Sejarah ini tidak hanya dicatat oleh bangsa Indonesia tetapi juga oleh bangsa Inggris sebagai memoriam tak terlupakan. Sebuah insiden yang melahirkan badai sejarah, peristiwa batin dan kontra fisik sesama anak manusia yang sangat melelahkan sepanjang abad 20. Ia adalah Aubertin Walter Shotern Mallaby atau dikenal dengan sebutan A.W.S Mallaby oleh masyarakat Indonesia, khususnya Kota Surabaya. A.W.S Mallaby lahir pada 12 Desember 1899 dari pasangan William Calthorpe dan Katharine Mary Francis Mallaby.

Mallaby muda mengawali karirnya sebagai kadet militer Inggris, di Welington Cadet Collage di India. Setelah lulus ia bertugas dalam dinas ketentaraan Inggris – India berpangkat letnan dua pada 1 Oktober 1918. Kemudian ia lanjutkan pendidikan militernya di Camberley Staff College pada tahun 1930, dan menjadi perwira staf jenderal berpangkat kapten. Lalu pangkatnya naik menjadi mayor penuh pada 1 Oktober 1936. Mallaby sempat naik pangkat hingga mayor jenderal. Namun karena memimpin brigade, pangkatnya kemudian turun menjadi brigadir. Tampaknya dalam militer Inggris, seorang perwira bisa naik turun pangkat sesuai jenis tugasnya.

Brigade yang dipimpin Mallaby memiliki kekuatan hingga 6.000 pasukan, yang mayoritas terdiri dari orang-orang India, Pakistan dan Nepal. Brigade Infanteri India ke 49 yang dikomandoi Mallaby merupakan bagian dari Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI), pasukan sekutu yang dikirim ke Indonesia usai Perang Dunia 2 untuk melucuti serta memulangkan tentara Jepang. Sekaligus membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh balatentara Jepang sesuai Perjanjian Yalta, termasuk mengembalikan Indonesia kepada Hindia Belanda.

25 Oktober 1945, melalui Tanjung Perak rombongan pasukan Inggris dari Brigade Infanteri India ke 49 yang berjumlah sekitar 4.000 personel tiba di Surabaya. Dibawah komando Brigadir Mallaby, dalam hitungan jam pasukan ini menguasai tempat-tempat penting di dalam Kota Surabaya. Karena melanggar kesepakatan, pasukan Inggris yang berada di dalam kota dihajar oleh Arek-arek Suroboyo. Sejak tanggal 27 hingga 29 Oktober 1945 terjadi pertempuran tiga hari yang mengakibatkan pasukan Mallaby mengalami kekalahan, dan nyaris musnah bila ia tidak meminta bantuan kepada atasannya beserta pimpinan RI di Jakarta.

30 Oktober 1945 hari yang nahas bagi A.W.S Mallaby. Setelah perundingan gencatan senjata ia berkeliling Surabaya bersama pimpinan pejuang menggunakan mobil, dengan harapan baku tembak yang masih terjadi segera berhenti. Petang hari rombongan Mallaby tiba di kawasan Internatio Building, Jembatan Merah. Di tempat inilah Mallaby tewas mengenaskan. Ia tertembak di lengan dan hangus terbakar akibat mobil yang ditumpanginya terkena ledakan granat. Jasadnya sempat di evakuasi oleh Dr. Sugiri, seorang dokter pejuang.

Mobil yang ditumpangi Brigadir A.W.S Mallaby. Source IWM

A.W.S Mallaby sempat dimakamkan di Morokrembangan, kemudian dipindah ke Kembang Kuning. Namun pusara Mallaby dipindah lagi, dan terakhir dikebumikan di Makam Kehormatan Menteng Pulo, Jakarta, hingga kini. Kematian Mallaby inilah yang kemudian membuat marah Inggris dan memicu perang yang lebih besar pada 10 Nopember 1945. Terang saja ini adalah kali pertama seorang perwira tinggi pasukan inggris tewas dalam medan pertempuran selama lima tahun terakhir, setelah berperang melawan Jerman dan Jepang. (cs/shc)