KISAH KAMIS MISTERI

Perangai Djunaidi alias Nanung (18 tahun) biasa-biasa saja, setelah makan siang pelajar kelas 2 SMU Untag, Surabaya, itu kemudian pergi memotong rambutnya. Sekitar pukul satu siang empat teman sekampung Nanung mengajaknya mancing. Mereka terdiri dari Agus, Robu, Nako serta Samolo. Nanang lalu pamitan kepada ibunya, Apiah. “Ketika Nanung berangkat mancing saya tak merasakan firasat apa-apa. Ya saya pikir cuma main-main biasa. Apalagi mancingnya di sekitar sini, di Kalimas Ngagel” kata wanita berusia 50 tahun itu tentang putra bungsunya.

Sesampai di sungai, kata teman-teman Nanung, kelima anak itu mengambil tempat yang strategis untuk memancing, yaitu dibawah jembatan BAT yang menghubungkan Jalan Dinoyo ke Jalan Ngagel. Mereka duduk-duduk di emplasemen, seraya melemparkan kail. Kira-kira setengah jam kemudian mereka belum mendapatkan seekor ikan pun. Nako mulai jenuh, ia melepaskan pakaiannya lantas terjun ke sungai.

Air sungai saat itu cukup deras kendati kedalamannya sebatas pinggang. Melihat Nako bergembira berenang-renang di dalam sungai, Nanung jadi kepingin. Ia pun melucuti pakaiannya lalu terjun. Tapi nahas, ketika Nanung terjun ke sungai kakinya menginjak bagian yang licin. Ia tergelincir hingga terbawa arus beberapa meter. Teman-temannya yang diatas mulai panik dan berteriak-teriak. Nako yang tak jauh dari Nanung lalu mendekatinya, berusaha untuk menolong. Tapi terlambat, tubuh Nanung seperti lenyap. Nako kemudian berenang ke pinggir dan naik ke darat.

Keempat anak itu benar-benar cemas menyaksikan tubuh Nanung yang tak pernah muncul lagi. Mereka lalu menghubungi masyarakat setempat memberitahukan kecelakaan yang menimpa Nanung. Begitu juga Apiah, ibunya. Dan Maulan, ayah Nanung yang sehari-hari bekerja sebagai sopir lyn. Yang bisa mereka lakukan cuma menunggu, seraya berharap tubuh Nanung muncul ke permukaan. Tetapi setelah beberapa saat ditunggu tak membuahkan hasil. Beberapa orang mulai terjun ke sungai berusaha mencari Nanung, entah dalam keadaan hidup atau mati.

Beberapa orang lainnya sudah menggunakan perahu menyusuri ke utara. Mereka mengira barangkali Nanung terseret hingga ke hilir. Tapi usaha ini juga sia-sia. Sekitar pukul tiga sore entah siapa yang melapor, satu tim SAR dari TNI AL datang. Dua anggotanya dengan alat selam lengkap lalu terjun, menyusuri tiap jengkal sungai itu. Terutama di lokasi Nanung mulai menghilang. Usaha pencarian tim SAR ini dilakukan hampir satu jam setengah, tapi Nanung belum juga ditemukan. Mereka mulai putus asa, upaya pencarian pun dihentikan.

Sejak kabar hilangnya Nanung di Kalimas Ngagel tersebar, masyarakat berduyun-duyun datang, membajiri kedua sisi sungai itu serta trotoar jembatan BAT. Akibatnya lalu lintas jadi macet. Keluarga korban, Maulan ayah Nanung, terus menerus berjongkok di emplasemen tempat anaknya terjun ke sungai. Berkali-kali lelaki berusia 60 tahun itu terdengar menghela nafas. Dengan suara lirih ia mengatakan “Saya pasrah kalau anak saya telah tiada, tapi ya mbok ada mayatnya, sehingga kami bisa memakamkan secara layak.”

Sebuah bantal milik Nanung yang sejak tadi dipeluk dilemparkan ke dalam sungai. Bantal itu hanyut terbawah arus. Menurut kepercayaan cara ini dipakai agar jasad Nanung segera ditemukan. Sementara itu salah seorang kakak Nanung tak tinggal diam. Dengan ditemani tetangganya ia pergi ke kawasan Jagir, Wonokromo, menjemput orang tua yang dikenal biasa mencarikan mayat yang hilang tenggelam di sungai. Orang tua ini dikenal dengan sebutan Mbah Pesek atau Mbah Kalap.

Begitu Mbah Kalap tiba di lokasi, seorang purnawirawan TNI segera menunjukkan pada Mbah Kalap tempat Nanung tenggelam. Tapi Mbah Kalap diam saja, hanya mulutnya yang kelihatan komat kamit seperti membaca doa. Serta merta orang tua itu turun ke sungai, gerakannya perlahan. Kedua tangannya lantas diulurkan ke bawah seperti mengambil-ambil sesuatu dari dasar sungai. Ternyata posisi orang tua di dalam sungai itu hanya berjarak tiga meter dari tempat Nanung terjun. Ketika Mbah Kalap mengangkat tangannya, orang-orang yang melihat, termasuk Maulan tampak terperangah. Sebab yang di bopong Mbah Pesek alias Mbah Kalap tak lain adalah tubuh Nanung yang telah kaku.

Orang-orang pun bergemuruh, beberapa ikut turun membantu mengangkat jasad Nanung. Dari sungai itu jasad Nanung kemudian diangkat ramai-ramai untuk dibawa ke rumahnya, di kawasan Dinoyo. Menurut penduduk yang tinggal di dekat Kalimas Ngagel, sungai itu kendati tak dalam dengan arus tenang tetapi berbahaya pada saat-saat tertentu. Mereka bilang sungai itu angker, setahun lalu pernah ditemukan jasad seorang pendatang di rerimbunan eceng gondok. Sebelumnya seorang PSK juga tenggelam di sungai ini. Jika yang Mbahurekso minta korban, biasanya ditandai dengan munculnya ikan-ikan mabuk. “Tiba-tiba saja banyak ikan di sungai, seperti habis kena tuba. Bagi yang mengerti, mereka was-was karena sebentar lagi pasti ada yang jadi korban” tutur warga. (cs/lbt/shc)

Peristiwa tenggelamnya Alm Nanung terjadi pada 11 Mei 1991