Tak ada habisnya ketika kita berbicara tentang seni, sebab seni mampu menembus sekat, ruang, dimensi serta pikiran manusia. Tak ada batasan khusus bagi seni, karena seni hadir mengisi tiap ruang. Hampa menjadi isi, isi menjadi bentuk. Bahkan sang kreator maupun para penikmatnya bisa tersadar ketika melihat pesan yang tersirat dalam seni tersebut. Beragam genre pun lahir oleh tangan-tangan kreatif, seakan menolak berhenti meski pandemi belum berakhir.

Minggu siang (12/07) bertempat di daerah Rungkut Menanggal, Kota Surabaya, ditemani semilir angin dan rindangnya pepohonan, Komunitas Mata Rante, Mr. Day, Djantjok, Pang Hore beserta aliansi menggelar kelas alam berupa Woodcut, atau kini lebih dikenal dengan sebutan Seni Cetak Cukil Kayu. Puluhan pemuda dari beragam elemen hadir mengisi ngaji alam ini. Dengan tempo yang seksama mereka ikuti alur materi dan teknik yang diberikan oleh sang mentor.

Kelas alam ditutup dengan doa dan makan bersama, dengan harapan semoga hal-hal baik selalu menyertai bangsa Indonesia. Suasana guyub terasa kental.

Dimas Mata Rante sebagai pemateri menjelaskan “Agar tinta cepat mengering berikan sedikit saja cairan pengeringnya. Lalu rolling tintanya hingga rata baru tempelkan pada bidang kain atau lainnya. Diperlukan ketelatenan, namun kita bisa mengaktualisasikan segala hal yang kita inginkan melalui cukil kayu ini” ungkapnya. Seni dan pemuda adalah mata rantai yang tak terpisahkan. Karya-karyanya harus dilahirkan sebagai pendobrak, agar mampu merubah kekusutan serta carut marut yang dihadapi bangsa. (wan/ts)