Beberapa hari berturut-turut di akhir bulan Juli sekelompok pemuda Kampung Karang Tembok, Kota Surabaya, tampak sibuk mempersiapkan sesuatu. Mulai rapat kordinasi hingga menata properti dilakukan secara mandiri serta gotong royong. Diantaranya memasang selebaran untuk woro-woro dan membuat oncor dari bambu. Rupanya yang dilakukan para pemuda ini demi memperingati Haul Mbah Sholeh atau Buyut Sahri yang jatuh pada Selasa 4 Agustus 2020.

Mbah Sholeh sendiri merupakan tokoh sepuh yang babad alas Kampung Karang Tembok, dan makamnya berada di tengah-tengah pemukiman warga. Sehari sebelum haul, dilaksanakan Kirab Budaya pada malam hari (03/08) sebagai simbol kegotong royongan antar warga, tak lupa juga napak tilas sejarah Mbah Sholeh. Sebab dahulu menurut pitutur warga, Mbah Sholeh semasa hidupnya kerap berkeliling kampung untuk menjaga lingkungannya agar dijauhkan dari pagebluk dan segala marabahaya.

Kirab Budaya yang di motori para pemuda Kampung Karang Tembok, Kelurahan Pegirian, Kecamatan Semampir ini berjalan khidmat dan lancar, dengan tetap mengikuti prosedur protokol kesehatan. Heru Ketua RT Kampung Karang Tembok sekaligus pembina kepemudaan menuturkan “Kirab Budaya ini merupakan rangkaian acara dari Haul Mbah Sholeh yang jatuh pada esok hari. Dan baru pertama kali kami lakukan secara swadaya pada tahun ini, tujuannya agar seluruh masyarakat Karang Tembok tidak melupakan jasa Mbah Sholeh” cetusnya penuh semangat.

Peserta kirab berhenti sejenak di Makam Mbah Sholeh untuk memanjatkan doa

Hal senada juga disampaikan Achmad Hasan selaku ketua panitia Kirab Budaya “Ini adalah upaya kami para pemuda Kampung Karang Tembok untuk melestarikan budaya. Kirab dan Haul Mbah Sholeh adalah wujud syukur Kepada Tuhan YME yang harus kami peringati tiap tahun. Serta harus kita refleksikan tiap hari dengan hal-hal positif seperti yang dilakukan Mbah Sholeh di masa lalu, keteladanan beliau harus kita tiru. Partisipasi seluruh elemen warga Karang Tembok membuat kami bangga, ternyata kepedulian mereka sangat luar biasa” ungkapnya kalem. Kemudian Kirab Budaya ini ditutup dengan bersantap, makan bareng antar warga beserta undangan dengan suasana yang gayeng, guyub dan rukun. (wan/ts)