Memasuki bulan Maulud menjadi tradisi tersendiri bagi masyarakat Surabaya. Surau maupun Masjid di tengah perkampungan mulai melakukan bersih-bersih secara gotong royong.

Di dapur, para ibu memasak nasi kuning dan menyiapkan buah-buahan guna memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Tak ketinggalan anak-anak pun mulai sibuk mencari permainan yang sedang musim saat bulan Maulud tiba, salah satunya Topeng Muludan.

Dahulu Topeng Muludan sangat mudah dijumpai. Di Pasar Genteng, Pasar Pandegiling, Pasar Blauran hingga Pasar Pegirian, topeng ini bisa didapat. Namun kini mulai langka, banyak pengrajinnya yang beralih ke usaha lain.

Mistari salah satu penjual Topeng Muludan di daerah Simo menuturkan “Topeng Mulud tak seramai dulu mas. Sekarang banyak anak-anak yang lebih suka permainan online daripada dolanan tradisional. Mungkin pengaruh jaman, yang dahulu digemari sekarang mulai ditinggalkan” keluhnya.

Topeng Muludan merupakan salah satu kerajinan tangan dan seni khas rakyat Surabaya yang populer di era 70 – 90an, biasa muncul saat perayaan Maulid Nabi, pesta Agustusan, tahun baru dan sebagainya. Entah siapa yang menciptakannya.

Dahulu anak-anak kecil di perkampungan Surabaya sangat familiar dengan menyebutnya Topeng Muludan. Terbuat dari bahan daur ulang, yakni kertas koran maupun buku-buku yang tidak terpakai lalu diolah menjadi seni kerajinan tangan.

Bahan-bahan tadi dihancurkan lalu dicampur dengan adonan tepung kanji cair, kemudian dicetak pada sebuah figur. Tahap terakhir dengan mengeringkan dan mengecatnya warna-warni sesuai imajinasi.

Ada berbagai macam bentuk Topeng Muludan antara lain, fabel (binatang), robot, tokoh kartun dan lain-lain. Harganya pun cukup terjangkau, menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak dan milik semua lapisan.

Salah satu jenis Topeng Muludan

Dulu Topeng Muludan ramai pembeli, kini sepi peminat, meski ada hanya bisa dihitung dengan jari. Nampaknya kalah bersaing dengan topeng plastik modern, yang lebih awet dan murah harganya.

Topeng Muludan langka di tepian jaman, namun dulu banyak mewarnai generasi 70 – 90an, merekam memori meski sebuah permainan. Primadona di masa lalu, yang kini senyap tergerus waktu. (wan/ts)