Lanjutan Kisah Pembunuhan Brutal Satu Keluarga di Surabaya

Langit malam itu tampak mendung, hawa terasa dingin, dan rembulan tak kelihatan sinarnya karena bersembunyi dibalik awan kelabu. Jalanan beraspal di pemukiman tersebut masih basah karena hujan baru reda setengah jam yang lalu. Jarum jam juga masih menunjukkan pukul 9 malam, tapi tak seorang pun warga kelihatan, mungkin cuaca dingin membuat mereka malas keluar rumah.

Teng teng.. teng.. Sayup-sayup terdengar suara besi tipis saling beradu, nadanya tak keras tapi teratur. Rupanya suara tadi berasal dari alat penggorengan milik Pak Munif, yang ia pukul berulang kali untuk menjajakan dagangannya. Pria paruh baya yang berasal dari Lamongan itu ternyata penjual tahu tek keliling di pemukiman tersebut, dan baru seminggu ia berdagang disana.

“Malem jumat, kok dungaren sepi, nang ndi wong-wong kampung iki.. Mosok isih sore wis podo turu kabeh..” gerutu Pak Munif karena tak ada satupun pelanggan yang membeli dagangannya sejak petang akibat hujan turun begitu lama dan tak kunjung reda. Tiba-tiba terdengar suara wanita “Paak.. Tumbas tahu tek” suaranya kalem tapi bisa didengar hingga kejauhan, sekitar dua puluh meter dari posisi Pak Munif.

Mendengar panggilan tersebut Pak Munif langsung menyahut dan menggeser gerobaknya ke depan rumah mewah berwarna putih, yang pagarnya terbuka lebar. Kurang dari lima menit ia telah sampai di muka pagar. Pak Munif disambut oleh wanita berusia 40 tahunan yang berdiri menyamping. Dengan nada datar wanita tersebut memesan lima piring tahu tek, kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.

Bagi Pak Munif ini adalah rejeki, tanpa banyak bicara ia langsung panaskan penggorengan dan meracik tahu tek pesanan wanita tadi. Seperti chef handal. Tak beberapa lama, lima porsi tahu tek telah siap disajikan dan segera ia antarkan ke dalam rumah mewah tersebut. Dua kali Pak Munif harus mengantar makanan ke dalam rumah itu, karena nampan yang ia miliki tak mampu menampung lima porsi sekaligus.

“Mbak niki tahu tek’e..” tegur Pak Munif sewaktu mengantar makanan ke dalam rumah. Saat itu, ia melihat ruang tamu yang luas dengan cahaya sangat terang, semua lampu dinyalakan seperti mau pesta. Satu keluarga duduk disana, ada dua anak kecil, dua wanita dan seorang bapak. Mereka menengok ke arah Pak Munif sambil tersenyum tanpa mengeluarkan suara. Sang wanita melambaikan tangan mempersilahkan Pak Munif masuk, agar menunggu di dalam rumah tapi ditolaknya.

Rumah warga mulai gelap, lampu-lampu telah dipadamkan, jalan pemukiman juga sepi. Jarum jam terus berputar dan malam semakin pekat, ditambah cuaca yang dingin menusuk tulang. Pak Munif pun terkantuk, cukup lama penghuni rumah mewah tak kunjung keluar, untuk membayar atau mengembalikan piring. Ia terjaga dan terus menunggu. Karena dagangan masih banyak dan kesabaran juga ada batasnya. Maka Pak Munif memberanikan diri kembali ke dalam rumah apakah santap malam sudah selesai.

Baru menginjakkan kaki di teras rumah ia mencium aroma melati yang sangat menyengat. Padahal seingat dia tak ada tanaman melati di rumah itu. Pangkal kaki Pak Munif mulai mati rasa dan bulu kuduknya berdiri. Lampu ruang tamu yang tadinya terang benderang kini tampak remang seukuran lampu dop 5 watt. Langkah kakinya semakin berat, jarak menuju ruang tamu terasa jauh. Sesampai di pintu ruang tamu Pak Munif terkejut, tubuhnya membeku dan mulutnya terkunci. Satu keluarga yang tadi ia lihat kini sudah tak ada, yang tampak hanya lima pocong dengan wajah berlumuran darah menyeringai menatap dirinya.

