Wira Bhakti Letnan Achijat, Pasukan Alap-alap 1945

Terlahir di Kampung Simokerto dari sepuluh bersaudara, Mochamad Achijat merupakan putra keenam dari pasangan Joyo Rais dan Muninten. Ia tumbuh seperti remaja kebanyakan. Besar dari keluarga berkecukupan dan hidup di tengah-tengah lingkungan multi kultural tak membuatnya menjadi anak yang berpangku tangan. Bahkan di usianya yang telah menginjak empat belas tahun, ia sudah bisa mencari penghasilan sendiri. Achijat adalah sosok pemuda mandiri, ulet dan pemberani, sifat khas yang dimiliki oleh Arek-arek Suroboyo. Karena itu ia cukup disegani kawan-kawannya.

Achijat menghabiskan pendidikannya sebagai santri kampung, duduk di bangku Sekolah Rakyat dan kepanduan jaman Belanda. Seperti biasa, saat matahari mulai beranjak, Achijat bergegas pergi ke Pasar Turi, sebuah rutinitas yang selalu ia jalani tiap hari. Sebab di tempat itulah ia bekerja mencari upah dengan berdagang fiets (sepeda) dan segala macam perlengkapannya. Mendapat uang dari berjualan fiets, hasilnya ia kumpulkan untuk membantu keluarga dan memenuhi kebutuhan pribadi. Memang, sejak remaja Achijat telah memiliki jiwa dagang. Kemampuan bisnisnya menurun dari sang ayah yang juga seorang pedagang.

Let Achijat saat duduk di kepanduan

Perdagangan berubah sejak Jepang masuk dan menguasai Hindia Belanda pada tahun 1942. Pasar-pasar mulai sepi, toko-toko kelontong banyak yang tutup. Maka dari itu rakyat tak mampu membeli kebutuhan sehari-hari, lambat laun roda ekonomi terhenti. Apalagi peredaran bahan pangan di kontrol dan di monopoli langsung oleh pihak Jepang. Dalam hal ini pemerintah Jepang sangat protektif dan kerap menugaskan tentaranya untuk berpatroli hingga masuk ke dalam pasar.

Brak brak brak.. Derap sepatu terdengar memecah pagi. Dengan wajah masam dan senapan tersandang dibahu, empat prajurit Jepang keluar masuk lorong pasar. Sorot matanya yang tajam menyiratkan tak kenal belas kasihan. Tampak wanita tua salah seorang pedagang pasar ketakutan karena di intimidasi oleh tentara Jepang. Mengetahui kejadian itu dan supaya tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Achijat berusaha melerai. Atas tindakan nekadnya tersebut, ia hampir dihajar oleh tentara Jepang. Bagi Achijat membela kaum yang lemah sudah menjadi kewajibannya sebagai sesama manusia.

Ternyata selain mempunyai jiwa dagang, rasa welas asih yang dimiliki Achijat cukup tinggi. Ia tak segan-segan membantu sesamanya jika ada yang mengalami kesusahan. Nilai-nilai kemanusiaan yang dahulu pernah diajarkan saat ngaji dan menjadi pandu di bangku Sekolah Rakyat, ia terapkan di kehidupan sehari-hari. Sebab bagi Achijat, manusia sebagai mahluk sosial harus mengedepankan “Sifat yang jujur dan saling tolong menolong agar senantiasa tercipta rasa damai”.

Insiden Hotel Yamato

Setelah Jepang kalah, malam hari tanggal 17 Agustus 1945 Berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai di telinga masyarakat Surabaya. Indonesia sebagai negara merdeka, secara formal tidak ada hubungan lagi dengan pemerintahan Jepang maupun Belanda. Namun gegap gempita kemerdekaan bangsa Indonesia ternodai oleh segerombolan orang-orang Belanda dibawah pimpinan W.V. Ch. Ploegman. Pada 19 September 1945 Ploegman mengibarkan bendera merah putih biru di Hotel Yamato yang terletak di Jalan Tunjungan.

Mendengar kabar yang sangat melukai hati itu, darah Achijat mendidih, bersama kawan-kawannya ia geruduk Hotel Yamato. Sesampai disana ratusan massa Arek-arek Suroboyo telah memadati bagian depan hotel dan keadaan mulai memanas, dengan mengacungkan senjata tajam mereka teriakkan agar bendera Belanda yang berkibar dipuncaknya segera diturunkan. “Heei londo jancuk !!..” Tanpa ada komando tiba-tiba dua tangga bambu direbahkan pada bagian utara Hotel Yamato. Dengan tertatih Arek-arek memanjatnya, termasuk Achijat yang dengan gesit sudah berada di kisi-kisi atap hotel, namun naas Achijat terjatuh. Peristiwa terjadi dengan cepat, hingga akhirnya warna biru pada bendera Belanda itu dapat disobek dan menjadi sang Saka Merah Putih.

