Dibalik pria sukses ada wanita hebat disampingnya, pepatah itulah yang dialami seorang tokoh, yang sering dijuluki sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota “HOS Tjokroaminoto”. Siapa wanita dibalik HOS Tjokroaminoto tersebut ? Beliau adalah Raden Ajeng Soeharsikin, putri Wakil Bupati Ponorogo Raden Mas Sulaiman Mangoensoemo yang setia menemani Tjokroaminoto dalam kondisi sulit. Soeharsikin yang setelah menikah bernama Raden Ayu Tjokroaminoto itu dikenal sebagai perempuan yang cekatan dan halus perangainya.

Meskipun tidak berpendidikan tinggi, namun ia sangat menyukai pengajaran dan pengajuan agama. Keteguhan dan kecintaan Soeharsikin kepada suaminya dibuktikan pada saat Tjokroaminoto berselisih dengan mertuanya karena perbedaan pandangan diantara keduanya. Tindakan nekat Tjokroaminoto ini menimbulkan kemarahan bahkan kebencian mertuanya. Mangoensoemo memaksa anaknya untuk bercerai dengan Tjokroaminoto sebab kepergiannya telah mencoreng martabat dan kehormatan keluarganya.

Dihadapkan dengan situasi sulit ini, Soeharsikin secara tegas tetap memilih suaminya, Tjokroaminoto. “Ayah ! Dahulu saya dikawinkan oleh ayah dan ibu dengan Mas Tjokro, padahal pada waktu itu saya tidak mengenalnya. Saya taat ! Kini saya pun tetap taat. Kalau ayah – ibu menceraikan saya dengan Mas Tjokro, baiklah. Tapi seumur hidup, saya tidak mau kawin lagi. Suami saya hanyalah Mas Tjokro semata, dunia akhirat”. Jawaban Soeharsikin itu membuat kedua orang tuanya tertegun dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Soeharsikin juga menjadi penopang ekonomi Tjokroaminoto, ketika suaminya itu berkutat pada dunia pergerakan dan advokasi buruh. Saat guru para bapak bangsa itu sibuk dengan Serikat Islam, Soeharsikin mengambil alih tugas mencari nafkah dengan produksi dan berdagang batik. Dia juga ikut andil menyukupi logistik pergerakan Serikat Islam. Soeharsikin menyadari penuh kondisi yang dialami rumah tangganya. Sebagai seorang petinggi Sarekat Islam, Tjokroaminoto jarang berada di rumah. Permasalahan tersebut membuat Soeharsikin ingin membantu meringankan kebutuhan rumah tangganya.

Untuk melaksanakan maksudnya, Soeharsikin tidak perlu meninggalkan rumahnya. Rumah di Gang 7 Peneleh dibuka oleh Soeharsikin sebagai tempat kos. Biaya yang dikenakan kepada para pelajar untuk tinggal di rumahnya, kemudian menjadi pendapatan yang mampu meringankan kebutuhan rumah tangga Soeharsikin dan Tjokroaminoto. Usaha yang dilakukan Soeharsikin dengan membuka rumah kos mampu meringankan beban rumah tangga. Pembukaan rumah kos ini juga memberikan pekerjaan bagi Mbok Tambeng, seorang emban yang bekerja untuk keluarga Tjokroaminoto. Mbok Tambeng turut membantu keluarga Tjokroaminoto dalam mengurusi kebutuhan para pemuda dalam rumah kos dan kebutuhan anak-anak kandung Tjokroaminoto.

Pasangan suami istri ini saling melengkapi dalam mendidik anak kos yang tinggal di rumah mereka. Seperti yang diceritakan Presiden Sukarno dalam biografinya, ”Bu Tjokro adalah seorang perempuan baik budi dengan perawakan kecil yang lembut. Dia sendirilah yang mengumpulkan uang makan kami setiap minggu. Dialah yang membuat peraturan seperti : 1. Makan malam pukul sembilan dan barang siapa yang terlambat tidak mendapat makan, 2. Anak sekolah sudah harus ada di kamarnya pukul 10 malam, 3. Anak sekolah harus bangun pukul empat pagi untuk belajar, 4. Berpacaran dilarang keras”. Tak hanya itu, Tjokroaminoto dan Soeharsikin memberi pendidikan sebaik-baiknya dan membangun karakter kebangsaan para pemuda yang kos di rumah mereka.

Selain ilmu duniawi, Soeharsikin bahkan mendatangkan guru agama kerumahnya. Pada usia 35 tahun, Tjokroaminoto mencapai puncak karirnya sebagai pemimpin Sarekat Islam selama beberapa periode. Tetapi semua gerak langkahnya tidak akan berhasil, jika tidak mendapat dukungan dari sang istri tercinta. Dengan ketaatan seorang istri pejuang yang juga ikut membanting tulang mencari nafkah dengan tiada rasa jerih payah. Hidup sang istri yang didorong oleh hati ikhlas dan jujur itu, merupakan faktor yang terpenting pula, sehingga Tjokroaminoto menjadi manusia besar di Indonesia yang amat disegani oleh kawan maupun lawannya.

Pegiat sejarah dan budaya Surabaya ziarah di makam R.A. Soeharsikin

Setelah belasan tahun menemani, Soeharsikin wafat meninggalkan suami dan lima anaknya, Oetari, Oetarjo alias Anwar, Harsono alias Moestafa Kamil, Siti Islamijah, dan Soejoet Ahmad. Beliau wafat tanggal 22 Februari 1921 karena sakit tipus yang bermula dari anak bungsunya Soejoet Tjokroaminoto yang lebih dulu terkena tipus. Soeharsikin yang menjaga anaknya selama berbulan-bulan malah tertular penyakit dan akhirnya meninggal dunia. Beliau beristirahat dengan tenang di Pesarean Agung Sentono Botoputih, Surabaya.

Keluarga Tjokroaminoto amat terpukul dengan kepergian Beliau. Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam. Terutama bagi Tjokroaminoto, peristiwa ini merupakan pukulan yang amat berat. Ia tidak hanya kehilangan sosok seorang istri, tetapi juga kehilangan rekan seperjuangan yang paling mengerti dirinya. Ketika semua orang berpaling darinya, Soeharsikinlah satu-satunya orang yang masih setia. Wanita tangguh di belakang Sang Guru Bangsa, yang mempunyai peran ganda dalam berjuang membela tanah pertiwi. (sur/shc)

Sumber : HOS Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia