Tanggal 19 September merupakan hari bersejarah bagi masyarakat Kota Pahlawan. 75 tahun yang lalu terjadi insiden di kota ini yang wajib di peringati oleh publik Surabaya, yakni peristiwa heroik perobekan bendera Belanda menjadi sang saka Merah Putih di puncak Hotel Yamato, Jalan Tunjungan. Dalam peristiwa tersebut kita mengenal tokoh-tokoh di dalamnya seperti Soemarsono, Residen Sudirman, Sidik, Hariyono, Kusno Wibowo, Achijat beserta elemen Arek-arek Suroboyo. Namun sering terabaikan latar belakang sang pemicu peristiwa penuh emosional itu, yang digambarkan sebagai sosok antagonis.

Tak disangka-sangka di kemudian hari namanya mengisi lembaran sejarah Indonesia. Ia adalah Charles Ploegman salah satu aktor sejarah pemicu insiden massal mempertahankan panji Merah Putih. Yang menyebabkan ratusan rakyat Surabaya marah hingga mengakhiri riwayat hidup sang aktor akibat ulahnya sendiri. Nama lengkapnya Victor Willem Charles Ploegman, lahir pada 25 Februari 1893 di Kota Tegal, Jawa Tengah. Hidup di lingkungan birokrat dengan kultur eropa yang totok, menempa Charles Ploegman menjadi pemuda yang cerdas serta disiplin.

V.W.Ch Ploegman menamatkan pendidikannya di negeri Belanda dan meraih gelar sarjana hukum. Ia sandang titel yang sangat bergengsi bagi kaum eropa di tanah Hindia Belanda. Setelah lulus Charles Ploegman melanjutkan karir sesuai bidang keilmuannya, yakni sebagai seorang advokat. Ia menjadi konsultan hukum untuk perusahaan-perusahaan lokal milik Hindia Belanda, dan mengurusi adminitrasi pertanahan di negeri jajahan.

Dalam kisah asmara, hati Charles Ploegman berlabuh pada seorang gadis bernama Adelien J. Van Leewen, yang kemudian menjadi pendamping hidupnya dan dikaruniai beberapa putra. Sebelum Jepang menginjakkan kaki di Hindia Belanda, Charles Ploegman tinggal di Reinersz Boulevard, yang kini berganti nama menjadi Jalan Diponegoro. Sebagai praktisi hukum V.W.Ch Ploegman mempunyai banyak relasi serta loyal terhadap pemerintah Belanda, sehingga ia dikenal luas oleh elit kolonial. Pantas jika Charles Ploegman kerap dipercaya membidani organisasi nasionalis kerajaan Belanda.

Kiprah politik, V.W.Ch Ploegman pernah menjabat ketua Indo Europesch Verbond, sebuah perkumpulan warga Indo – Eropa yang tinggal di Hindia Belanda. Pasca kekalahan Jepang tahun 1945, ia kembali ke Indonesia sebagai anggota elit organisasi RAPWI “Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees” dan AFNEI “Allied Forces Netherlands East Indies” serta terdaftar dalam jajaran NICA “Netherlands Indies Civil Administration” lalu membentuk Komite Kontak Sosial yang berkantor di Hotel Yamato, Jalan Tunjungan No. 65. Bahkan saat itu pemerintah kerajaan Belanda menunjuk V.W.Ch Ploegman sebagai calon walikota Surabaya.

18 September 1945 petang hari V.W.Ch Ploegman mengibarkan bendera Belanda di menara utara Hotel Yamato, meski sebenarnya ia tahu bahwa Bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan sebulan sebelumnya. Ploegman bersikukuh pengibaran bendera tri warna tersebut untuk memperingati ulang tahun ratu Wilhemina, pemimpin kerajaan Belanda yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Tindakan inilah yang kemudian memancing emosi rakyat Surabaya sekaligus menghantarkan Charles Ploegman di ujung kematian.

19 September 1945 merupakan hari kelam bagi Charles Ploegman. Ratusan massa menggeruduk Hotel Yamato, memaksa agar bendera Belanda yang masih berkibar di puncak hotel segera diturunkan. Keadaan cukup menegangkan, menit demi menit bagai gulungan ombak, massa semakin tak terkendali. Sempat terjadi perundingan antara Residen Sudirman dengan V.W.Ch Ploegman namun berlangsung alot. Pecah kontak fisik, Sidik pendamping Residen Sudirman gugur terkena letusan pistol. Sedangkan V.W.Ch Ploegman terluka. Keesokan hari tanggal 20 September 1945 V.W.Ch Ploegman sang aktor sejarah menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit CBZ Simpang dalam usia 52 tahun. (cs/shc)