Di Timur Kota Pahlawan ini bisa dikatakan tak banyak pelestari seni tari tradisional. Di masa kini para pegiat seni gerak tubuh lebih dominan mengikuti tren jaman daripada memilih aset fundamental lokal. Jika melihat era modern, pada tahun 2017 hingga sekarang banyak aplikasi digital yang mewadahi kaum milenial untuk mencoba gerakan-gerakan baru dan asing. Disinilah peran modernitas untuk mengikis sedikit demi sedikit seni lokal. Sebagai bentuk kasunyatan Raden Ajeng Kartini melalui falsafah “Habis gelap terbitlah terang” ialah telah lama padamnya api semangat pemuda yang ada dalam kota ini, maka bangkitlah pancaran sinar fajar yang melahirkan generasi penerus bangsa yang kuat tidak mudah terombang-ambing jaman.

Bermula dari sekumpulan mahasiswa STKW Surabaya yang sering sesrawungan, maka terkumpullah energi dari setiap individu untuk melahirkan ide demi menyalakan seni tari di timur Kota Pahlawan, terutama di daerah Klampis dan sekitarnya. Kemudian terbentuklah Paguyuban Sanggar Kuwung pada Senin,10 Maret 2018. Sanggar berasal dari kata tempat atau studio, sedangkan Kuwung berasal dari bahasa Jawa Kawi, yaitu perkumpulan dari spektrum warna seperti pelangi. Dengan latar belakang pengabdian “Kami melestarikan apa yang telah disajikan dan diciptakan oleh leluhur. Sanggar Kuwung berdiri demi memperkenalkan kembali tari tradisional pada masyarakat umum dengan harapan para pemuda dan elemen-elemen lain turut melestarikan supaya tidak punah. Agar budaya tari ini bisa dikenal hingga mancanegara” tutur salah satu personel Sanggar Kuwung.

Perform art tari Remo dan keterampilan rias oleh Sanggar Kuwung Surabaya. Dok Sanggar Kuwung

Seperti sanepan Jawa “Urip urup urap irip-irip” yaitu hidup harus bergerak menyalakan kehidupan yang lain dengan mempelajari warna warni dunia. Di sanggar ini juga menerapkan “Wolo podho wulan sareng-sareng joyonyo ben podho kekuatane”. Disini semua anak sama-sama belajar, duduk sama rata berdiri tanpa raja, baik pembina maupun peserta didik sama-sama belajar dan latihan serentak. Dalam Paguyuban Sanggar Kuwung banyak mempelajari macam-macam seni tari tradisional mulai Remo, ‌Kupu Cedung, ‌Ciblungan, ‌Remo Rek (adaptasi dari remo), ‌Tari Jejer, ‌Oncelang Kidang untuk anak-anak, ‌Tari Bermain, ‌Bajol Ijo dan lain sebagainya.

Berbagai macam lomba dan penghargaan telah diraih oleh Sanggar Kuwung, hingga eksis melebarkan sayapnya keluar kota. Sanggar Kuwung juga kerap menghadiri acara atau undangan dari rekan-rekan sesama paguyuban agar terjalin silaturahmi, komunikasi dan persatuan yang kuat. “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” merupakan motto sesama paguyuban agar hubungan antar pelestari seni tradisional tetap dinamis. Kurikulum dalam sanggar ini terdapat 3 kategori, sebagai berikut, Tingkat 1 Madya (Paud atau TK), Tingkat 2 Muria (SD – SMP) dan Tingkat 3 Sanggit (SMA – Dewasa).

Sanggar Kuwung mengabdi dan melestarikan pusaka budaya nusantara

Sebenarnya pada “Hari Tari Dunia” tahun ini yang diperingati setiap tanggal 29 April, Sanggar Kuwung Surabaya akan mengikuti “Tari 24 jam”, menari selama sehari penuh. Namun kegiatan ini tidak dapat terlaksana karena adanya pandemi. Mari bersama-sama kita wujudkan nawacita para leluhur, para pendahulu bangsa, di tanah air yang kita pijak ini dengan merawat pusaka budaya agar tidak terkikis perkembangan jaman. Bagi kawan-kawan atau sahabat budaya yang tertarik bergabung dan ingin belajar bersama paguyuban ini silahkan menghubungi sosial media Sanggar Kuwung Surabaya di instagram @komunitaskuwung. (far/hvs/shc)