Sebetulnya banyak cerita maupun kisah yang terkait dengan Kota Surabaya belum tuntas kami bagikan. Penggalian demi penggalian hingga penelusuran sebuah historis, terus berjalan mengikuti perputaran waktu. Ibarat menyusun mozaik di belantara yang lebat, satu persatu harus disingkap, diperlukan ketelatenan serta kesabaran extra. Seperti halnya Siropen di Jalan Mliwis, Cararra di Gemblongan dan usaha-usaha lainnya yang berusia uzur. Kedai es krim Zangrandi merupakan resto tertua di Kota Pahlawan, usaha ini sudah ada sejak jaman Belanda tahun 1930.

Bermula dari Roberto Zangrandi, crazy rich asal Italia. Bersama istrinya, ia membuka gerai es krim di Surabaya bernama Renato Zangrandi’s Ijspalais. Awalnya resto ini berada di Jalan Tunjungan lalu pindah ke Dijkerman Straat, tak jauh dari Simpangsche Sociteit tempat dugem masyarakat eropa kala itu. Ternyata orang-orang Italia tak hanya pandai membuat pizza, namun juga mahir mengolah kudapan bercitarasa klasik, manis serta dingin. Selain resto, Zangrandi mempunyai kemelekatan kisah dari tokoh Kusni Kasdut, sang pejuang pelaku perang Surabaya 1945, sekaligus perampok kelas kakap era 50 – 60’an.

Di teras resto Zangrandi Jalan Sindu Negara inilah (Kini Jl. Yos Sudarso) Kusni Kasdut bersama komplotannya kerap menghabiskan waktu. Bagai mafioso, mereka bersantai diatas kursi rotan. Menghisap sigaret, berbincang-bincang dan mengatur strategi sambil menikmati es krim serta minuman dingin lainnya. Bahkan pernah di tahun 1950-an komplotan Kusni Kasdut, antara lain Bir Ali, Mulyadi, Usman dan Abu Bakar terlibat penculikan seorang dokter. Agar sang dokter selamat uang tebusan harus diserahkan pada Kusni Kasdut yang saat itu berada di restoran Zangrandi.

Kabar tutupnya gerai es krim Zangrandi semoga bukan menjadi lembar terakhir perjalanan emosional sebuah kota. Kisah para tokoh maupun artis nasional era 60-70’an yang pernah mampir di gerai Zangrandi masih melekat kuat di dalamnya. Tiada sekarang tanpa masa lalu. (cs/shc)