Soal keamanan, masyarakat tradisional Surabaya telah lebih dulu memiliki sistem dan tata kelola yang bagus. Operasional keamanan yang terletak di perkampungan dimotori langsung oleh Sinoman, yang bergerak secara swadaya dan sukarela, serta dibawah pengawasan Kepala Kampung sebagai pejabat dukuh (Kampung). Dalam foto yang diabadikan pada akhir abad 19 ini merekam sebuah sistem penjagaan pada siang hari, yang dilaksanakan oleh warga di ujung kampungnya.

Para penjaga keamanan menempati sebuah gardu yang berada di ujung kampung secara bergiliran. Mereka membawa alat bernama congkok, menyerupai lembing namun lebih panjang dan bercabang dua pada ujungnya, yang digunakan untuk menangkap maling. Di kemudian hari tata kelola tradisional semacam ini dianggap efektif. Lalu diaplikasikan oleh pemerintah melalui organnya dengan nama Siskamling.

Lithograph berusia satu abad yang menggambarkan masyarakat tradisional Jawa sedang berjaga di gardu, karya J.C Rappard

Dari eksistensi gardu, para penjaga serta gapura kampung sebagai tempat kendali keamanan, lahirlah sebuah tradisi baru. Tak jauh dari gardu mulai bermunculan penjual makanan keliling dan kedai. Warga maupun para penjaga yang tak sedang berjaga bisa nimbrung disana sembari ngopi, main gaple atau guneman. Bahkan fotografer kenamaan era Hindia Belanda H. Salzwedel telah mendokumentasikan kegiatan cangkruk di gardu, di salah satu sudut perkampungan Surabaya 100 tahun silam. Dan tradisi inipun berlangsung bertahun-tahun hingga kini. Bisa dipastikan di ujung perkampungan lama Surabaya selalu ada gardu dan warung kopi, plus orang-orang yang sedang cangkrukan diselingi main catur. (wan/shc)

Foto karya fotografer H. Salzwedel