Pesatnya teknologi yang masuk di Indonesia tak mampu dibendung, banyak tradisi budaya yang lambat laun tergerus oleh modernisasi tersebut, salah satunya ialah mainan tradisional. Dahulu mainan tradisional dimainkan berkelompok dan individu secara nyata dan bertatap muka, kini tergantikan oleh game-game online virtual yang tak memerlukan banyak tenaga dalam memainkannya.

Mau tidak mau anak-anak pun harus mengikuti perkembangan itu, berdamai dengan teknologi masa kini. Namun di tengah gencarnya modernisasi, ternyata masih ada pedagang mainan tradisional yang tetap setia dan bertahan menjajakan mainan-mainan jadul. Lampit (53) pria paruh baya asal Lamongan, hingga kini masih berjualan Cekikrek, mainan tradisional yang terbuat dari anyaman daun lontar berbentuk binatang dan memiliki roda.

Cekikrek yang masih bertahan di era milenial

Lampit mengaku Cekikrek dagangannya itu dibuat sendiri, sebagian lainnya mengambil dari pengrajin di kampungnya yang kemudian ia jajakan keliling kampung di kota Surabaya menggunakan sepeda angin. Lampit bercerita dirinya telah berjualan mainan tradisional ini selama 25 tahun. Bahkan ia pernah berjualan mainan home made ini hingga ke Jawa Barat.

Menurutnya, satu buah mainan yang ia jual seharga sepuluh hingga lima belas ribu rupiah ini bisa mendapat untung yang lumayan jika terjual habis. “Terkadang juga hanya dapat sedikit, tak menentu tergantung situasi” kata Lampit. Melihat estetiknya, Cekikrek tak hanya bisa dimainkan oleh anak-anak namun bisa dijadikan pajangan karena bentuknya yang unik dan mempunyai unsur seni. Semoga mainan tradisional yang unik ini mampu bersaing di tengah era millenial. (ts)