Masa muda Bung Karno juga diwarnai perkelahian ? Wah alangkah anehnya, dia yang begitu mencintai keindahan ternyata juga bisa berkelahi. Ketika kecil, Sukarno yang semula diberi nama Kusno dan lahir di Surabaya ini seperti anak-anak pada umumnya. Tapi bukan berarti keistimewaan Sukarno cilik tidak ada. Beberapa kisah yang dituturkan oleh kerabatnya mengatakan, Sukarno itu anak pemberani dan doyan berkelahi. Tidaklah heran bila suatu hari Karno pulang dengan muka yang bengkak-bengkak.

Hebatnya lagi, Karno kalau berkelahi jarang kalah meskipun tidak pernah diajarkan bela diri. Keunggulan Sukarno kecil menghadapi lawan-lawannya barangkali karena keberaniannya. Sifat pemberani itu sebenarnya merupakan warisan dari leluhurnya. Baik dari ayahnya maupun ibunya. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai keturunan bangsawan Bali yang tercatat dalam sejarah sebagai orang yang anti penjajahan. Moyangnya gugur dalam Perang Puputan, suatu peperangan yang terkenal dalam sejarah Indonesia. Raja Singaraja yang terakhir adalah paman dari ibunda Sukarno.

Ketika bersekolah di HBS Surabaya, Karno pernah menggemparkan sekolahannya. Dari 300 murid hanya sekitar 20 orang saja yang Bumiputera atau bangsa Indonesia, selebihnya adalah anak-anak Belanda dan Eropa. Anak-anak Belanda tersebut selalu menunjukkan sikap sentimen kepada anak-anak Indonesia, lebih-lebih terhadap Sukarno yang lebih menonjol daripada anak-anak Bumiputera lainnya.

Suatu hari ketika Sukarno masih menjadi siswa baru, seorang anak Belanda berpakaian rapi dengan celana baru, putih dan kaku mengangkangi Sukarno. “Menyingkir dari jalanku anak inlander ?” bentak anak Belanda itu pada Sukarno yang tidak mau mengalah. Dan sebelum Sukarno menyahut atau memberikan reaksi, tangan anak muda Belanda itu melayang meninju hidung Sukarno. Sebenarnya kejadian seperti ini sering terjadi di sekolah-sekolah Belanda.

Sudah menjadi kebiasaan anak-anak muda Belanda memukuli pelajar Bumiputera, mereka senang sekali melihat hidung seorang Bumiputera berdarah. Dan biasanya anak-anak Bumiputera lebih memilih diam, mengalah dan pergi. Tapi lain yang terjadi ketika peristiwa ini menimpa diri Sukarno. Begitu dia kena pukul dan hidungnya berdarah, Sukarno mengamuk. Dia menerjang seperti banteng ketaton. Perkelahian pun terjadi dan menggemparkan seluruh sekolah. Sukarno membuat kejutan baru, karena peristiwa tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya, bahwa anak-anak Bumiputera tidak bisa diremehkan. Dia melawan ketika dipukul seorang pelajar Belanda. Sejak peristiwa tersebut anak-anak muda Belanda lebih berhati-hati terhadap Sukarno dan Bumiputera lainnya. (cs/shc)