Not Political Issue

Benarkah Adolf Hitler pemimpin Partai Nazi Jerman berhasil melarikan diri dari bunkernya di Berlin yang terkepung oleh Tentara Merah, lalu kemudian tinggal di Indonesia dan mati di Surabaya? Sebab sisa-sisa jenazah Hitler tidak ditemukan secara utuh dan tidak pernah diperlihatkan pada publik. Hal ini menimbulkan banyak desas desus bahwa Hitler sebenarnya berhasil meloloskan diri dari kepungan Tentara Merah, dan hidup dalam pengasingan di luar negeri. Tempat yang santer menjadi lokasi persembunyian Hitler adalah Amerika Selatan.

Versi yang dikenal dunia ialah Hitler berada di Amerika Selatan, namun terdapat versi Indonesia yang boleh jadi merupakan versi terbaru. Dalam versi ini dijelaskan tentang kemungkinan Hitler melarikan diri ke Indonesia dan menikahi wanita lokal, kemudian wafat sebagai seorang Muslim di Surabaya. Dugaan ini didasarkan oleh penuturan seorang Dokter asal Bandung, Sosrohusodo, ia mengungkapkan di artikel Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983. Ia mengklaim bahwa Dr. Georg Anton Poch pemimpin salah satu rumah sakit umum di Pulau Sumbawa Besar yang pernah beberapa kali ditemuinya pada tahun 1960-an, merupakan Adolf Hitler yang sedang dalam pelarian.

“Melalui perbincangan tentang masa lalunya dan ciri-ciri fisik, saya semakin yakin Poch bukan orang sembarangan. Saya curiga dialah Adolf Hitler yang selama ini misterius. Apalagi dia ditemani seorang perempuan yang menurut saya mirip Eva Braun, kekasihnya. Akan tetapi keyakinan ini saya pendam sangat lama”, demikian kata dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut. Keyakinan Sosrohusodo muncul kembali setelah lebih dari dua puluh tahun kemudian ia menemukan informasi baru tentang Hitler.

Dari perjumpaannya dengan Poch, Sosrohusodo mengetahui kaki kiri Dokter Jerman itu tidak normal. Jika berjalan harus diseret, sementara tangan kirinya selalu gemetar. Ciri-ciri serupa ditemukan dalam laporan Heinz Linge, bekas pembantu Hitler. “Beberapa alinea dalam laporan itu membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali. Sebab disitu ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri Dokter tua asal Jerman itu. Apalagi setelah saya membaca buku biografi Hitler, semuanya ada kesamaan” ucap Sosrohusodo.

Heinz Linge menulis “Beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa Fuhrer sejak saat itu kalau berjalan menyeret kakinya, yaitu kaki kiri”. Selain itu tangan kirinya pun mulai gemetar ketika Jerman menderita kekalahan di Stalingrad, dan ia mendapat kesukaran untuk mengatasi tangannya yang gemetar itu. Pada akhir artikel, Linge menulis “Tetapi aku bersyukur bahwa mayat dan kuburan Hitler tidak pernah ditemukan”. Dalam percakapan antara Sosrohusodo dengan Poch, lelaki tua yang gemar memotret itu mengeluhkan tentang tangan kirinya yang gemetar. Sosrohusodo kemudian meminta izin untuk memeriksa saraf ulnarisnya, ternyata tidak ada kelainan.

dr. Poch bersama Sulaesih, istri asal Indonesia

Saat itu Sosrohusodo menyimpulkan kemungkinan Hitler hanya menderita parkinson, berkaitan dengan usianya yang lanjut. Jika benar G.A. Poch adalah Hitler, maka pada saat bertemu Sosrohusodo ia telah berusia 60 tahunan. Sebab Hitler lahir pada tahun 1889. Hal lain yang membuat Sosrohusodo heran ternyata Poch tidak memiliki ijazah kedokteran maupun lisensi apa pun terkait dunia medis. Namun nyatanya ia bisa memimpin sebuah rumah sakit di Indonesia.

Sehari-hari Poch membungkus tubuhnya dengan seragam berwarna putih, pakaian khas dunia kedokteran. Sebagai seorang dokter, Sosrohusodo pernah memancing Poch dengan percakapan seputar dunia kesehatan. “Poch ternyata tidak menguasai dunia medis, saya tahu itu. Dari pembicaraanya, dia tidak mengerti soal kedokteran. Ini makin misterius saja. Tentu tidak sembarang orang bisa menjadi pemimpin salah satu lembaga penting seperti itu” kata Sosrohusodo.

Pada suatu kesempatan Sosrohusodo berkunjung ke kediaman Poch, banyak hal yang dikemukakan Dokter tua itu. Poch juga mengaku tidak tahu menahu ketika ditanya tentang kematian Adolf Hitler pada tahun 1945 di Berlin. Poch seperti menghindar jika ditanya terlalu jauh sosok Hitler dan sepak terjang Nazi, demikian penuturan Sosrohusodo. Pada tahun 1965, setelah wanita Jerman yang diperkenalkan sebagai istri Poch bernama Helene Scuhrer, yang dicurigai sebagai Eva Braun kembali ke Jerman, “Hitler” Poch menikahi seorang janda asal Jawa Barat bernama Sulaesih dan masuk agama Islam.

