Sebagaimana publik ketahui utara Kota Surabaya merupakan kawasan perdagangan yang sedari dulu tak pernah sepi. Komplek Masjid Ampel, Pasar Pabean, Kembang Jepun dan sekitarnya menjadi denyut nadi Kota Surabaya. 24 jam penuh roda ekonomi terus berputar di kawasan ini tak pernah berhenti. Dan ternyata dibalik gurat perdagangan kawasan tersebut banyak menyimpan sejarah yang jarang diketahui publik. Bahkan publik Surabaya sendiri banyak yang tak tahu.

Salah satu bangunan bersejarah berusia lebih dari satu abad berada di kawasan ini, bernama Langgar Gipo terletak di Jalan Kalimas Udik 1 No. 51, Kota Surabaya. Keberadaannya tak jauh dari komplek Makam Sunan Ampel, sekitar satu kilometer ke arah barat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Selasa malam bertepatan dengan malam sebelas Syawal (2/06) Laskar Macan Ali Kota Surabaya mengadakan Halal bi Halal yang diselenggarakan di Langgar Gipo. Dengan mengenakan masker tampak puluhan anggotanya hadir.

Kerja bhakti perbaikan Langgar Gipo dan fasad muka Langgar yang tampak kuno

Selepas Isya, Halal bi Halal dimulai dengan pembacaan sholawat, kemudian ditutup dengan acara ramah tamah. Suasana hangat dan kekeluargaan sangat terasa malam itu. Gus Azis salah satu pengurus Laskar Macan Ali Kota Surabaya, saat ditemui Teras Surabaya media menuturkan “Di Langgar yang didirikan oleh Kyai Hasan Gipo ini, para ulama besar nusantara pernah mengadakan pertemuan. Di tempat inilah beliau, para guru mempersiapkan cikal bakal berdirinya Republik Indonesia hingga tercetus Nahdlatoet Tujjar dan Nahdlatoel Oelama. Diperkirakan Langgar ini telah berusia tiga abad karena letaknya strategis di jalur perdagangan Kalimas” cetusnya sembari menunjukkan pecahan ubin kuno berbahan gerabah.

Hal yang sama juga diungkap oleh Kyai Yunus, keturunan Kyai Hasan Gipo “Keberadaan Langgar Gipo tak bisa dipisahkan dari sejarah Pertempuran 10 Nopember yang terjadi di Kota Surabaya 75 tahun silam. Di tempat inilah para pejuang dari Laskar Hizbullah di baiat dan digembleng mentalnya. Di belakang Langgar ada sumur tua, konon para pejuang yang jumlahnya ratusan di baiat di sumur itu. Mereka menjadi patriot untuk menjaga kedaulatan bangsanya dari serbuan penjajah. Sebenarnya, bangkitnya Langgar Gipo yang telah terbengkalai selama 35 tahun ini berkat kepedulian para sohibul Laskar Macan Ali Surabaya beserta elemen masyarakat, mereka curahkan seluruh energinya agar Langgar bersejarah ini dapat beraktivitas kembali” tuturnya kalem.

Dokumentasi jaringan Ulama Nusantara di Surabaya, diantaranya Kyai Haji Hasan Gipo. Foto dok keluarga

Generasi milenial Surabaya sebagai titisan para pejuang sudah selayaknya mengetahui peninggalan sejarah kotanya, salah satunya Langgar Gipo. Selain sebagai tempat pertemuan para Kyai tempo dulu dan tempat penggemblengan Laskar Hizbullah, Langgar berlantai dua ini juga merupakan asrama haji pertama di pulau Jawa bagian timur. Termasuk embarkasi haji pertama kali di Indonesia wilayah timur pada tahun 1834. Masyarakat bisa berkunjung di tempat ini kapan saja untuk menengok perjalanan sejarah Islam di Nusantara paruh abad 19. Harapannya semoga Langgar Gipo bisa menjadi Bangunan Cagar Budaya. Sebagai ruang studi bagi para wisatawan, pelajar maupun akademisi yang ingin mengetahui jejak perdagangan dan sejarah Islam di timur Indonesia. (wan-shc/ts)