Beberapa minggu terakhir tampak ratusan atau bahkan ribuan spanduk bernada protes terpampang di sudut Kota Pahlawan yang ditujukan ke Pemkot Surabaya. Bukan tanpa sebab, munculnya spanduk tersebut akibat Persebaya dilarang bermain di kandangnya sendiri, di Gelora Bung Tomo (GBT), Kota Surabaya. Nantinya selama liga 1 tahun 2020, Persebaya harus mencari home base di luar Surabaya.

Pemkot Surabaya menyatakan Persebaya tak bisa merumput di GBT dikarenakan stadion tersebut akan direnovasi guna persiapan Piala Dunia U-20 pada tahun 2021 nanti. Mendengar kabar itu, Bonek pendukung setia Persebaya meluapkan kekecewaannya melalui spanduk yang dipasang serentak di penjuru Kota Surabaya sejak dua minggu lalu. Dijumpai di lapangan tak sedikit spanduk protes itu menuntut agar Persebaya bisa berlaga di tanah kelahirannya.

Atas tuntutan itu, pihak Pemkot Surabaya melalui Dinas Pemuda & Olahraga Kota Surabaya menggelar pertemuan dengan manajemen Persebaya serta perwakilan suporter pada Rabu kemarin (22/01). Pertemuan yang dilaksanakan di Kantor Dispora tersebut menghasilkan beberapa poin kesepakatan agar Persebaya tetap berkandang di Surabaya. Antara lain selama rumput di GBT belum dibongkar, Persebaya bisa menggunakan stadion sampai bulan Juli 2020 mendatang.

Upaya Bonek pun tak sia-sia, akhirnya Persebaya bisa berlaga di kandangnya sendiri meski sementara. Samsul Afandi (16), Bonek asal Krembangan saat dijumpai Teras Surabaya menuturkan “Bagi kami para Bonek, Persebaya bukan sekadar klub biasa, melainkan kebanggaan yang dimiliki oleh warga Surabaya. Jadi sungguh lucu jika klub yang menyandang nama Surabaya tidak boleh berlaga di kota asalnya” ucapnya ketus. (cs/ts)

Foto courtesy IG @indosuporter45