Pepatah Jawa mengatakan “Wong Sing Menang Iku Wong Sing Bisa Ngasorake Priyanggane Dhewe” maksudnya belum bisa dikatakan menang jika tidak mampu mengalahkan dirinya sendiri. Atau sanggup menaklukkan tantangan dari dalam hati untuk mencapai suatu tujuan. Pepatah ini mungkin perumpamaan yang pas untuk menggambarkan perjuangan seorang petualang dalam upayanya melibas pantura Jawa. Tak cukup bermodalkan mental baja dan adrenalin saja, tapi juga harus mempunyai persiapan materi yang mumpuni, maka kisahnya akan dikenang.

Club motor pertama kali muncul di Indonesia pada jaman Hindia Belanda tahun 1913, bernama “Motor Wielrijders Bond” atau perkumpulan pengendara sepeda motor. Kala itu anggotanya masih di dominasi oleh warga kulit putih kaum elit dari negeri eropa. Bahkan saat itu Wielrijders Bond sudah memiliki media sendiri bernama majalah Magneet. Majalah tersebut berisikan kegiatan club seperti jalan-jalan keliling daerah dan touring, hingga dialog seputar perlengkapan otomotif.

Tak beda jauh dengan masa kini, club motor di masa lalu juga mempunyai kegiatan yang hampir sama, seperti touring dan kongkow-kongkow, termasuk persaingan menjadi siapa yang paling cepat di lintasan. Diduga motor mulai masuk Hindia Belanda secara besar-besaran pada periode antar bellum. Masa tenang antara berakhirnya Perang Dunia I dan menjelang Perang Dunia II. Karena pada waktu itu perdagangan berjalan baik dan pengiriman barang dari luar negeri berjalan dengan lancar.

Musim panas 18 Agustus 1932 pria berdarah Inggris bernama Gerrit de Raadt melakukan touring dari Jakarta ke Surabaya, perjalanan ini memakan waktu selama 10 jam 1 menit. Ia libas jalur Grote Postweg atau Jalan Raya Pos dengan jarak 855 kilometer. Untuk memecahkan rekor tersebut Gerrit harus menunggangi kuda besi berjenis Rudge Ulster dengan kapasitas 500 cc pabrikan Inggris. Gerrit lah orang pertama kali yang mempelopori touring jarak jauh dan memecahkan rekor perjalanan tercepat dari Jakarta ke Surabaya menggunakan sepeda motor.

Jenis motor yang ditunggangi Gerrit saat memecahkan rekor 10 jam 1 menit. Source Google

Sebelumnya Gerrit telah mengenalkan tradisi touring ini pada tahun 1917 dengan rute yang sama Jakarta Surabaya, namun ia hanya mampu menyelesaikan waktu sekitar 20 jam 45 menit. Baru pada tahun 1932 ia pecahkan rekor tercepat 10 jam 1 menit. Pemotor lainnya juga melakukan hal yang sama, rekor tercepat kedua hanya mampu mencatatkan waktu 15 jam 37 menit. Tradisi touring bergengsi jarak jauh ini dikenal dengan nama “Tour de Java” dan hingga kini belum ada yang mengalahkan rekor yang dibuat Gerrit de Raadt 88 tahun silam. (cs/shc)