Nama panjangnya Sarip Samamullah, namun publik lebih mengenal dia dengan julukan Sarip Tambak Oso, pendekar wetan kali. Masyarakat tradisional Surabaya maupun Sidoarjo pasti tak asing dengan Sarip, karena ia digambarkan sebagai sosok pemuda yang anti penjajahan. Yang menentang kolonialisme dengan caranya sendiri sebagai hakim jalanan, yakni melakukan pelanggaran serta kekacauan agar pemerintah Hindia Belanda beserta antek-anteknya sadar akan nasib bumiputera.

Tak jarang kisah Sarip Tambak Oso hanya dituturkan dari mulut ke mulut oleh orang-orang tua, maupun diangkat dalam kesenian Ludruk sebagai sindiran terhadap penguasa otoriter bertangan besi. Bisa dikatakan perjalanan hidup Sarip serupa dengan kisah Mangir yang ditulis oleh Dokter Cipto Mangunkusumo. Sebuah bentuk sikap menentang budaya keraton yang feodal. Yang Dokter Cipto wujudkan dengan menulis serta mementaskan Mangir yang berani melawan kekuasaan Mataram.

Bedanya jika Mangir adalah cerita rekaan, tetapi Sarip merupakan kisah nyata yang seolah-olah sebuah legenda, padahal ia ada, riwayat hidupnya tercatat dalam memori awal abad 20. Catatan sejarah Sarip tak bisa dianggap remeh, kisahnya tertulis dalam surat kabar terbitan Belanda yang diedarkan 108 tahun silam dan dibaca oleh khalayak eropa. Siapakah Sarip ? Di negeri sendiri seperti duri, musuhnya bukan saja dari manca negari tetapi juga saudara sendiri. Kliping koran Belanda Het Vaderland tertanggal 4 Maret 1912 memuat kisah akhir riwayat hidupnya berjudul “KEMATIAN SARIP”. Berikut ini adalah terjemahan dari koran Het Vaderland.

Kami telah melaporkan bahwa perampok Sarip yang bersangkutan ditembak mati oleh polisi yang mengejarnya. Het Soer. Hbl. menceritakan tentang cara dia meninggal dan keadaan di mana dia dibunuh. Setelah Sarip kabur dari Surabaya, polisi di perbatasan menduduki pos polisi dari Gedangan dan Wonokromo. Dia, Sarip sering tinggal di desa Tambak Reso, di rumah saudaranya Maroop, dan berkeliaran di desa tetangga Tambaksari, Tambakrane, Sumur, Gedong Asri, Rungkut, Menanggal dan Rungkut Tengah. Di desa terakhir inilah kediaman salah satu teman Sarip. Di sekeliling desa terdapat rawa dan kali mengalir di antara dua komplek desa.

Pada 30 Januari lalu, Wedana menerima laporan mata-mata dari Gedangan bahwa Sarip berada di rumah saudaranya Maroop di desa Tambak Reso. Polisi tidak keluar malam itu, tetapi keesokan paginya pada jam 6 pagi. Asisten Wedana Pulungan dan Tebel pergi bersama anggota polisi yang diperlukan ke desa Tambak Reso. Juga polisi dari Gedangan dengan dibantu Asisten Wedana Sedati. Pukul 8 pagi seluruh pasukan polisi tiba di desa Tambak Reso dan mendatangi rumah Maroop dengan maksud mencari disana untuk menangkap Sarip. Maroop, bagaimana pun, menentang pencarian di rumahnya. Namun perlawanan tersebut hanya berlangsung sebentar dan ketika polisi masuk ke dalam rumah tersebut, Sarip tidak dapat ditemukan. Penjaga pertama ditempatkan (tentu saja rumah itu sudah dikepung oleh polisi sebelumnya).

Seorang petugas polisi menemukan di belakang rumah sebuah jalan setapak baru menuju pagar. Sarip telah melarikan diri dari desa Tambah Rejo dan berjalan melalui rawa. Polisi menggeledah pekarangan sampai mendekati kali yang disebutkan diatas. Sarip tidak menggunakan perahu yang tergeletak disana. Pukul 11 pagi polisi tambahan tiba di desa Tambah Rejo. Disana para penjaga tiba-tiba melihat Sarip di halaman, bersenjatakan pisau panjang melengkung, sebenarnya semacam pedang (telangkas), yang dengan panik dia ayunkan ke arah seorang petugas polisi. Penjaga tersebut kabur dan berjalan sedemikian rupa hingga ia bertemu dengan putra Wedana bersama seorang prajurit bersenjatakan Beaumont.

Yang terakhir mundur, membidik Sarip, dan menembakkan senapannya sejauh 25 meter darinya. Sarip terluka di sisi kanan dada. Polisi yang mengejar tidak melihat Sarip jatuh, sehingga Asisten Wedana Tebel merasa disarankan untuk menembak juga pada jarak 25 meter. Sarip sekarang tertembak di dada kiri dan jatuh ke tanah. Mayatnya dibawa ke Wedana Gedangan, dimana dengan segera seluruh penduduk asli dari desa-desa tetangga mengerumuni penguasa teror yang terbunuh itu. Nanti jenazahnya dibawa ke Sidoarjo, supaya Bupati bisa melihat kematian subyek berbahaya ini.

Demikianlah akhir dari peristiwa dan kisah nyata Sarip menurut surat kabar Belanda Het Vaderland. Bagi pemerintah kolonial ia dicap sebagai seorang pemberontak atau penjahat, namun bagi sebagian bumiputera ia dianggap sebagai pahlawan. Sosok Sarip bukanlah sebuah misteri apalagi fiksi, ia pernah ada sebagai bunga rampai sejarah. Dalam hal ini kisah Sarip agak berbeda dengan cerita yang sering dipentaskan dalam kesenian Ludruk. Sebab dalam Ludruk mengandung sanepan serta pesan kehidupan agar masyarakat dapat mengambil hikmah dibalik kisah Sarip. (cs/ts/shc)

Sumber : Het Vaderland 4 Maret 1912, Soerabaja Handelsblad & Kaart Afdeling Sidoarjo. Dihimpun Bony Suwandi. Editor & ilustrasi Cak Suro SHC