Kisah Kamis Misteri

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1982 silam, sewaktu aku masih bekerja di PT. DOK, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Waktu itu aku pulang kerja pada pukul 18.30, agak telat dari biasanya. Bemo yang kutumpangi hanya berhenti di depan kantor Kelurahan Bulak, maka aku harus meneruskan dengan berjalan kaki menuju rumah. Memang saat itu jalan disana hanya cukup untuk dilewati satu mobil, itu pun tanah bercampur batu.

Dari depan kelurahan menuju ke rumah, yang terletak di Kampung Bogorami berjarak kurang lebih 5 kilometer, lumayan jauh. Suasana malam itu remang dan gelap, karena penerangan masih sangat minim, hanya pabrik-pabrik di sepanjang jalan itu saja yang lampunya menyala, itu pun bisa dihitung jari. Biasanya aku naik sepeda dan sebelum gelap sudah tiba di rumah. Tetapi hari itu aku mungkin apes, karena paginya ban sepedaku bocor dan tak sempat menambalnya.

Jalan yang biasa aku lewati tiap hari seakan berubah. Suasana terasa berbeda tak seperti biasanya, sepi senyap dan hampa. Aku berjalan dengan sangat cepat, berharap bisa sesegera mungkin tiba di rumah. Sesampai di tikungan jalan terdapat sekolahan. Kata orang-orang, di tempat itu sering terjadi penampakan berupa pocongan, genderuwo atau sundel bolong. Aku teringat pesan orang-orang tua, “Setan dan jin itu takut bila melihat api. Jadi bawalah obor bila kamu berjalan sendirian di tempat gelap”.

Karena tidak ada obor aku pun menyalakan rokok. Berharap setan maupun jin tidak menakut-nakutiku meski nyala api itu berasal dari sebatang rokok. Persis setelah melewati tikungan tadi muncul induk ayam beserta anak-anaknya yang tiba-tiba keluar dari balik semak-semak. Sepertinya mereka ingin menghalangi jalanku. Cit cit cit cit… bunyi anak-anak ayam tersebut. Karena aku khawatir akan menginjak anak-anak ayam itu, aku pun mengusirnya dengan sedikit menggerak-gerakkan kaki. Anehnya mereka tidak takut malah berputar-putar di bawah kakiku.

Dengan suara pelan serta jantung berdetak tidak karuan, aku memohon pada induk ayam dan anak-anaknya “Aku cuma ingin pulang ke rumah, minggirlah supaya kalian tidak terinjak oleh kakiku”. Aneh bin ajaib ! Aku tidak percaya bila tak melihatnya sendiri. Induk dan sekumpulan anak ayam itu berjalan ke pinggir lalu lenyap ke dalam semak-semak, tak terlihat dan tak bersuara lagi. Aku terdiam sejenak, tidak bisa berjalan karena dengkul gemetar dan bulu kuduk rasanya merinding.

Sementara itu, lima meter dari tempatku berdiri hal ganjil kembali muncul. Nampak sesosok perempuan berbaju putih duduk di bawah pohon waru seolah penjelmaan dari induk ayam dan anak-anaknya. Perempuan itu duduk membelakangiku, diam tak bergerak. Dari punggungnya terlihat bercak berwarna hitam kemerahan, seperti darah bercampur lumpur. Dalam hati aku berdoa “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku, Gada-Mu dan Tongkat-Mu, itulah yang melindungi aku…” Setelah berdoa, hanya hitungan detik perempuan itu langsung hilang, menyisakan kering di tenggorokanku.

Aku sempat menangis karena mengalami ketakutan yang luar biasa. Belum hilang rasa cemasku, tiba-tiba seekor katak berukuran besar, sepuluh kali lipat dari ukuran biasa meloncat dan menempel di perutku. Karena kaget aku menjerit dan menepis kuat-kuat tanganku ke katak tersebut. Akhirnya katak itu loncat masuk ke pekarangan rumah yang kebetulan berada dipinggir jalan, bersebelahan dengan pohon waru tempat perempuan berbaju putih duduk. Katak itupun seketika hilang tak kelihatan lagi.

Sepertinya ada orang yang mendengar jeritanku karena korden di rumah tersebut sempat terbuka, yang kulihat adalah sosok berwarna hitam sedang jongkok. Tak terlihat wajah dan matanya karena gelap tertutupi bulu lebat mirip gorila. Bentuknya seperti orang karena dia memakai kain yang dibelitkan di perut dan menutupi bagian kakinya. Anehnya dia hanya bisa jongkok sebab langit-langit rumah itu tidak cukup untuk menopang badannya, karena besar dan tinggi sekali. Keadaan malam itu semakin mencekam, tubuhku terasa kaku melihat kejadian-kejadian aneh ini.

Akhirnya aku berlari sekuat tenaga dan entah sudah berapa kali aku terjerembab ke semak-semak. Sesudahnya, aku tidak menoleh ke kanan atau ke kiri lagi. Aku terus berlari hingga sampai di rumah. Aku menggedor pintu sekuat-kuatnya. Istri dan mertua yang kebetulan menginap di rumahku, membukakan pintu, “Ada apa kok teriak-teriak, sampai keras sekali mengetuk pintu ?”. “Sudah masuk dulu nanti aku ceritakan di dalam saja” jawabku. Setelah cuci muka dan dibuatkan minum, akhirnya kuceritakan semua kejadian menyeramkan yang aku alami tadi.

Mertuaku yang sedikit mengerti tentang hal-hal gaib mengatakan “Itu istrimu lagi hamil, dan sebaiknya kamu tidak boleh takut. Percaya saja dengan kuasa Tuhan, serta banyak berdoa”. Akhirnya aku dan istri di anjurkan pindah rumah untuk sementara waktu, sampai anak kami lahir. Dan puji Tuhan mertua tidak keberatan kami tinggal di rumahnya sampai istriku melahirkan.

Dikisahkan oleh Pak Agus