Pesarehan Mbah Mulud

Ketika menyusuri kawasan Surabaya utara tepatnya di daerah Kalisosok, pasti yang terlintas adalah pusat perbelanjaan yang tak jauh dari Jembatan Merah dan jujugan kuliner lainnya, atau “Penjara” kuno peninggalan kolonial. Namun sayangnya penjara ini telah ditutup pada awal tahun 2000-an.

Daerah Kalisosok merupakan kawasan sibuk. Yang mayoritas warganya berprofesi sebagai pedagang, karyawan, buruh serabutan dan lain-lain. Ternyata dibalik kesibukan kawasan Kalisosok tersimpan sebuah keunikan. Selain terdapat bangunan kuno berarsitektur kolonial yang masih berdiri. Di kawasan ini juga terdapat makam kuno. Yakni Pesarehan tokoh sepuh yang dijuluki warga setempat dengan nama Mbah Mulud.

Letak Pesarehan Mbah Mulud atau Mbah Gondomono berada di tengah-tengah pemukiman warga. Menyelinap di gang sempit, berukuran 4 x 5 meter dengan musholah kecil di sampingnya. Tepatnya berada di Jalan Kebalen Barat, tak jauh dari Museum Sampoerna. Tak sulit menemukan Pesarehan Mbah Mulud. Jika bertanya pada warga pasti ditunjukkan lokasinya.

Makam Mbah Mulud yang berada di tengah-tengah pemukiman warga

Siapakah sosok Mbah Mulud ?
Menurut penuturan warga, beliau adalah seorang tokoh penyebar agama Islam di daerah Tambak Gringsing (Pesapen, Kebalen, Dapuan, Kalisosok dan sekitarnya). Selain Mbah Mulud, panggilan beliau adalah Mbah Gondomono atau Kyai Tambak Gringsing. Dahulu daerah ini masih berupa rawa-rawa yang posisinya berada di tepian laut. Sebagian besar profesi warganya adalah nelayan. Dan Mbah Mulud lah pamong di daerah ini.

Atas jasanya, di hari-hari tertentu warga memperingati Mbah Mulud dengan berziarah di makamnya. Bersama-sama memanjatkan doa Kepada Tuhan YME sebagai rasa syukur, karena telah diberi limpahan rejeki selama tinggal di kampung tersebut. Semoga jejak-jejak kekunoan di kampung Surabaya tetap lestari. Agar warga tidak lupa dengan sejarah maupun asal usul kampungnya, meski modernisasi berkembang pesat. (cs/shc)