Lebih dari dua kali Panembahan Senopati dari Mataram berupaya menaklukan Surabaya tapi gagal. Kegagalan tersebut karena strategi dan militansi pasukan Mataram masih berada dibawah pasukan Surabaya. Bisa dikatakan kemampuan militer Surabaya kala itu sangat mumpuni. Namun rupanya Mataram tak kenal lelah. Tentara Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung kembali menginvasi Surabaya tapi gagal juga. Sultan Agung harus membuat taktik baru karena jika memerangi secara militer tetap saja kalah, justru semakin merugi.

Akhirnya Sultan Agung menemukan siasat agar Surabaya bisa ditaklukan. Yaitu menciptakan pagebluk (wabah) supaya Surabaya keropos dari dalam. Melalui Tumenggung Mangun Oneng pasukan Mataram melancarkan taktik “Bendungan Jepara” dengan cara menyumbat selatan Kalimas. Otomatis aliran air dari selatan ke utara (menuju Surabaya) menjadi kecil.

Kemudian Sultan Agung mengutus pasukannya agar memasukkan ratusan bangkai binatang dan buah aren yang telah membusuk pada aliran tersebut. Kalimas yang saat itu merupakan sumber utama keraton Surabaya menjadi tercemar. Akibatnya banyak rakyat Surabaya yang mengalami demam, sakit perut dan gatal-gatal karena epidemi buatan itu.

Surabaya bukanlah wilayah pertanian, pasokan beras, sayur dan sebagainya didapat dari luar daerah seperti Madura, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto dan Jombang. Ini merupakan celah. Sultan Agung melancarkan siasat yang kedua, yakni dengan memblokade seluruh pasokan pangan tadi. Ia lakukan embargo dan merusak perdagangan.

Selain terjangkit wabah, masyarakat Surabaya dibuat cemas, panik dan stres karena kelangkaan bahan pangan. Dengan demikian perekonomian hancur, terjadilah kegaduhan dari dalam keraton. Lambat laun Surabaya lemah dengan sendirinya. Sultan Agung sumringah karena taktik barunya berhasil, ia ciptakan dua wabah sekaligus, wabah penyakit dan kehancuran ekonomi.

Sesungguhnya wabah yang menjangkit di Surabaya saat itu adalah “kepanikan” hingga mental rakyat dan pasukan menjadi down, menurunnya semangat juang inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab kekalahan Surabaya. Rakyat dan pasukan yang seharusnya manunggal malah tercerai berai, dicekam rasa panik yang berlebihan daripada bahu membahu menanggulangi wabah.

Melihat rakyatnya gelisah dan sakit-sakitan, maka pada 27 Oktober 1625 Pangeran Pekik pemimpin keraton Surabaya mengangkat bendera putih pada Mataram. Ia tak mau rakyatnya menanggung penderitaan. Sejak saat itulah Surabaya takluk dan menyerahkan tampuk kekuasaannya. Surabaya kalah bukan karena perang tapi dilanda panik dan wabah (pagebluk) buatan. (cs/ts)