Hotel Ganefo merupakan penginapan kuno yang dahulu berdiri di lahan milik seorang Kapiten China bermarga The. Hotel ini berada di kawasan Surabaya utara, tepatnya di Jl. Kapasan No. 184. Selain kawasan pecinan, daerah Kapasan juga merupakan daerah perdagangan dan pemukiman padat penduduk. Dahulu para singkeh dari daratan Tiongkok yang berdagang ke Jawa khususnya ke Kota Surabaya, menjadikan Hotel Ganefo sebagai salah satu jujugan untuk menginap.

Beberapa penginapan kuno berada di kawasan Kembang Jepun, beberapa lainnya berada di Kapasan dan masih bisa dijumpai hingga kini. Meski pendirinya berdarah Tionghoa, Hotel Ganefo tidak mengadopsi gaya maupun langgam Tiongkok. Justru arsitekturnya cenderung bergaya eropa abad 20 perpaduan neo klasik dan art deco. Pada bagian depan, para tamu akan disambut oleh dua patung singa, kemudian terdapat teras dan lobi tamu yang luas.

Sebelumnya hotel ini bersifat esklusif karena lebih sering diinapi oleh saudagar maupun taipan dari daratan Tiongkok. Namun pada tahun 1950-an saat pemerintah menetapkan Undang-undang Nasionalisasi, lambat laun hotel ini boleh diinapi oleh siapa saja. Apalagi saat Bung Karno, Presiden pertama RI pada tahun 1962 membentuk “Games of the New Emerging Forces” atau yang lebih dikenal dengan GANEFO (Ajang olahraga tandingan Olimpiade). Kemudian, penginapan ini diberi nama Ganefo oleh pemiliknya karena terkesan oleh gagasan Bung Karno.


Salah satu lobi bersantai Hotel Ganefo

Soal interior hawa di dalam Hotel Ganefo terasa sejuk, karena jendela-jendela besar menghiasi tiap ruangannya, disertai atap yang tinggi sehingga menghasilkan sirkulasi udara yang baik. Tiga pintu raksasa berada pada bagian depan hotel, dengan satu pintu utama di bagian tengahnya. Untuk menambah keindahan desain, tegel bermotif dipasang pada tiap bidang lantainya dan masih dipertahankan hingga sekarang.

Memiliki empat kamar utama dan sekitar dua puluh kamar biasa, Hotel Ganefo yang telah beroperasional lebih dari satu abad ini masih menjaga desain klasiknya. Cermin kuno, meja, kursi dan almari kayu jati masih dipergunakan sebagai inventaris hotel tersebut. Sayangnya Hotel Ganefo yang legendaris, saksi bisu perdagangan Surabaya tempo dulu ini belum ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. (wan/ts)