Ia tengok sekeliling, ternyata rumah mewah yang tadi ia lihat sudah lenyap. Yang tampak dihadapannya adalah sebuah rumah besar tapi kosong dan gelap, yang banyak ditumbuhi tanaman merambat menjuntai diatas pagar. Daun kering dan kayu lapuk berserakan di teras rumah. Suara teriakan maupun jeritan terus terdengar masuk ke dalam telinganya. Tubuh Pak Munif lemas, pandangannya gelap, lantas ia jatuh pingsan.

Dini hari Pak Munif ditolong oleh satpam pemukiman yang sedang melakukan patroli. Sang penjaga malam itu curiga melihat gerobak Pak Munif yang berhenti lama di depan rumah kosong, lalu mengecek dan menyelamatkannya. Sebut saja Pak Jhoni salah satu warga yang tinggal tak jauh dari rumah kosong tersebut, ia bertutur “Semenjak peristiwa pembunuhan satu keluarga di tempat tersebut. Rumah ini dibiarkan kosong. Sempat dijual tapi tak laku-laku. Pernah ditempati oleh orang lain tapi tak lama, sang penghuni baru selalu tidak betah tinggal disini, begitu seterusnya. Hingga akhirnya dibiarkan kosong bertahun-tahun.”

Kejadian demi kejadian beraroma mistis kerap terjadi di bekas rumah sang perwira tentara itu, hingga warga sekitar menganggapnya sebagai hal yang biasa. Bagi orang baru yang tak pernah tahu peristiwa berdarah itu, penampakan-penampakan mahluk astral tersebut menjadi hal yang sangat mengganggu apabila lewat disana. Pernah pada suatu ketika, saat musim SDSB ada sekelompok orang iseng mencari nomor butut disana. Belum sempat mereka taruh sajen di teras rumah, sesosok mahluk hitam tinggi besar bermata merah muncul di hadapan mereka. Sesajen yang masih berada di tangan langsung ditarik oleh sang mahluk lalu dilempar, sontak para pencari nomor butut itu lari tunggang langgang dan tak pernah kembali lagi.

Ada cerita lain, kebetulan tak jauh dari rumah kosong itu terdapat studio musik milik salah satu grup band underground ternama di Surabaya. Beranjak malam sekelompok anak muda menyewa studio dan berlatih di tempat itu. Setelah berlatih mereka tak langsung pulang, tapi mengobrol di muka studio. Tak tahu entah kenapa, rumah yang tadinya kosong dan berantakan dalam sekejap menjadi rapi dan bersih. Anehnya keempat pemuda itu melihat keganjilan tersebut secara bersamaan, dan yang mencengangkan para penghuninya berwajah pucat dengan darah di sekujur tubuh. Mereka terperangah, kemudian lari meninggalkan motor mereka.

Ilustrasi by Wattpad

Tahun 2008 para pembunuh satu keluarga perwira yang terletak di Surabaya selatan itu di eksekusi mati, berselang 20 tahun setelah insiden berdarah tersebut. Semenjak itu kejadian-kejadian horor dan gaib menghilang dari tempat itu. Beberapa paranormal berpendapat jika energi negatif yang ada disana telah luntur karena dendam para korban telah terbalaskan. Kini rumah tersebut telah ditempati oleh penghuni baru tanpa satu halangan yang berarti. Sebagai manusia yang mempunyai kepercayaan spiritual mari berdoa kepada Tuhan YME, segala sesuatu yang berasal Dari-Nya akan kembali pula Kepada-Nya. Jodoh, rejeki, takdir dan mati telah diatur oleh Sang Maha Pencipta. (cs/ts)