Surabaya ibarat etalase di timur Jawa. Sebuah wilayah yang bernafas industri, perdagangan, transportasi dan pendidikan. Yang menjadi pilar bagi pusat pemerintah Hindia Belanda hingga awal republik berdiri. Surabaya adalah dermaga suku bangsa dunia. Orang-orang dari benua lain datang kemari, bekerja, tinggal dan membaur menjadi karakter-karakter baru. Menorehkan pembangunan demi pembangunan, meninggalkan identitas serta ciri khasnya masing-masing.

Pasca de kolonialisasi taring industri di Surabaya masih menancap kuat. Meski terseok industri ini mampu tampil kembali di tangan bumiputera dengan energi dan kekuatan baru. Massa serta buruh yang dahulu vakum karena kesibukan perang kini mulai mengisi posnya. Pabrik dan pelabuhan tampak berdenyut lagi. Begitu pula dengan perdagangan dan transportasi, masyarakat berduyun-duyun mengisi kembali ruang yang pernah kosong seperti sedia kala.

Berbicara Surabaya memang tak bisa lepas dengan transportasi. Bagi Surabaya, transportasi adalah magnet. Banyak aktivitas yang bergantung padanya. Medio 40-an saat Jepang berkuasa transportasi di Surabaya hampir mengalami kemandegan. Kala itu banyak peraturan pembatasan transportasi yang dampaknya menyengsarakan rakyat. Hanya sekitar tiga puluh persen transportasi yang aktif, itu pun melayani elite politik dan militer Dai Nipon saja. Sebagian lagi untuk mereka, kelompok pro fasis Jepang.

Pasca kekalahan Jepang pada Agustus 1945 dan diakuinya kedaulatan Republik Indonesia pada bulan Desember 1949, dunia otomotif dan transportasi di Surabaya mulai bangkit. Belasan tahun mobil pabrikan eropa yang teronggok di garasi rumah loji maupun gedung perkantoran kini mulai menderu-deru. Mesin yang mati itu pun bangun dari tidur panjangnya. Satu sosok yang berkontribusi dalam kebangkitan tersebut ialah Mochammad Sidik, Arek Blauran Kidul, Embong Malang, Kota Surabaya.

Berbekal pengalaman sebagai montir di Bengkel Bouwman saat jaman Belanda, Mochammad Sidik bersama ketiga putranya Ichsan Sidik, Hazam Sidik dan Amarullah Sidik, membuka bengkel mobil bernama “Fa. Sidik & Sons” di tahun 1950-an. Termasuk berdagang onderdil otomotif di Jalan Embong Malang No. 78, Kota Surabaya. Ketekunan keluarga Sidik di bidang otomotif ini membuahkan hasil yang cemerlang. Usahanya pun berkembang, sebuah Perusahaan Otobis bernama “P.O Sidik & Sons” mereka dirikan melayani trayek Surabaya – Malang PP, menyewakan angkutan rekreasi dan sebagainya.

Dunia otomotif Surabaya era 60-an pasti mengenal sosok Mochammad Sidik. Ia mendapat julukan Sidik Radiator karena bengkelnya yang tersohor seantero Jawa Timur. Kesibukan Mochammad Sidik tak hanya di bidang wira usaha saja, setelah berangkat Haji ia menjadi pengurus Organisasi Muhammadiyah wilayah Surabaya. Bahkan H.M Sidik pernah menghibahkan bis merk Robur sebagai kendaraan operasional Universitas Airlangga dan Persebaya di tahun 60-an.

Ichsan Sidik saat menjabat sebagai Bendahara Persebaya & Sekretaris PSSI

Ketika Organisasi Pengusaha Angkutan Darat dibentuk tahun 1962 di Selecta, Malang. Dan melalui Surat Keputusan Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi & Pariwisata pada 17 Juni 1963 yang mengukuhkan Organda sebagai organisasi tunggal dalam bidang angkutan bermotor di jalan raya. Termasuk saat Presiden Sukarno mewacanakan untuk menghentikan trem listrik, dan angkutan darat massal di Indonesia dikuasai oleh bis dan angkutan umum mini bis. Keluarga H.M Sidik menjadi salah satu perintis usaha Organda di Jawa Timur.

Karena mahir menyusun dan mengaudit pembukuan bengkel, putra H.M Sidik bernama Ichsan Sidik sempat ditunjuk sebagai Bendahara II Persebaya, di era Walikota Soekotjo pada tahun 1965. Sekaligus menjabat Sekretaris I PSSI wilayah Surabaya Raya tahun 1960-an. Sepeninggal H.M Sidik, P.O Sidik & Sons mengalami pasang surut. Hazam Sidik putra ketiga H.M Sidik mendirikan P.O HAZ melayani trayek Surabaya – Malang. Begitu pula dengan si bungsu Amarullah Sidik, juga mendirikan usaha Organda P.O Andayani dengan trayek yang sama. Sayangnya P.O Andayani hanya bertahan beberapa dekade, sedangkan P.O HAZ masih ada hingga kini. (cs/shc)

Foto & keterangan Yudo Syaf, penggali & penyusun narasi Surabaya Historical