Pukul 10 pagi 25 Oktober 1945 rombongan pasukan Inggris Brigade Infanteri India ke 49 yang berjumlah sekitar 4.000 personel mendarat di Surabaya. Dibawah komando Brigadir Mallaby, dalam hitungan jam pasukan ini telah menduduki lebih dari 20 titik penting di dalam kota. Sebenarnya kedudukan pasukan Inggris ini melanggar kesepakatan, karena seharusnya berada di area pelabuhan. Rakyat menilai Surabaya dikuasai lagi oleh sebuah pasukan asing. Pemandangan pasukan Inggris yang menyebar ke seluruh penjuru kota dan bersiap siaga dengan senjatanya sulit diterima rakyat. Mereka melihatnya sebagai simbol penjajahan.

Baku tembak mulai terjadi sepanjang malam tanggal 27 hingga pagi hari tanggal 28 Oktober. Para pejuang melakukan penyerangan terhadap pos-pos pasukan Inggris dalam beberapa gelombang. Mereka tembakkan pistol, menyabetkan klewang dan senjata lainnya ke pihak musuh. Puluhan atau ratusan granat juga mereka lemparkan terhadap posisi Inggris. Bahkan dua panser yang dikendarai secara amatiran dengan sengaja ditubrukkan pada kedudukan musuh.

Tanggal 28 hingga 29 Oktober dimulai serangan dalam skala besar yang mengagetkan Mallaby serta bawahannya. Kali ini bukan serangan acak melainkan penggerudukan massa pada semua posisi Inggris yang melibatkan puluhan ribu pejuang jalanan. Dari hari ke hari pejuang RI di Surabaya bertambah besar jumlahnya. Dari perkiraan 20.000 tentara terlatih yang memandu serangan serentak pada 28 Oktober, jumlah mereka membengkak sampai 120.000. Pertambahan yang luar biasa ini dikarenakan bergabungnya relawan dari kampung-kampung dampak Resolusi Jihad. Selain itu bala bantuan dari luar kota juga datang menanggapi ajakan Radio Pemberontakan untuk bergabung membela kemerdekaan.

Pasukan Inggris berlarian di Surabaya karena dihujani peluru. Source IWM

Hampir semua serdadu Inggris yang ditempatkan di pos-pos kecil seantero kota disergap dan dibantai. Sedikit pasukan Inggris yang selamat dari pembantaian tersebut, bahkan mereka yang mencoba melarikan diri dan bersembunyi tak luput dari incaran para pejuang. Brigadir Mallaby segera menghubungi Jakarta untuk meminta pertolongan dari Jenderal Christison dan Hawthorn, jika tidak pasukannya akan habis disapu bersih oleh Arek-arek Suroboyo dan milisi republik lainnya. Bahkan pasukan Inggris asal India dan Gurkha (Nepal), yang terkenal garang di medan pertempuran Perang Dunia 2 dibuat tak berarti di Surabaya.

Pasukan Inggris yang tersisa di tengah kota hanya segelintir dan dalam keadaan terpojok. Mereka meminta bantuan kepada markas pasukan utama mereka di pelabuhan. Untuk menghalangi datangnya bantuan musuh, para pejuang jalanan memblokade semua akses dan jalan penghubung. Satu persatu pasukan sekutu dapat disergap dan dibantai. Pengepungan berlangsung sampai pasukan sekutu di Surabaya kehabisan bahan pangan dan amunisi. Kemenangan pejuang Surabaya di fase pertama ini mengakibatkan beberapa gedung yang sebelumnya diduduki Inggris kembali ke tangan republik, seperti Radio Surabaya, Gedung Aniem (Listrik), Hotel Brantas, RS Darmo, Lindetevez, stasiun kereta api dan lain-lain.

Kekalahan Inggris di bumi Surabaya bersifat menyeluruh. Mereka tak menyangka ternyata Surabaya mampu memberi tingkat perlawanan yang sengit, berani dan dahsyat. Laporan intelejen Belanda kepada Inggris dianggap ngawur karena tidak bisa membaca kekuatan-kekuatan tradisional yang menjadi penopang perang semesta atau serangan total rakyat. Sepertinya mereka lupa membuka lembaran sejarah perang Surabaya di masa lampau. Keganasan dan keberanian pasukan Surabaya diketahui sejak tahun 1600-an. Penguasa Mataram dari Jawa Tengah memerlukan waktu 30 tahun agar bisa mengalahkan Surabaya. Mataram utus 20 ribu pasukannya untuk menciptakan pagebluk dan merusak tanaman pangan Surabaya sebagai taktik agar wilayah ini bisa ditaklukkan. (cs/shc)