Bergabung Laskar Hizbullah dan Insiden Blauran

25 September 1945, di usianya yang ke tujuh belas Achijat bergabung dengan Laskar Hizbullah. Karena cakap dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik sejak kecil, ia ditunjuk sebagai kepala seksi IV membawahi wilayah Surabaya timur, yang berkedudukan di daerah Sidotopo dan sekitarnya. Akhir bulan September hampir semua markas tentara Jepang di penjuru Surabaya diserbu Arek-arek. Oleh Polisi Istimewa pimpinan Inspektur Satu M. Jasin, tentara Jepang yang telah kalah perang diharuskan menyerahkan seluruh persenjataannya. Di Blauran terjadi insiden, mobil yang dikendarai oleh patroli tentara Jepang dirampas Arek-arek. Jatuh korban di pihak Jepang, diantaranya ditangkap hidup-hidup.

Ternyata, otak sekaligus pemimpin “Insiden Blauran” yang heroik itu adalah Achijat, sang petarung muda asal Kampung Simokerto. Peristiwa Blauran adalah reaksi cepat dan nekat namun terperinci, bagai Alap-alap menerkam mangsanya. Semenjak insiden tersebut orang-orang menjuluki kelompok Achijat dengan sebutan “Pasukan Alap-alap”. Awal Oktober 1945 Achijat sempat bergabung dengan BKR Kota tapi tak lama. Ia memilih keluar dan membesarkan Pasukan Alap-alap yang menjadi bagian dari Laskar Hizbullah. Achijat merasa Pasukan Alap-alap lebih membutuhkan tenaga serta fikirannya, baginya bergabung dimanapun tak menjadi masalah dan tak mengurangi rasa bhaktinya kepada Merah Putih.

Pasukan Alap-alap di Garis Depan

Pada tanggal 25 Oktober 1945 ribuan tentara Inggris dari Brigade Infanteri ke 49 Divisi India ke 23 mendarat di Tanjung Perak. Dengan segera rombongan tentara Inggris tersebut menduduki tempat-tempat strategis di Surabaya. Bahkan sekelompok tentara Inggris yang berasal dari India dan Nepal (Gurkha) bertindak semena-mena terhadap rakyat Surabaya. Gelagat tak baik dicium oleh para pejuang. Minggu 28 Oktober 1945 saat fajar segenap TKR, Badan Kelaskaran, Barisan Pemuda, rakyat Surabaya termasuk Pasukan Alap-alap dibawah komando Achijat melancarkan serangan besar-besaran ke seluruh markas tentara Inggris yang letaknya terpencar di dalam kota.

Pertempuran sengit tak terelakkan, selama tiga hari berturut-turut seluruh pos tentara Inggris disapu bersih oleh para pejuang. Pasukan Alap-alap dibawah komando Achijat yang berjumlah 30-an orang ini tergolong mumpuni, berisikan para petarung. Regu ini mirip pasukan elite, memiliki persenjataan lengkap dengan ketrampilan yang berbeda-beda pada tiap anggotanya. Senjata ringan, granat tangan, mortir hingga mitraliur, ditambah keahlian militer hasil didikan sekolah jaman Jepang menambah daya dobrak Pasukan Alap-alap. Tak mustahil jika pos-pos tentara Inggris setingkat peleton selalu porak poranda saat berhadapan dengan pasukan ini.

Pasukan Alap-alap di masa gerilya tahun 1947

Akhir Pertempuran Fase Pertama

30 Oktober 1945 Pasukan Alap-alap mengambil kedudukan di sisi timur Willemsplein tak jauh dari Jembatan Merah. Yang menjadi sasaran utama mereka adalah Gedung Internatio, yang dijadikan markas infanteri tentara sekutu. Tret tet dor dor dorr! Moncong senjata api mulai menyalak. Aroma bubuk mesiu menyeruak dimana-mana, asap pekat mengepul-ngepul. Bau anyir darah menambah horor tempat itu. Tembak menembak berlangsung sejak pagi tiada henti. Dinding Gedung Internatio yang besar berlantai dua banyak mendapat lubang akibat serangan membabi buta Arek-arek Suroboyo. Sempat terjadi gencatan senjata, utusan dari pihak Indonesia dan Inggris masuk ke dalam gedung, namun tiba-tiba keadaan tak terkendali.

Puncaknya terjadi pada sore hari, tentara Inggris melepaskan tembakan dari atas Gedung Internatio ke arah pejuang. Achijat sang petarung, komandan Pasukan Alap-alap mengendap maju, lalu membalas dengan membidikkan pistolnya ke arah sebuah mobil yang berhenti diantara taman Willemsplein (Kini Taman Sejarah). Hari mulai gelap, tembak menembak tak dapat dihentikan, ratusan peluru terus berhamburan, saling berbalas dari kedua belah pihak. Tiba-tiba suara letusan terdengar dari arah barat, ternyata salah satu mobil yang berhenti diantara taman Willemsplein terbakar, seorang pria eropa berkulit putih berseragam tentara Inggris terkapar disampingnya. Kemudian baru diketahui, ternyata pria berseragam tentara Inggris berperawakan tinggi yang terkapar itu adalah Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby, pemimpin tentara Inggris dari Brigade 49 Divisi 23.

