Suharto Arek Kampung Sukodono Surabaya, kelahiran 18 Februari 1952, masa kecilnya dihabiskan seperti anak-anak pada umumnya. Menginjak remaja ia sering mendampingi sang kakak berlatih balap sepeda dari Surabaya ke Gresik dan sebaliknya, kemudian secara iseng rajin mengikuti (mengekor) para pebalap sepeda senior yang sedang berlatih, dengan rute Surabaya – Malang atau Surabaya – Lumajang. Karena bakat, keberanian dan kemampuan fisiknya diatas rata-rata, maka para pelatih mengajaknya bergabung, lalu mengangkat Suharto menjadi atlet muda balap sepeda Nasional pada tahun 1970-an. Tahun 1975 usia Suharto 23 tahun, usia emas yang matang dan penuh gelora. Oleh Pelatnas PB ISSI dirinya dikirim ke Swiss untuk pendalaman skill, berlatih fisik maupun mental bersama atlet-atlet muda lainnya dari berbagai cabang olah raga. Tidak hanya Indonesia, masing-masing negara dunia mengirimkan atlet muda berbakatnya ke Swiss, bahkan Suharto sempat bertemu Diego Armando Maradona, pesepak bola legendaris asal negeri Argentina, yang kebetulan saat itu dalam satu pusat pelatihan.

Sepulang dari Swiss ia aktif mengikuti Kejurda, PON, SEA GAMES, ASEAN GAMES dan ajang internasional lainnya. Bukan Suharto kalau tidak meraih prestasi, ternyata nama Arek Suroboyo itu disegani oleh negara-negara Eropa maupun Asia, puluhan piala serta medali selalu dibawanya pulang. Di Sea Games Thailand tahun 1977 dirinya menyabet medali perak, di Sea Games tahun 1979 berhasil menyabet medali emas dan masih banyak lagi prestasi yang telah diraih. Puluhan medali, piala dan piagam telah dikumpulkannya, menjadi kebanggaan kontingen Merah Putih. Ketika itu martabat Bangsa ada di pundaknya dan Suharto muda berhasil menjadi Patriot, membawa harum nama Indonesia. Hasil yang dicapainya tidak mudah, melainkan melalui perjuangan yang cukup berat dan penuh resiko. Dirinya mengaku pernah mengalami kecelakaan dalam sebuah latihan, hingga dirawat selama dua bulan di luar negeri karena mengalami koma berkepanjangan. Diluar training center, Suharto berlatih sendiri di jalanan, dengan mengejar dan menyalip truk, dilakukan berulang untuk melatih keberanian dan kepercayaan diri. Ayah dan Ibunya harus rela menjual motor kesayangan serta perhiasan, guna membeli sepeda balap baru untuk mendukung karir olahraga Suharto. Rupanya prestasi cemerlang yang telah digapainya penuh lika liku, hanya orang bermental baja yang sanggup melakukannya.

Tahun 1980-an Suharto gantung sepeda, berbagai macam pekerjaan dilakoninya untuk menyambung hidup. Pernah menjadi wasit balap sepeda, pegawai honorer, kernet truk & angkot, jualan AC bekas, buruh serabutan, berjualan ayam potong dan terakhir sebagai penarik Becak. Pernah ada tawaran untuk menjadi pelatih di Malaysia, Brunei Darusalam dan Jogja namun ditolaknya. Suharto menuturkan “Saya ingin melatih di tanah kelahiran sendiri dan saya ingin melihat putra putri Surabaya bisa maju berprestasi menjunjung tinggi martabat Bangsa” pintanya. Sungguh cita-cita yang mulia, rasa cinta dan loyalitas kepada kotanya tidak bisa diragukan. Di masa tuanya Suharto menempati rumah kontrakan berukuran 4 x 5 meter, yang telah ditinggali bersama anak dan istrinya selama 25 tahun. Bukan waktu yang singkat untuk bertahan dirumah yang amat sederhana itu, apalagi dirinya juga menderita Hernia yang membatasi segala aktifitas kerjanya. Supaya gerak tubuhnya leluasa dan dapat menjalani aktifitas dengan normal, Suharto harus menopang bagian bawah perutnya dengan kedua bilah kayu, keadaan yang sangat memprihatinkan bagi sang mantan atlet, yang dulu pernah mengharumkan nama Bangsa.

Dulu karirnya berada diatas lintasan balap sepeda, mengabdi jiwa raga kepada negara, meraih segudang prestasi. Kini dihabiskan diatas Becak, menyusuri aspal kota yang panas guna melayani masyarakat. Puluhan kilometer ditempuhnya demi menopang kebutuhan keluarga. Suharto sosok pria tua yang berjiwa besar, tidak ada kata menyesal, menurutnya apa yang telah ia lakukan merupakan bagian dari Bela Negara. Dan ternyata Arek kampung Suroboyo itu mampu mengharumkan nama Bangsanya, keteladanannya patut dicontoh oleh siapa saja. Dari Surabaya untuk Indonesia, menembus cakrawala dan menjadi sorotan dunia. Terima kasih Pak Suharto, Surabaya bangga memilikimu, jasa serta prestasimu selalu kami kenang dan menjadi catatan sejarah olahraga dunia. (wan/ts)

NB : Kini Pak Suharto menjadi instruktur di Kampung Anak Negeri, sebuah pondok sosial milik Pemkot Surabaya yang membina anak-anak jalanan dan kurang mampu