Minggu pagi sekira pukul 08.00 WIB (26/01) Rumah Sakit Darmo Surabaya tak terlihat seperti biasanya. Rumah sakit tua yang terletak di bilangan Raya Darmo, Kota Surabaya itu didatangi serombongan orang berjumlah 30, mereka bukan untuk menjenguk pasien. Tetapi sedang melakukan kegiatan yang diberi nama Wisata Perjuangan. Kegiatan ini sendiri di selenggarakan oleh Pemuda Panca Marga PD. Jatim, bersinergi dengan Komunitas Surabaya Historical dan Pramuka Saka Pariwisata Kota Surabaya.

Saat di rumah sakit, Pak Mitra pengurus Yayasan RS Darmo menerangkan, awalnya rumah sakit ini didirikan oleh sekumpulan orang Belanda pada tahun 1887 di Jalan Ngemplak. Karena dirasa kurang luas, kemudian pada 15 Januari 1921 meletakan batu pertamanya di Jalan Darmo ini, lalu dibangunlah rumah sakit yang baru dan lebih memadai. Tak terasa pada bulan ini usia RS Darmo mencapai yang ke 99 tahun. Di bagian depan terdapat bunker, berupa gundukan sebagai perlindungan jika terjadi perang. Pada tahun 1945 Brigjen Mallaby pimpinan tentara Inggris menempatkan pasukannya di rumah sakit ini, terang Pak Mitra.

Setelah dari RS Darmo perjalanan Wisata Perjuangan dilanjutkan ke TMP 10 Nopember yang terletak di Jalan Mayjen Sungkono, Kota Surabaya. Di tempat ini para peserta memanjatkan doa dan menaburkan bunga di makam para Pahlawan Tak Dikenal. Bagus Kamajaya, pengurus PD. PPM Jatim menjelaskan, Veteran terbagi dalam beberapa golongan, yang pertama Veteran Pejuang, Pembela dan Perdamaian. Veteran Pejuang pun tak harus mengangkat senjata, ada Pejuang yang bertugas di kepalang merahan, dapur umum atau kurir. Mereka yang memiliki Skep (Surat Keputusan) bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan ini, ungkapnya.

Ervina siswi SMKN 6 Surabaya sekaligus anggota Pramuka Saka Pariwisata menambahkan. Dalam penjelasannya TMP 10 Nopember berdiri sejak tahun 1977 dan memiliki luas sekitar 6 hektar. Beberapa tokoh Pejuang juga disemayamkan disini antara lain Pak Djarot Soebiantoro pemimpin Batalyon Mayangkara, Bu Dar Mortir, Doel Arnowo dan lain-lain. Di TMP ini kita tidak hanya berziarah, tetapi juga menghayati pengabdian para Pahlawan dalam mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa, tegas Ervina.

Meski cuaca siang itu sangat terik, para peserta sangat antusias mengikuti Wisata Perjuangan tersebut. Bahkan salah seorang peserta rela datang dari Sidoarjo dengan menggunakan sepeda angin, diantaranya juga ada yang mengendarai mobil jeep demi mengikuti wisata yang menyenangkan ini. Kunjungan berakhir di Gerbong Maut dan replika Rumah Gerilya yang keadaannya kurang terawat. Diceritakan pada 23 Nopember 1947, terdapat 3 gerbong yang digunakan oleh tentara Belanda untuk mengangkut para pejuang (tawanan perang) yang berjumlah 100 orang.

Para tawanan ini dibawa dari Bondowoso menuju Surabaya dengan lama perjalanan sekitar 13 jam. Sesampainya di Surabaya nasib nahas dialami oleh para penumpangnya, 40 orang harus meregang nyawa secara sia-sia, akibat kekurangan oksigen dan mengalami dehidrasi berat. Wisata Perjuangan ini merupakan bagian dari JSN’45 atau Jiwa Semangat Nasional 45, dengan harapan dapat memupuk rasa nasionalisme serta menanamkan jiwa patriotisme kepada generasi muda agar lebih mencintai tanah airnya. (sg/ib)