Surabaya Dalam Peristiwa

Hari ini 75 tahun yang lalu tanggal 22 Oktober 1945, Hoofdbestuur Nahdatoel Oelama menyerukan “Resolusi Jihad” di Surabaya untuk menyikapi situasi yang menunjukkan gelagat berkuasanya kembali kolonial Belanda melalui NICA. Pada awal Oktober 1945, tentara Jepang di Semarang dan Bandung yang sudah dilucuti rakyat merebut kembali kota Semarang serta Bandung dari tangan Pemerintah Indonesia, lalu menyerahkannya kepada pihak Inggris.

Pemerintah RI menahan diri untuk tidak melakukan perlawanan dan mengharapkan penyelesaian kasus itu secara diplomatik. Pemerintah RI bahkan menerima saja ketika melihat bendera Belanda dikibarkan di Jakarta. Tindakan Jepang yang menguntungkan Inggris itu membuat marah pemimpin Indonesia, termasuk para ulama NU. Tanggal 10 – 11 Oktober 1945 ketika PRI menggeledah kantor RAPWI dan perumahan Eropa, sudah tersiar kabar bahwa ditemukan banyak bukti tentang rencana serangan, perangkat radio, peta sistem komunikasi serta instruksi dari pemerintah NICA di Australia.

Suasana di Surabaya pun memanas. Lalu dengan alasan untuk menghindari aksi massa, pada tanggal 15 Oktober 1945 sekitar 3.500 orang Belanda dan Indo Eropa yang sudah dilepas dari camp interniran Jepang, diam-diam oleh PRI dinaikkan truk lalu dibawa ke penjara Kalisosok (werfstraat), untuk ditahan serta ditempatkan di sejumlah tempat yang aman. Sebagian truk yang membawa para tawanan itu kemudian dihadang massa di depan markas PRI, di Simpang Club, lalu para tawanan tersebut dihakimi massa secara brutal.

Kabar bakal mendaratnya sekutu yang diboncengi tentara NICA makin keras terdengar di telinga penduduk Surabaya yang dicekam kemarahan, ditambah pidato-pidato Bung Tomo lewat Radio Pemberontakan mulai mengudara. Atas dasar berbagai pertimbangan, Hoofdbestuur Nahdatoel Oelama mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura agar hadir pada 21 Oktober 1945 di kantor Pengurus Besar Nahdatoel Oelama Jl. Bubutan VI No. 2, Kota Surabaya.

Malam hari tanggal 22 Oktober 1945, Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari menyampaikan amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam, pria maupun wanita dalam Jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya. Rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah itu kemudian menyimpulkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”, yang isinya sebagai berikut :

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada diloear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi Fardloe Kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…)”

Inilah seruan Jihad yang secara syar’i disepakati para ulama dengan maksud utama membela Negara Indonesia berdasar Pancasila dan UUD 1945 dari serangan bangsa lain yang ingin menjajah kembali Indonesia. Penduduk Surabaya yang sudah panas semakin terbakar semangatnya karena amarah mereka terhadap musuh memperoleh legitimasi Jihad dari ulama, sehingga mati dalam keadaan membela kedaulatan negara akan mendapat ganjaran surga.

Demikianlah, sejak tanggal 22 Oktober 1945 seluruh penduduk bersiap siaga menunggu pendaratan tentara Inggris yang kabarnya sudah tersiar sejak pekan kedua Oktober 1945. Pidato-pidato Bung Tomo lewat Radio Pemberontakan yang ditandai teriakan Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! pun makin mengobarkan semangat perjuangan semua penduduk Jawa Timur dari kalangan pemimpin setingkat Gubernur, Menteri Pertahanan, Walikota, kaum santri hingga warga kampung.

Foto lawas defille Laskar Hisbullah dalam pewarnaan. Sumber ANRI

Seruan untuk berjihad fii sabilillah inilah yang kemudian menjadi pemicu perang massa (Tawuran Massal) pada tanggal 27 hingga 29 Oktober 1945. Saat itulah Laskar Hisbullah beserta Arek-arek Surabaya yang dibakar semangat Jihad menyerang “Brigade 49 Mahratta” pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Hasilnya, lebih dari 2.000 orang pasukan kebanggaan Inggris tewas. Dan sang pemimpin, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby juga tewas akibat terkena ledakan granat.

Hasil dari Perang Massa tanpa komando taktis yang berlangsung selama tiga hari ini mengakibatkan kematian Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Hal inilah yang akhirnya memicu kemarahan Inggris, dan berujung pada pertempuran besar di Surabaya tanggal 10 November 1945 yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sayangnya fakta sejarah tentang Resolusi Jihad NU dan Perang Massa selama tiga hari ini sempat tidak disinggung dalam peristiwa sejarah seputar Pertempuran 10 November 1945, yang dikenang oleh Inggris dengan satu kalimat “Once and Forever”. Namun, sebagai peringatan atas perang mempertahankan kemerdekaan Jihad Fii Sabilillah yang dicetuskan oleh ulama pada 22 Oktober 1945, maka pada tanggal itu Pemerintah RI melalui Keppres nomor 22 tahun 2015 menetapkannya sebagai Hari Santri Nasional.

Ditulis KH. Agus Sunyoto, Editor Cak Suro SHC