15 Januari 1970 sekitar pukul 19.30 Poch meninggal dunia di Rumah Sakit Karang Menjangan, Surabaya, karena serangan jantung dalam usia 75 tahun. Keesokannya ia dikebumikan secara Islam di komplek pemakaman umum Ngagel Rejo, Surabaya. Dia adalah satu-satunya orang asing yang dimakamkan di pekuburan tersebut. Pada batu nisannya tertulis nama Dr. G.A. Poch dan mendapat nomor urut CC 258. Kisah “Hitler Mati di Indonesia” yang diklaim oleh Sosrohusodo ini kemudian banyak beredar lewat tulisan di sejumlah surat kabar, dan beberapa buku di Indonesia. Bahkan, ulasan tentang Poch adalah Hitler yang menyamar kerap muncul di channel youtube secara liar dan mengada-ada.

Kebenaran akan kisah ini masih dipertanyakan, sebab klaim Sosrohusodo bahwa Poch adalah Hitler lebih dikarenakan faktor mengira-ngira kecocokan keadaan kesehatan fisik Poch dengan deskripsi kesehatan fisik Hitler yang dilaporkan Heinz Linge, yakni kaki diseret dan tangan kiri gemetar, yang kemungkinan banyak dialami oleh kaum manula. Klaim lainnya yang disampaikan Sosrohusodo bahkan sama sekali tidak seperti yang lazim diketahui orang-orang terdekat Hitler mengenai kebiasaan sang Fuhrer. Apabila Poch memang Hitler, pernikahannya dengan Sulaesih merupakan suatu pertanyaan besar, karena sang Fuhrer seorang rasis dan memandang rendah orang kulit berwarna.

Laporan Sosrohusodo lainnya menyebutkan bahwa Poch menyantap menu telur mata sapi saat mengunjungi keluarga istri barunya di Sukabumi, cukup aneh. Mengingat Hitler adalah seorang vegetarian murni, yang bahkan jarang sekali menoleransi orang-orang menyantap produk hewani di dekatnya. Bahkan rute pelarian Hitler yang diklaim diperoleh Sosrohusodo dari buku peninggalan Poch yang diberikan Sulaesih benar-benar menggelikan. Pernyataan bahwa rute pelarian Hitler-Poch dari Jerman ke Roma adalah melewati Salzburg, Grasz dan Tapelwates di Austria lalu ke Beograd dan Sarajevo di Yugoslavia sangat ganjil.

Rute tadi bukan hanya harus berputar sangat jauh, Austria dan Italia memiliki perbatasan langsung. Sedangkan provinsi Serbia dan Bosnia dimana Beograd dan Sarajevo terletak di Yugoslavia tidak memiliki perbatasan langsung dengan Italia. Termasuk Yugoslavia, menjelang dan setelah akhir perang bukanlah wilayah yang bersahabat bagi para pelarian Jerman, karena rezim komunis Tito sangat giat melakukan pembersihan serta penghukuman terhadap orang-orang Jerman atau mantan tentara Nazi. Jika rute tersebut menjadi jalur pelarian sang Hitler KW maka ia tidak akan pernah sampai di Indonesia. Jelas ia akan terbunuh oleh pasukan anti Jerman yang ada dimana-mana.

Pengamat anatomi wajah juga menyampaikan hasil analisanya, bahwa Adolf Hitler dan G.A. Poch merupakan sosok yang berbeda. Hal mendasar ini nampak pada daun telinga serta rahang pada kedua sosok tersebut, yang jelas-jelas tak ada unsur kemiripan. Tak ada orang yang melakukan face off atau operasi wajah demi menyembunyikan identitasnya dengan mengubah daun telinga serta tulang rahang bagian bawah secara total, sebab ini sangat beresiko, kecuali pada trauma berat yang terjadi di bagian wajah dan kepala akibat kecelakaan fatal.

Makam dr. Poch saat dikunjungi tim Surabaya Historical di Ngagel, Surabaya

Pada tahun 1980-an bisa dikatakan ilmu dan peralatan forensik di Amerika telah lebih maju dari Indonesia, termasuk alat penguji DNA yang dimiliki negara adidaya tersebut. Jika seandainya Poch adalah Hitler maka agen rahasia Amerika beserta sekutunya, Simon Weisenthal yang khusus memburu bekas anggota Nazi mungkin lebih dulu mengendus, atau berinisiatif membongkar makam Poch di Surabaya untuk memeriksa keabsahannya. Saat itu sangat mudah bagi Amerika melobi pemerintah Indonesia untuk melakukan pembongkaran makam yang diduga Hitler tadi. Nyatanya pada periode tersebut dan sesudahnya tak pernah ada penelitian yang mendalam tentang Poch oleh Amerika beserta sekutunya.

Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa kisah “Hitler Mati di Indonesia” dan dikuburkan di Surabaya hanyalah sebuah kisah isapan jempol belaka, yang didasari oleh dugaan-dugaan, mengingat Sosrohusodo hanya berusaha menebak-nebak kecocokan antara Dr. Poch yang dikenalnya dengan serangkaian artikel mengenai Hitler dan para pelarian Nazi yang dibacanya dari majalah. Bukti makam Dr. Poch belum cukup untuk membuktikan bahwa dia adalah sang Fuhrer, begitu juga dengan pengakuan lisan dari seseorang. Akan lebih meyakinkan apabila ada kecurigaan bahwa Poch adalah salah satu anggota Nazi yang dicari-cari. Sebab dahulu partai Nazi juga mempunyai biro dan cabang di Hindia Belanda. Namun tentu ini kisah lain yang harus didalami kebenarannya melalui riset akademis dari berbagai disiplin ilmu. Demikian sepenggal kisah Dokter Poch sosok yang disangka Adolf Hitler. (cs/ts/shc)