Sebenarnya ada satu kebiasaan Arek Suroboyo yang sangat membumi yaitu Cangkruk alias nongkrong, dimana lagi kalau bukan di warung kopi. Sebenarnya Cangkrukan tidak harus di warung kopi, tapi bisa di berbagai tempat dan situasi. Namun kini warung kopi atau dikenal dengan sebutan Giras banyak menjamur di Kota Surabaya, bahkan memanjakan fansnya dengan menyediakan koran pagi dan wifi gratis. Pemilik warkop menyediakan fasilitas tersebut bukan tanpa sebab. Mungkin, agar Arek-arek Suroboyo tidak ketinggalan informasi dan luas wawasannya.

Warkop sendiri sudah menjadi ajang gaulnya Arek-arek dan Wong Kampung Suroboyo untuk Cangkruk, orang Ngampel (Ampel) nyebutnya majlasan. Datang, pesan minum, nyulut kretek, milih kudapan adalah hal yang jamak terjadi di warkop. Poin utamanya kalau sudah bertemu CS, konco atau sahabat pasti obrolan yang diperbincangkan akan semakin panjang, ngalor ngidul dan jam-jaman, cenderung guyonan tapi mengasyikkan. Namun tidak sedikit diantara mereka membicarakan pekerjaan maupun bisnis.

Istilah lain Cangkruk dalam bahasa Surabaya adalah “Jagong” juga menjadi sarana penyebaran informasi lisan dan milik semua kalangan, dari tukang becak sampai pegawai kantoran. Terjalin keakraban antara personal satu dengan yang lainnya, bahkan yang tadinya tidak saling mengenal bisa menjadi konco dikarenakan hobi Cangkruk di tempat yang sama.

Arek atau Wong Suroboyo itu lebih familiar dengan Cangkrukan, Jagongan atau Gandringan daripada kongkow. Kongkow identik dengan eklusifitas namun Cangkruk adalah budaya, kebiasaan Arek-arek Suroboyo dari pojok kampung sampai rumah gedongan. Cangkruk itu Guyub, santai bisa serius bisa, campur aduk dilebur jadi satu. Dalam Cangkruk, dinamika pergaulan sangat simpel, tanpa sekat dan tidak neko-neko, rasa akrab serta saling percaya menjadi pondasi utamanya. (cs/shc)