BATALYON DJAROT

Pasca diproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, Kota Surabaya membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) dibawah pimpinan Soengkono tujuannya untuk menjamin keamanan di kota Surabaya. R. Djarot Soebijantoro yang pada masa pendudukan Jepang tergabung dalam Pasukan Jibakutei (Pasukan Berani Mati), membentuk barisan penggempur yang anggota-anggotanya berasal dari ex Jubakutei, pelajar, heiho dan pemuda-pemuda Surabaya. Barisan Penggempur ini kemudian menjadi Batalyon tanggal 9 Desember 1945. Nama untuk batalyon disesuaikan dengan nama komandanya yaitu Batalyon Djarot.

Sebelum meletusnya pertempuran Surabaya, kota Surabaya berada dalam status ancaman, bermula dari tewasnya A.W.S. Mallaby komandan Brigade 49 Divisi 23 Inggris saat upaya perundingan antara Inggris dan Indonesia dilakukan. Ancaman datang bergelombang yang secara keseluruhan mengultimatum rakyat Surabaya beserta jajaran pasukan tempurnya untuk menyerah kepada Inggris. Perjanjian antara Inggris dan Belanda sekutunya, telah tercium oleh para pemimpin di Surabaya sehingga Gubernur Suryo, Sungkono dan Doel Arnowo segera menghimbau masyarakat agar tetap waspada dan selalu siap siaga menghadapi kemungkinan perang. Pada tanggal 9 November 1945 tepat pukul 14.00 Inggris mengultimatum Surabaya, sehingga TKR bergegas mengadakan pertemuan komandan termasuk Mayor Djarot Subiyantoro sore harinya pukul 17.00 WIB. Pertemuan tersebut membahas mengenai langkah yang harus dilakukan oleh kesatuan bersenjata RI dalam menghadapi ancaman yang dikelurkan oleh Mansergh.

Setelah pertemuan tersebut dilakukan, seluruh pasukan kota Surabaya membuat sumpah kebulatan tekad yang di dalamnya diwakili oleh masing-masing komandan yang salah satu diantaranya Mayor Djarot sebagai komandan Barisan Berani Mati/TKR Djarot. Dalam pertemuan tersebut juga dibentuk komando pertahanan Surabaya yang dipimpin oleh Sungkono sebagai komandan. Berdasarkan pemetaan wilayah komando territorial perang pasukan TKR Kota Surabaya yang dibuat oleh Sungkono. Hari pertama pertempuran pada tanggal 10 November pukul 06.00,pasukan Djarot mulai melakukan operasinya. Mayor Djarot selaku pimpinan Barisan Berani Mati (BBM) menggabungkan diri dibawah komando pertahanan sector tengah Letkol kretarto, mereka (Pasukan Djarot) mulai menyerang ke wilayah pertahanan Inggris. Mula-mula mereka datang dari arah selatan menuju kearah Jl. Tanjung Perak setelah diketahui bahwa pasukan Inggris melanggar perjanjian batas beroperasi yaitu 800 meter dari Ujung. Pasukan Sekutu membawa tank dan panser berjalan masuk ke tengah kota. Dengan sigap, pasukan Djarot bersama pasukan lainnya menyerang tank-tank tersebut. Tugas pasukan ini walaupun sebagai pasukan pembantu pertahanan Sektor tengah, namun cukup berhasil meluluhlantahkan tank-tank dan panser Sekutu. Mereka tidak takut untuk masuk ke tank-tank musuh dengan melompat dan membuka tutup kemudi, lalu dilemparkanlah geranat ke dalam tank tersebut sehingga berhamburlah mayat tentara sekutu setelah granat itu meledak.

Keberanian Mayor Djarot di dukung dengan senjata yang diperoleh pasukannya seperti peluru anti tank dan granat. Berjenis-jenis kendaraan lapis baja seperti brencarrier, panser dan tank banyak yang meledak karena aksi mereka, Anggota BBM beroperasi dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing menjinjing sebuah bom, kemudian membenturkan diri ke kendaraan perang musuh dan menghancurkannya. Tindakan yang kelewat berani ini semakin menjadi-jadi pada saat perang memasuki hari ketiga. Keberanian mereka menimbulkan kekaguman di kalangan pejuang dan keterkejutan di pihak lawan. Tentara Inggris terperanjat dan menuding Indonesia menggunakan orang-orang Jepang untuk melakukan bunuh diri, karena mereka menganggap hanya orang Jepang yang berani berbuat nekat seperti itu akan tetapi tudingan ternyata keliru, keberanian tersebut tidak hanya dimiliki bangsa Jepang tetapi juga Bangsa Indonesia yang tidak ingin dijajah kembali.

Mundurnya pasukan Surabaya keluar kota membuat seluruh komandan dibawah komando pertahanan Surabaya berpencar mengamankan markas komando serta mempertahankan wilayah yang tersisa agar tidak dikuasai oleh Inggris. Batalyon dibawah pimpinan Mayor Djarot Soebijantoro berada di Mantup selama kurang lebih 2 (dua) tahun lamanya sampai menunggu instruksi dari Letkol Kretarto selaku komandan Resimen untuk menyusup ke Surabaya. Keberadaan Batalyon Djarot dalam sector pertahanan wilayah Cerme, Mantup dan Kemlagi sedikitnya mampu memukul mundur pasukan Belanda yang ingin memperluas wilayahnya. Mantup juga masuk daerah kekuasaan divisi V Ronggolawe , sedangkan untuk wilayah sector Surabaya barat masuk kedalam sector II front Ronggolawe. Selain dari kalangan tentara regular, Mayor Djarot dalam tugasnya dibantu oleh lasykar-lasykar rakyat yang berada di desa Mantup terutama atas komando Kepala desa Mantup sehingga mampu mendorong masyarakat setempat ikut melakukan perlawanan. Kesaksian salah seorang pejuang putri yang kami temui, Kepala Daerah Mantup menghadiahi Komandan Djarot dengan seekor kuda putih bersih dan Kuda tersebut ditunggangi Pak Djarot memanggil barisan pasukannya saat menyusup kembali ke Surabaya. Pak Djarot dengan gagah perkasa menunggangi kuda dari kampung ke kampung memanggil anak buahnya dan dengan sigap pasukan sudah terkumpul dengan lengkap tanpa sepengetahuan pihak Belanda.

