Banyak yang tak menyangka diantara hingar bingar kota metropolitan, yang dihiasi ratusan gedung pencakar langit dan lalu lalang kendaraan bermotor, ternyata ditengah-tengah Kota Surabaya masih dijumpai peninggalan sejarah yang tersembunyi, yang konon berasal dari masa kerajaan. Peninggalan itu berupa Petilasan dan Komplek Pesarehan Pangeran Kudo Kardono yang terletak di Jalan Cempaka No. 25, Kota Surabaya.

Pak Sumarli sang juru pelihara pesarehan menuturkan, Pangeran Kudo Kardono adalah seorang perwira militer kerajaan Majapahit yang diutus untuk menjaga keamanan pesisir utara Pulau Jawa bagian timur. Yang pada saat itu wilayahnya meliputi daerah Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya dan Sidoarjo. Sebagai pusat strategi, Pangeran Kudo Kardono mendirikan markasnya di wilayah Tegalsari, Kampung Surabayan, Kaliasin dan sekitarnya.

Diriwayatkan, Pangeran Kudo Kardono semasa hidupnya merupakan panglima kepercayaan di masa pemerintahan Raja Jayanegara (Kalagemet), yang berkuasa pada tahun 1309 hingga 1328 Masehi. Dan konon, Pangeran Kudo Kardono masih mempunyai hubungan keluarga dengan Patih Agung Gajah Mada, salah seorang petinggi kerajaan Majapahit yang namanya tersohor.

Bagian dalam Pesarehan Kudo Kardono

Dalam riwayat lainnya Pengeran Kudo Kardono ditugaskan untuk menumpas pemberontakan Ra Kuti yang hendak merongrong pemerintahan Raja Jayanegara pada tahun 1319 Masehi. Di petilasan inilah akhirnya Panglima Kudo Kardono gugur bersama prajuritnya sebagai ksatria guna mempertahankan pemerintahan Raja Jayanegara dari upaya kudeta.

Menurut cerita tutur masyarakat, dahulu wilayah Jalan Cempaka dan sekitarnya merupakan tegalan yang banyak ditumbuhi tanaman gading putih. Daerah tegalan tersebut bernama Dukuh Surabayan yang sekarang menjadi Kampung Surabayan dan Tegal Bobot Sari yang kini menjadi wilayah Tegalsari. Sebenarnya sangat mudah mencari letak Komplek Pesarehan Pangeran Kudo Kardono, dibagian depan komplek terdapat gapura yang dihiasi patung rajawali sedang mencengkeram buah pala sebagai tetenger.

Pendopo depan dan halaman belakang Petilasan Pangeran Kudo Kardono

Ketika berada di area pesarehan hawa tenang dan sejuk akan terasa, mirip suasana desa. Pepohonan besar yang rindang membuat pengunjung betah berlama-lama di tempat ini. Di halaman depan disediakan pendopo yang lumayan luas, dipergunakan untuk istirahat dan berkumpul bagi para pengunjung. Sedangkan di halaman belakang berdiri Sanggar Trimurti, diperuntukkan bagi persembahyangan umat Hindu. Kemudian Ruang Ontobugo, tempat ibadah para Penghayat Kepercayaan dan Mushola Hujung Galuh bagi umat muslim.

Masih menurut penuturan Pak Sumarli, awalnya komplek pesarehan ini cukup luas, jadi satu dengan pemakaman umum yang membujur dari timur ke barat, pepohonan yang tumbuh pun juga lebat. Pada akhir tahun 1950-an dilakukan pemugaran, area inti Petilasan dan Pesarehan Pangeran Kudo Kardono diberi cungkup agar peziarah yang datang merasa nyaman. Pak Harto presiden kedua RI juga kerap datang kesini untuk bertawasul. Oleh Pak Sumarli ditunjukkan foto-foto Pak Harto ketika berkunjung di Petilasan Pangeran Kudo Kardono yang menempel di dinding cungkup.

Suasana halaman belakang Petilasan Kudo Kardono yang hening dan asri

Hingga kini siapa sesungguhnya sosok Pangeran Kudo Kardono masih misteri, tak ada literasi kuno berupa prasasti maupun lontar yang menulis riwayat beliau secara rinci. Sejarahnya hanya dituturkan secara lisan oleh orang-orang tua Surabaya yang meyakini bahwa Pangeran Kudo Kardono adalah pahlawan dari masa lalu. Melalui SK Walikota komplek Petilasan dan Pesarehan Pangeran Kudo Kardono telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya agar kelestariannya tetap terjaga, mengingat letaknya yang strategis dan berada di jantung kota banyak menjadi incaran para investor. (sur-cs/shc)