Matilah Seperti Kelepon

Generasi milenial Surabaya mungkin jarang menjumpai kue tradisional berjuluk Kelepon, bentuknya bulat berwarna hijau dengan rasa manis di dalamnya. Bahkan dahulu di Surabaya pernah ada “Banca’an Kelepon” dengan cara membagikan kue ini pada anak-anak kecil.

Makanan tradisional yang menyimpan banyak pelajaran bagaimana agar menjadi manusia mulia, nama Kelepon sebenarnya berasal dari salah satu hari dalam penanggalan jawa yaitu Pon. Sebelum lebih jauh kita mengenal apa itu Pon, mari kita cari tahu Pekan yang terdiri dari lima hari yang disebut sebagai pasaran oleh orang Jawa.

1. Kliwon • Asih, melambangkan jumeneng (berdiri)
2. Legi • Manis, melambangkan mungkur (berbalik arah ke belakang)
3. Pahing • Pahit, melambangkan madep (menghadap)
4. Pon • Petak, melambangkan sare (tidur)
5. Wage • Cemeng, melambangkan lenggah (duduk)

Kliwon melambangkan manusia yang sudah mampu berdiri, dimulai dari usia 3 atau 4 tahun, pada fase ini manusia sudah mulai mengikuti apa yang dia inginkan, manusia sudah mulai membedakan mana yang enak dan tidak enak, bahkan beberapa orang-orang tua di jawa selalu bilang, “ingatan masa kecilmu dimulai ketika kamu sudah mampu berdiri”.

Setelah sanggup berdiri dan berjalan, manusia bisa melakukan apapun, dan saat menginjak dewasa manusia mengenal Legi yang berarti Manis. Legi atau manis adalah kecenderungan dari sifat manusia yang menyukai keindahan dunia, sehingga tanpa sadar dia sedang mungkur atau memunggungi Tuhan, disini manusia dalam posisi lalai.

Pahing disini adalah pahit, setelah manusia sadar dengan keburukan yang dia lakukan, pada fase ini manusia bertobat menghadap kepada Tuhan, jadi di dalam hidup ini kita harus berpahit-pahit, bersusah payah dalam menjalani semua yang diperintahkan Tuhan, sebagai bentuk pertobatan dan pengabdian, menjaga hubungan Vertikal atau Horizontal, menjalankan kewajiban sebagai mahluk sosial di muka bumi.

Setelah Pahing adalah Pon yang melambangkan tidur, disini bukan tidur yang sering kita lakukan, tapi Tidur yang berarti mati, di dalam menghadapi kematian manusia harus mempunyai bekal yang cukup. Kemudian yang terakhir adalah Wage, bermakna duduk. Setelah manusia meninggal ruhnya akan terpisah dari raga dan memasuki alam penantian hingga datangnya pengadilan akhirat. Di hari akhir inilah manusia akan di dudukkan dan dibangkitkan kembali untuk mempertanggung jawabkan semua yang pernah ia lakukan semasa hidupnya.

Bahan dasar Kelepon adalah tepung, bahan baku tepung berasal dari singkong atau beras, yang dimana bahan-bahan tersebut berasal dari dalam tanah dan tidak akan bisa lepas dari tanah. Ini menunjukan bahwa manusia sejatinya berasal dari tanah, Dia-lah yang menciptakan kita dari tanah.

Manusia sebagai citra Tuhan di muka bumi mengolah singkong menjadi tepung lalu menjadi bulatan-bulatan berwarna hijau, adonan yang bulat menyimbolkan siklus kehidupan yang dihadapi manusia, proses ini juga merupakan simbol betapa rumit dan kompleksnya Tuhan menciptakan manusia dari saripati tanah hingga menjadi seperti sekarang.

Isi Kelepon adalah gula jawa, gula sebagai perlambang hati yang suci, hati yang suci dan manis adalah buah dari kedekatan kita dengan Tuhan yang mengasihi semua makhluk. Kelapa adalah perlambang manusia yang bermanfaat, seperti buah dan pohon kelapa yang memiliki banyak manfaat untuk manusia.

Seperti pepatah Jawa “Urip Iku Urup” Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik. Jadilah manusia KelePon, manusia yang mati membawa amal kebaikan, meninggalkan banyak manfaat dan menjadi suri tauladan untuk banyak orang. Demikian makna dan sanepan dibalik jajan tradisional Kelepon, semoga dapat diambil hikmahnya dan bermanfaat bagi semua.

Ditulis oleh Gus Muhammad Farihul Wasi, Editor Cak Suro SHC, Januari 2017