Not Political Issue

Menurut sebuah survey pada tahun 1921, ada sekitar 2000 orang-orang Yahudi yang tinggal di Jawa. Orang-orang Yahudi sendiri mulai bermukim di Indonesia sebagai pedagang sejak dimulainya kolonial Belanda pada abad ke 17. Namun, mereka biasanya tidak memelihara identitas Yahudi yang terpisah, umumnya orang-orang Yahudi yang terutama berasal dari Belanda, Austria, Rumania dan Irak berasimilasi dengan masyarakat Belanda.

Pada mulanya setelah Jepang menguasai Indonesia pada tahun 1942, orang Yahudi Irak dan Jerman masih memiliki kebebasan. Karena Jepang memerangi lawan berdasarkan negara, bukan ras. Baik orang Yahudi dan Armenia di Indonesia yang dianggap tidak memiliki negara tidak masuk dalam kategori musuh di masa perang, dan dianggap sebagai “kawan”. Jadi, sementara semua orang Eropa dari negara-negara musuh di internir dan ditempatkan di belakang kawat berduri, orang Yahudi dan Armenia dibiarkan berkeliaran dan berdagang secara bebas.

Khitanan seorang anak Yahudi di Surabaya tahun 1955, source Indonesie In Het Verleden

Keadaan berubah pada tahun 1943, ketika sekelompok perwira penghubung Jerman tiba di Surabaya. Orang-orang Nazi itu dikatakan bertanya kepada Kempetai “Siapa saja yang ditawan ?”, orang Jepang menjawab bahwa “Semua orang berkebangsaan asing dari negara musuh dengan pengecualian dua bangsa kulit putih, orang Yahudi dan Armenia tidak dipenjarakan”. Mendengar hal tersebut, orang-orang Jerman itu menjadi meradang dan memerintahkan agar seluruh orang Yahudi segera ditangkap. Kempetai mengikuti keinginan sekutunya itu dan mencampakkan orang-orang Yahudi yang mereka tangkap ke belakang kamp interniran di Tangerang, yang diatas temboknya dikibarkan bendera bertuliskan “Banksa Jehudi”.

Area pemakaman warga Yahudi di Kembang Kuning, Surabaya

Pada musim semi 1945, para tawanan Yahudi dipindahkan dari Tangerang ke kamp Adek (Algemeen Delisch Emigratie Kantoor) yang terletak di Jakarta. Dengan menyerahnya Jepang dan pecahnya perang kemerdekaan Indonesia, sebagian orang Yahudi yang selamat memilih pulang ke Belanda atau pindah ke Israel dan Amerika Serikat. Sekelompok kecil orang Yahudi Irak, dengan latar belakang Timur Tengah membuat mereka kerap dikira sebagai orang Arab dan tetap tinggal di Surabaya. Di Surabaya sendiri mereka memiliki gedung pertemuan dan sebuah Synagog kecil yang terletak di Jalan Kayun, namun bangunannya sudah dibongkar pada tahun 2013 dan kini yang tersisa hanya sebidang area pemakaman di TPU Kembang Kuning, Surabaya. (wan/shc)

Surabaya Historical