Pada masa agresi militer ke II , Belanda melakukan serangan pendadakan ke wilayah Lamongan sehingga memaksa pasukan yang berada di Lamongan mundur. Mayor Djarot sebenarnya diharuskan tetap di basis asalnya yaitu perbatasan Lamongan dan Gresik. Akan tetapi dikarenakan posisi pasukan terkepung oleh Belanda yang datang dari sektor Babat menyebabkan Mayor Djarot harus berfikir lebih luas mengenai pertahanan yang dibangunnya, hingga diputuskanlah untuk meninggalkan pertahanan tetapnya di Mantup. Mayor Djarot memindahkan markasnya ke sektor Sambeng, Ngimbang dan Kambangan, terakhir bermarkas di kedungadem Bojonegoro. Pertempuran frontal pun terjadi pada tanggal 25 Mei 1949 di daerah gerilya Kedungadem melawan pasukan Belanda batalyon Gajah Merah. Korban pihak Belanda berjumlah 45 orang tewas dan 20 luka-luka. Korban pihak Indonesia jatuh sebanyak 6 orang.

Pada bulan Agustus 1949, Mayor Djarot memerintahkan pasukannya untuk mengisi kantong-kantong pertahanan di sepanjang perjalanan menuju kota Surabaya. Serangan bertubi-tubi diperintahkan Mayor Djarot kepada pasukannya untuk melemahkan kekuatan Belanda. Tujuan Mayor Djarot yaitu kembali menduduki kota Surabaya bersama pasukannya. Djarot masuk ke kota Surabaya dengan membawa dokumen-dokumen rahasia yang oleh Belanda diketahui berisi rencana penyusupan pasukan Republik di Surabaya dan di kota-kota besar lainnya. Dalam surat tersebut menurut keterangan menteri Departemen luar negeri Belanda Maarseveen, berisi instruksi bahwa semua perintah operasi harus diberikan sebelum tanggal 3 Agustus 1949 dimana pada tanggal tersebut perjanjian untuk menghentikan tembak-menembak dilakukan. Upaya tersebut dilakukan oleh Mayor Djarot dengan membawa pasukannya sebanyak 65 orang agar ketika dilakukan genjatan senjata dengan dokumen yang dibawa, maka keberadaan TNI dianggap sah berada di dalam kedudukannya saat itu yaitu di dalam kota Surabaya. Mayor Djarot masuk ke kota Surabaya dengan menggunakan motortruk yang canggih, motortruk tersebut kemudian dikenal dengan Garnisun . Masuknya Djarot ke dalam kota kemudian diikuti oleh sekitar 200 orang tentara Republik lainnya yang berpencar berjalan kaki serta bersembunyi dari pandangan tentara Belanda. Mayor Djarot membagi mereka menjadi beberapa kelompok yang kemudian menempati titik-titik pinggiran kota antara lain Menganti, Kedurus dll.

Mayor Djarot ditangkap dan dibawa ke sel tahanan yang terletak di daerah Gunungsari. Penangkapan Mayor Djarot menjadi pembahasan yang mengerucut panjang terutama setelah Belanda memerintahkan pasukan TNI Jawa Timur untuk menarik pasukannya dari wilayah demarkasi Belanda sebelum perjanjian Konfrensi Meja Bundar (KMB) selesai dilaksanakan dan menghasilkan keputusan final. Setelah dibebaskan, Mayor Djarot memerintahkan pasukannya untuk menarik diri dari dalam kota Surabaya untuk kemudian bergabung kembali bersama pasukannya di Kedungadem, Bojonegoro. Menurut catatan surat kabar berita harian Republic, evakuasi penarikan pasukan dilakukan dengan bantuan Belanda sehingga tidak terjadui kontak senjata ketika berjalan meninggalkan kota Surabaya. Penarikan dilakukan dimulai dari sektor pertama yaitu daerah kedamean,menganti,dll. Kemudian sektor kedua didaerah randesa Surabaya, Sono, dan Lontar. Pasukan Djarot diantarkan oleh Belanda ke markasnya yaitu daerah Kedungadem sebelah selatan Babat.

Pasca penyerahan kedaulatan Republik Indonesia dari Belanda, tugas Mayor Djarot sebagai kepala keamanan yaitu untuk memulihkan stabilitas pasca diserahkannya wilayah kedaulatan Surabaya oleh Belanda kepada pemerintah RI . Untuk menjaga dan mengamankan kota dari bahaya maka dibentuklah komando yang ditugaskan untuk melakukan pembinaan territorial dan sekaligus sebagai pengawastata tertib yang diterapkan di Surabaya. Selepas dibentuknya komando, para komandan dan seluruh jajaran pemerintahan kota Surabaya mengadakan pertemuan akbar di lapangan Tambaksari yang dimuat dalam surat kabar harian “Java Bode” tanggal 14 Desember 1949. Pertemuan tersebut sebelumnya direncanakan oleh Badan Pemuda Indonesia yang bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pemerintahan baru di Surabaya dibawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Sur/TS)

 

Sumber foto : DHD 45, gahetna.nl,
Koleksi pustaka rakyat, Surabaya Historical