansi ini menjadi ketentuan mengenai peningkatan status yang tadinya otonomi terbatas menjadi Stadsgemeente berotonomi penuh.

Tugu yang berada di tengah makam Kristen Kembang Kuning ternyata makam Dijkerman, seorang walikota yang pernah memimpin Surabaya era Hindia Belanda

Pada kesempatan ini, wewenang sepenuhnya dimanfaatkan oleh G.J. Dijkerman untuk berkreasi tanpa perlu persetujuan pemerintahan pusat di Batavia. Wali Kota Dijkerman mulai membuat gebrakan dengan membangun gedung balai kota yang baru. Ia merancang perlunya membangun balai kota yang berdiri hingga sekarang. Ia memanggil arsitek kenamaan G.C. Citroen dan bekerja sama dengan kontraktor raksasa HV Hollandsche Beton Mij. Demi mendirikan gedung perkantoran yang ditengahnya dilengkapi taman beserta bunker pada bagian bawahnya, biaya yang dianggarkannya sebesar 1000 gulden. Namun hanya bagian belakangnya saja yang rampung. Bagian kiri, kanan dan depannya belum sempat dibangun, karena krisis eropa melanda Hindia Belanda.

Tak hanya itu, pembangunan infrastruktur juga ia lakukan pada sisi selatan kota Surabaya sebagai kawasan penunjang. Bersama arsitek Citroen, dia menyulap sejumlah tempat menjadi lebih artistik, diantaranya Jembatan Gubeng, Jembatan Wonokromo, menata kawasan industri Ngagel, menata permukiman di Palmenlaan, Ketabangkali, Darmo dan lain-lain. Termasuk membuat berbagai peraturan kota. Dijkerman adalah pemimpin Surabaya yang pertama kali memiliki hak dan mengeluarkan peraturan Wali Kota (Perwali). Tak memerlukan waktu lebih dari satu dasawarsa untuk mengubah wilayah Surabaya yang luas ini sesuai rancangannya. Sejak saat itulah, perkembangan kota Surabaya yang tadinya di utara, di daerah Jembatan Merah berpindah ke selatan.

Walikota G.J. Dijkerman semasa hidupnya, sumber genealogieonline.nl

Pada 11 Mei 1923 rapat anggota Perkumpulan Kebun Binatang Surabaya menunjuk W.A. Hompes untuk menggantikan J.P. Mooyman, salah seorang pendiri KBS yang juga mengurusi segala aktivitas kebun binatang. Rapat tersebut membahas permasalahan-permasalahan yang terkait di kebun binatang itu. Akhirnya bantuan besar diberikan pada Kebun Binatang Surabaya pada tahun 1927 atas usaha Wali Kota Dijkerman dan anggota dewan A. van Gennep yang dapat membujuk volskraad Surabaya (DPR) untuk meraih perhatian terhadap KBS. Dengan surat keputusan tanggal 3 Juli 1927 maka dibelilah tanah seluas 32.000 m3 sumbangan dari Maskapai Kereta Api. Di tahun 1939 sampai sekarang luas KBS meningkat menjadi 15 hektar dan pada tahun 1940 selesailah pembuatan taman yang luasnya mencakup 85.000 m2 itu.

Di era kepemimpinan Wali Kota G.J. Dijkerman, wajah Surabaya mengalami revolusi besar-besaran. Maklum saja, Dijkerman adalah seorang insinyur sipil dan bangunan air, sebab itu dia mempunyai banyak konsep untuk menyulap kota ini agar menjadi lebih baik. Sayangnya G.J. Dijkerman, Wali Kota kedua kota Surabaya jaman Belanda ini meninggal dunia pada 28 Januari 1929, enam hari setelah merayakan ulang tahunnya yang ke 44. Ia meninggal saat masih menjabat sebagai Wali Kota Surabaya dan dimakamkan di tengah-tengah komplek pemakaman Kembang Kuning, dengan tugu berhias patung malaikat dan piala diatas pusara sebagai peringatan atas jasa-jasanya. (wan/shc)

Surabaya Historical