Banjir yang melanda Kota Surabaya beberapa waktu lalu bukanlah hal baru (31/01 & 1/02). Dahulu 73 tahun yang lalu peristiwa serupa juga pernah terjadi di wilayah ini. Kala itu debit air meningkat membanjiri pemukiman penduduk, menutup jalanan kampung dan membuat aktifitas warga menjadi terganggu.

Data yang disimpan Indieinoorlog.nl menyebut, banjir di Surabaya terjadi pada tahun 1947. Dalam dokumentasi lama itu menampilkan pemukiman warga yang terendam air, dan masyarakat saling bergotong royong. Bahkan di masa agresi, pemerintah kolonial yang saat itu kembali menduduki Indonesia juga dibuat kuwalahan. Namun banjir ini cepat teratasi karena banyaknya lahan hijau serta resapan air.

Lain dulu lain sekarang, dahulu banjir terjadi karena faktor alam. Air laut yang sedang pasang disertai hujan berintensitas tinggi menjadi penyebab timbulnya banjir. Sehingga kantong air yang berada di muara sungai meluap. Air yang seharusnya mengalir ke lautan kembali meluber di daratan, kemudian merendam pemukiman yang berada di sekitarnya.

Di masa kini banjir terjadi disebabkan oleh berbagai faktor. Bukan karena alam saja melainkan akibat campur tangan manusia. Sampah plastik menjadi salah satu penyumbang munculnya banjir, karena menyebabkan penyumbatan pada saluran drainase. Termasuk frontalnya pembangunan gedung, mall, apartemen dan lain-lain yang terjadi di penjuru kota.

Sehingga waduk alami sebagai penampung air banyak beralih fungsi atau bahkan hilang berganti menjadi perumahan elite. Lahan hijau semakin berkurang dan resapan air perlahan lenyap. Dalam hal ini sebagian masyarakat paham akan pentingnya menjaga lingkungan, namun tetap saja mereka kalah oleh kepentingan.

Banjir di Surabaya tahun 1947

Melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 Tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan, serta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, penegak hukum harus berani memberi sanksi kepada corporate yang tak memiliki biopori, oknum institusi maupun perorangan yang dengan mudah memberi ijin pembangunan tanpa melihat dampak buruknya.

Bahkan para eksekutif perusak lingkungan masih bisa duduk santai dibalik meja kerjanya menyeringai bak Joker musuh Batman, padahal perbuatannya telah banyak merugikan masyarakat. Dan kini masyarakat harus sadar serta kritis demi masa depan Surabaya, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Jika tidak, nanti anak cucu hanya mendengar dongeng bahwa dahulu Surabaya adalah negeri gemah ripah namun kini penuh bencana. (cs/ts)

Foto source Indieinoorlog.nl