Mendengar kabar seorang perwiranya tewas, panglima tentara sekutu Letnan Jenderal Sir Philip Christison marah besar. Dengan nada keras ia keluarkan ultimatum agar segenap pasukan republik dari TKR, Barisan Pemuda, Badan Kelaskaran hingga rakyat sipil yang memegang senjata untuk menyerah pada tanggal 10 Nopember, jika tidak kota Surabaya akan dihancurkan. Menanggapi hal itu Gubernur Suryo diakhir pidatonya pada tanggal 9 Nopember 1945 menyatakan dengan tegas “Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris kita akan memegang teguh sikap ini, kita tetap menolak ultimatum itu !…” Disusul oleh pidato Bung Tomo yang berapi-api agar segenap Arek-arek Suroboyo, beserta seluruh pemuda Indonesia yang berada di Surabaya menolak takluk terhadap ancaman tentara Inggris.

Komunitas Surabaya Historical & Luntas ziarah di makam Letnan Achijat

Pertempuran Fase Kedua dan Bergabungnya Tentara India Muslim

Waktu merayap perlahan, matahari pagi mulai kelihatan, ketegangan makin memuncak. Tanggal 10 Nopember 1945 rakyat Surabaya tetap disiplin tidak mulai menembak. Namun ternyata pihak Inggris menepati janjinya, pukul enam pagi serangan dilancarkan. Meriam-meriam dari kapal perang ditembakkan. Peluru dari senapan mesin pesawat pemburu dihamburkan memberondong isi kota. Infanteri tentara Inggris dengan didampingi kendaraan lapis baja mulai merangsek kedalam kota melepaskan tembakan tiap bertemu dengan pihak pejuang. Praktis perkampungan penduduk Surabaya yang berada di sebelah utara hancur, terbakar dan korban berjatuhan.

Melihat keganasan tentara Inggris menghancurkan tanah kelahirannya, Arek-arek Suroboyo dan segenap pemuda Indonesia memberikan serangan balik. Hari itu adalah hari perlawanan, lebih baik gugur berkalang tanah daripada hidup terjajah !. Ketika itu Pasukan Alap-alap berada di sektor utara, di utara kota Surabaya bersama Kelaskaran dan Barisan Pemuda lainnya. Achijat dan pasukannya mengambil posisi di pinggir jalan, bersembunyi dibalik tumpukan karung pasir. “Gurkha tekoo !” teriak seorang pemuda di seberang jalan memberi tanda. Musuh makin lama makin mendekat, suara mereka mulai terdengar.

Tentara Gurkha berjalan rapi, jarak mereka tinggal lima puluh meter. Kini menciut menjadi empat puluh meter, tiga puluh meter, kemudian dua puluh meter. Keadaan hening, jantung berdegup kencang. “Allahuakbar ! Tembaaakk !!” perintah Achijat. Peluru berhamburan, tiga orang Gurkha tersungkur di jalan. Sesudah itu hujan peluru dan saling balas, senapan mesin milik tentara Inggris berpesta pora. “Tembak dari samping !” teriak Achijat. Tiba-tiba terjadi sebuah ledakan hebat, Achijat terkejut karena ledakan itu dekat sekali. Ternyata dari kejauhan salah satu anggota Pasukan Alap-alap menggunakan Tekidanto, mortir jinjing peninggalan Jepang.

Akibat tembakan yang gencar disertai ledakan Tekidanto, tiga puluh tentara Inggris bergelimpangan, berserakan seperti daun yang rontok dari pohonnya. Hanya beberapa orang yang hidup, tak berkutik dengan posisi tiarap lalu ditangkap. Seorang tentara bersembunyi di pepohonan, menyembulkan badannya kemudian menyerahkan diri. Mereka yang masih hidup langsung diseret oleh Pasukan Alap-alap ke pinggir jalan, dilucuti senjatanya. Dua tentara Inggris asal India memohon ampun agar tidak dicabut nyawanya. Ternyata dua orang tentara Inggris itu bernama Abdullah dan Fauzi, India Muslim. Keduanya terhenyak saat pekik takbir dikumandangkan Achijat. Mereka menyesal dan menyatakan diri agar diperbolehkan bergabung dengan Pasukan Alap-alap, karena yang di peranginya adalah saudaranya sendiri sesama Muslim. Atas kemurahan hati Achijat, Abdullah dan Fauzi diajak bergabung membela panji Merah Putih. Tiga minggu lamanya Pertempuran Surabaya berkecamuk, Pasukan Alap-alap terus bertempur di garis depan, menyabung nyawa hingga bergeser keluar kota. (wan-shc/ts)

Surabaya Historical