Falsafah Jawa bab kasunyatan yang berbunyi “Ojo percoyo yen ora nyoto, ojo ngelakoni yen ora ngerti” ternyata dapat di refleksikan dalam pendirian sebuah kampung. Nama perkampungan yang unik itu ialah Mleto. Kampung ini terletak di Surabaya bagian Timur, Kecamatan Sukolilo, Kelurahan Klampis Ngasem. Berawal dari seorang tokoh bernama Buyut Kertosari, yang mengembara dan tiba di tempat ini. Buyut Kertosari memiliki beberapa saudara, antara lain Eyang Patmo Sari, Nyai Mayangsari dan Nyai Wandansari. Dahulu Nyai Wandansari kerap sowan ke Pedukuhan Mleto, memberikan kontribusi serta peran penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Asal usul nama Mleto sendiri berasal dari akronim “Melek Nyoto”, dalam bahasa Jawa kata Melek mempunyai arti melihat, dan Nyoto mempunyai arti nyata atau sesungguhnya. Kemudian, muncullah banyak penafsiran dan daya tangkap dari masing-masing individu, Melek Nyoto bermakna “Apa yang kita lihat adalah kenyataan” atau “Sembari memejamkan mata kita dapat menyaksikan dengan nyata penglihatan kita”. Garis besar atau benang merahnya sama, melainkan perkembangan, perubahan, perbedaan diksi tanpa meninggalkan substansi yang ada.

Buyut Kertosari pernah dawuh “Yen pengin kuat urip nang kene kudu melek sing nyoto, suk mben yen ono rejane jaman bakal di jenengi Mleto”. Maksudnya apa ? Maksudnya ialah boleh betah melek asalkan yang bermanfaat, berguna, berfaedah bagi semua aspek. Mulai diri sendiri, sesama Mahluk-Nya maupun Jagad Bawono. Jangan mudah tertipu, pergunakanlah penglihatan serta indra mata kita secara maksimal, karena apa yang dilihat oleh mata ialah kenyataan hidup. Sadarlah jika memang sedang kekurangan maka tugas kita adalah melengkapinya. Otak menjadi projector, mata memancarkan sinar, sedangkan panorama atau pandangan ialah cerminan layarnya, tanganlah yang membentuk supaya menjadi kenyataan. Bahwasannya diri kita sendirilah yang merealisasikan tujuan hidup ini.

Dalam perspektif Sastra Jawa kata Mleto merupakan penggabungan antara prakata menjadi satu kata, pada bab ilmu Kerata Basa (Jarwo Dhosok) tujuannya agar mengunci makna yang terdalam sehingga mudah dipahami, diingat, diucap oleh banyak orang serta mempunyai nilai estetika berkesinambungan, selaras, serasi, pas atau kecocokan. Terdapat dua sebutan Kampung Mleto, pertama Mleto bagian barat dijuluki Mleto Godhok. Asal usul, sebab akibat atau asbabun nuzulnya konon sewaktu menggelar rembug desa, Buyut Kartosari mengundang warga daerah barat, tetapi mereka enggan hadir, melainkan malah berkumpul sendiri dan memiliki kesukaan merebus (Godhok).

Akhirnya ketika ajakan itu ditolak Buyut Kertosari pun bersumpah “Ora bakal ono panguwoso soko kulon”, dan terjadilah selama beberapa periode. Karena perkembangan jaman dan peradaban semakin maju akhirnya ada pemimpin lingkup kecil dari bagian barat namun hingga saat ini belum pernah sampai menuju jajaran atas. Setelah rumusan di Pedukuhan Mleto usai, Buyut pun melanjutkan perjalanannya ke arah timur. Disinilah cikal bakal nama-nama kampung, mulai dari Klampis Ngasem yaitu Klampis wiwiti asem, Klampis Semalang yaitu terdapat pohon klampis berukuran besar yang menghalangi jalan. Lalu Deles yaitu suatu peristiwa dan kondisi alam yang kala itu diterpa hujan deras, Asempayung yaitu pohon asem yang dapat digunakan untuk berteduh saat hujan deras di daerah Deles. Gebang Kasepuhan sekarang menjadi Gebang Kidul yaitu tempat Kasepuhan Ki Lebur Wesi. Sedangkan Menur merupakan alas yang luas, yang banyak ditumbuhi kembang melati.

Pesarean Buyut Kertosari di Kampung Mleto

Dalam pengembaraannya, Buyut Kertosari pernah menciptakan sebuah kidung. Namun kidung ini tak boleh dinyanyikan oleh sembarang orang, bagi yang ingin mendengar atau mengetahui kidung tersebut bisa mampir ke Mleto menemui sesepuh kampung. Di kampung Mleto terdapat dua situs peninggalan leluhur, warga sekitar menjulukinya dengan “Wit Jeruk Kikit” menurut cerita tutur pohon ini telah ada sebelum Kampung Mleto dihuni orang. Pohon ini tumbuh di area pesarean dan uniknya ukurannya tidak membesar maupun mengecil.

Kedua, Pohon Gayam, pohon ini besar dan wingit sehingga banyak orang yang berteduh dan merasa ayem. Tapi sayangnya pohon ini telah tiada akibat pesatnya pembangunan, termasuk tempat sesajen sebagai ruang kebudayaan dan puja bhakti Kepada Tuhan Y.M.E. Demikian kisah Kampung Mleto dan sekitarnya, semoga generasi muda dapat menjadi pilar, menjaga historis kampung tempat mereka tinggal. (far/hvs/shc)

Teks Farhan, editor & layout Surabaya Historical