Gerakan Pramuka didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tanggal 14 Agustus 1961 atau 59 tahun yang lalu. Sebenarnya kata Pramuka berasal dari bahasa Jawa yakni Poromuko, yang mempunyai makna prajurit di garis depan.

Agar menasional, egaliter dan bersinambung dengan dunia pendidikan kata Poromuko diubah menjadi Pramuka, kependekan dari kalimat “Praja Muda Karana” yang memiliki arti jiwa muda yang suka berkarya. Lambang Pramuka diambil dari tunas kelapa, salah satu tumbuhan berakar tunggal yang mempunyai filosofi bermanfaat bagi semua dan sangat kuat meski diterjang gelombang.

Sejarah Pramuka di Indonesia sebenarnya sangat panjang. Singkatnya, jauh sebelum Indonesia merdeka, di masa kolonial Hindia Belanda gerakan ini disebut pandu. Yang menerapkan konsep kemanusiaan, kemandirian (survive), pecinta alam, pembentukan karakter maupun bela negara. Dahulu organisasi Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan sebagainya juga memiliki pendidikan kepanduan bagi kader mudanya. Bahkan saat pecah perang Kemerdekaan, kepanduan dari berbagai organisasi juga turut ambil bagian dalam mempertahankan kedaulatan Bangsa Indonesia.

Lord Baden Powell di Darmo Plein, Surabaya

Namun yang perlu menjadi catatan penting bagi kota Surabaya adalah, ternyata bapak pendiri pandu dunia pernah berkunjung di kota ini. Tepatnya pada tanggal 7 Desember 1934 Lord Baden Powell asal Inggris tiba di Surabaya, dan disambut meriah oleh organisasi kepanduan lokal. Dalam rekam jejaknya, beliau singgah di pelabuhan Tanjung Perak kemudian ke Darmo Plein untuk menemui pandu yunior. Ini menandakan pendidikan di Surabaya masa lampau telah maju, mendorong masyarakatnya agar berkembang dan bisa mengikuti perubahan. (cs/shc)