Sebagai kota metropolis, Surabaya identik dengan keramaian dan hingar bingar. Padahal tidak sepenuhnya seperti itu, nyatanya di Surabaya masih ada kawasan yang memang sepi dan tenang meski letaknya di jantung kota. Melalui kegiatan “Jelajah Seram” Wisata Sejarah Malam, komunitas Surabaya Historical mengajak anak-anak muda Surabaya menelusuri sejarah kotanya pada Sabtu malam (26/10).

Dimulai di Kampung Bubutan, jalan-jalan malam ini mengupas bagian timur keraton Surabaya. Ada beberapa era yang mereka telusuri pada malam itu diantaranya fase klasik, kolonial hingga kemerdekaan. Ketika berada di ujung selatan Jalan Pahlawan tepatnya di Alun-alun Contong, aura berbeda mulai mereka rasakan. Suasana hening dan mistis menyelimuti malam itu. Para peserta yang mempunyai kepekaan merasakan hal tersebut selama perjalanan berlangsung.

Hal ini diakibatkan karena adanya energi metafisika yang menyatu di tempat tersebut, sebab dahulu pernah terjadi dua peristiwa menyedihkan di kawasan itu. Setelah dari Alun-alun Contong, perjalanan dilanjutkan ke Loji Nahrain, Hoofbestur NU hingga ke bekas percetakan kuno jaman Belanda. Di tempat yang merupakan cluster dari keraton Surabaya ini dijelaskan, bahwa dahulu di salah satu ruas pernah terdapat istal yang kemudian dibongkar lalu dijadikan pemukiman modern, namun uniknya pemukiman ini tak ditempati alias dibiarkan kosong karena hal-hal diluar nalar.

Retsa seorang mahasiswa peserta Jelajah Seram menuturkan “Melalui kegiatan ini saya jadi mengerti sejarah Surabaya yang tak saya ketahui. Ada baiknya kegiatan ini digelar secara periodik, misal dua minggu sekali” pungkasnya. Setelah dari Jalan Pahlawan perjalanan dilanjutkan menelusuri Jalan Kramat Gantung dan diakhiri di Jembatan Peneleh, sebuah wilayah yang dahulu pada masa klasik merupakan perbatasan Keraton Surabaya dengan wilayah tetangga. (cs/ts)