Lukisan arak-arakan pengantin Jawa yang diabadikan oleh Josias Cornelis Rappard melalui lithograph tahun 1883 – 1889, lokasi tidak diketahui. Melihat gambar ini mengingatkan salah satu tradisi masyarakat Surabaya yang jarang diketahui orang, yakni Manten Pegon atau Loro Pangkon. Manten Pegon merupakan tradisi pernikahan masyarakat Surabaya akulturasi budaya Jawa, Arab dan Tionghoa. Hal ini tampak pada tata cara maupun langgam pakaian yang dikenakan pasangan pengantin Pegon dengan motif rancak dan gemerlap.

Tak ada data pasti kapan pertama kali tradisi ini muncul di Surabaya. Tradisi Manten Pegon diketahui populer pada abad 19 hingga meredup di penghujung tahun 1990-an. Biasanya pengantin pria beserta rombongan yang akan menghampiri rumah mempelai wanita membawa jodang dengan cara dipikul sambil diiringi musik tradisional, gendang dan kenong. Jodang ialah kotak kayu yang berisi peningset, perhiasan serta cok bakal, yang nantinya diserahkan kepada pengantin wanita.

Sesampai di rumah mempelai wanita jangan berharap bisa langsung duduk di pelaminan. Pihak wanita menyiapkan seorang pendekar untuk menghadang rombongan pengantin pria. Dan pengantin pria juga menyiapkan pendekarnya untuk pilih tanding menghadapi pendekar mempelai wanita. Ritual unik ini merupakan bagian dari Manten Pegon yang berlangsung secara turun temurun dan sarat makna.

Penjor bambu berhias uang kertas yang menjadi rebutan warga

Sebelum memasuki area rumah mempelai wanita, kedua pendekar saling bertatap muka lalu beradu parikan. Kemudian melakukan abar ayam jago dan terakhir saling beradu kanuragan, silat. Setelah pendekar dari pihak wanita dapat ditaklukkan barulah kedua mempelai dipertemukan, duduk bersanding di pelaminan. Penjor bambu berhias kertas warna warni dengan gantungan uang kertas atau peralatan masak dikeluarkan, kemudian jadi rebutan warga.

Warga terutama anak-anak yang memperoleh hadiah tersebut sangat gembira dan bersuka cita karena mendapat berkah sang pengantin. Dengan diperebutkannya penjor tadi maka di mulailah puncak resepsi Manten Pegon. Biasanya resepsi diiringi oleh hiburan musik tradisional atau terbang jidor sesuai permintaan keluarga. Namun sayang tradisi unik ini telah jarang diselenggarakan, masyarakat Surabaya lebih menyukai pernikahan gaya eropa atau mataraman daripada Manten Pegon. (wan/shc)

Lithograph karya J.C. Rappard koleksi Tropenmuseum